BANGKAPOS.COM - Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) rute Yogyakarta–Makassar dilaporkan hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).
Perkembangan terbaru, TNI mendeteksi adanya titik api di kawasan pegunungan karst Gunung Bulusaraung usai melakukan pemantauan udara.
Temuan ini diperkuat laporan warga yang mengaku mendengar suara ledakan dan melihat kobaran api, sehingga memicu pengerahan ratusan personel gabungan TNI, Basarnas, dan kepolisian untuk mempercepat pencarian di tengah medan berat dan cuaca buruk.
Baca juga: Harga BBM Terbaru Januari 2026 Turun, Pertamax hingga Dex Lebih Murah di Seluruh Indonesia
Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, menyampaikan perkembangan terbaru terkait Pesawat ATR 42-500 yang dilaporkan hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros.
Pesawat dengan rute Yogyakarta–Makassar tersebut dilaporkan kehilangan kontak sekitar pukul 13.00 Wita.
Ia mengungkapkan, TNI telah mengerahkan unsur udara dan darat untuk melakukan pemantauan serta pencarian.
“Pesawat ATR 400 yang hilang kota di wilayah Maros sebagai informasi bahwa kita sudah mengeluarkan tim dari TNI-AU yaitu tim Heli Caracal,” katanya, Sabtu (17/1/2026).
Menurutnya, dari hasil pemantauan awal menggunakan unsur udara, tim telah mendeteksi adanya indikasi di lokasi tertentu.
“Tadi sepertinya sudah bisa memonitor bahwa di daerah Gunung kecamatan Leang-Leang, Kabupaten Maros itu sudah melihat adanya api,” ungkapnya.
Temuan tersebut kemudian dicocokkan dengan laporan masyarakat sekitar.
“Ini kalau kita cross-check dengan apa yang dilaporkan oleh masyarakat, bahwa masyarakat juga melihat, disitu suara ledakan dan bisa juga masyarakat yang merekam juga ada titik api,” ujarnya.
Pangdam berharap titik api tersebut merupakan petunjuk utama lokasi jatuhnya pesawat.
“Mudah-mudahan titik inilah yang menjadi lokasi jatuhnya pesawat ATR 400, karena sekarang sedang melaksanakan pemantuan terus namun masih terhalang karena kondisi cuaca yang kurang bagus, disitu ada pergerakan awan yang mungkin menghalangi pandangan,” jelasnya.
Selain pengerahan unsur udara, TNI juga menggerakkan pasukan darat dari berbagai satuan.
“Kemudian kedua, kita juga sudah mengerakkan tim darat baik itu yang dilakukan oleh jajaran Kodam XIV Hasanuddin, Paskas kemudian dari jajaran Kostra juga,” kata dia.
Ia menambahkan, setelah lokasi jatuhnya pesawat dapat dipastikan, pembagian sektor pencarian akan segera dilakukan.
“Harapan kita nanti setelah tahu lokasinya kita nanti akan langsung membagi daerah agar efisien dan efektif untuk pencarian yang pertama,” katanya.
TNI juga telah menyiapkan perlengkapan untuk mendukung proses evakuasi mengingat kondisi medan yang berat.
“Yang kedua kita juga sudah siapkan peralatan yang memungkinkan untuk memudahkan dalam rangka untuk evakuasi, mengingat di daerah ini adalah pegunungan kars yang kita tahu bahwa kondisinya hutan lebat dan cukup terjang,” ujarnya.
Dalam mendukung operasi di lapangan, ambulans juga telah disiagakan.
Selain itu, tim komunikasi dengan perangkat khusus turut diterjunkan untuk mengatasi kendala jaringan.
“Kemudian yang kedua, kita juga menggerakkan tim komunikasi sekarang tim yang membawa alat komunikasi, karena disana komunikasinya cukup sulit saya agak hubungan dengan Dandim yang ada di depan itu cukup sulit sehingga nanti kita akan mengadakan alat komunikasi satelit yang bisa memudahkan untuk pengendalian kegiatan operasi pencarian dan penyelamatan,” jelasnya.
Data manifest penerbangan pesawat ATR 400 milik Indonesia Air Transport (IAT) rute Yogyakarta–Makassar yang hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, akhirnya dirilis, Sabtu (17/1/2026).
Total penumpang tercatat mencapai 11 orang di dalam pesawat ini.
Berdasarkan manifest yang beredar, pesawat tersebut membawa delapan kru penerbangan dan tiga penumpang.
Delapan kru penerbangan terdiri atas Kapten Andy Dahananto selaku pilot, First Officer Yudha Mahardika, serta enam awak lainnya, yakni Sukardi, Hariadi, Franky D. Tanamal, Junaidi, Florencia Lolita sebagai awak kabin, dan Esther Aprilita S. yang juga bertugas sebagai awak kabin.
Sementara itu, tiga penumpang yang tercatat dalam manifest masing-masing bernama Deden, Ferry, dan Yoga.
Hingga saat ini, tim SAR gabungan masih terus melakukan upaya pencarian di sekitar lokasi last contact pesawat yang berada di kawasan perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep.
Sebanyak 10 orang berada di dalam pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang dilaporkan hilang kontak saat terbang dari Yogyakarta menuju Makassar, Sabtu (17/1/2026).
Dari jumlah tersebut, 7 orang merupakan awak pesawat dan 3 lainnya penumpang.
Hal ini disampaikan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dalam holding statement resminya.
Pesawat dengan registrasi PK-THT itu dilaporkan kehilangan komunikasi setelah menerima arahan terakhir dari Air Traffic Control (ATC) Makassar Area Terminal Service Center (MATSC).
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menjelaskan pesawat jenis ATR 42-500 buatan tahun 2000 tersebut dipiloti oleh Capt Andy Dahananto dan sedang melakukan pendekatan ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.
“Dalam proses pendekatan ke landasan pacu RWY 21, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, sehingga ATC memberikan arahan koreksi posisi,” ujar Lukman.
ATC kemudian menyampaikan beberapa instruksi lanjutan agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur.
“Namun setelah penyampaian arahan terakhir, komunikasi dengan pesawat terputus dan dinyatakan loss contact,” jelasnya.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, ATC Makassar langsung mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase) dan berkoordinasi dengan Basarnas serta aparat kepolisian.
AirNav Indonesia Cabang MATSC juga segera menghubungi Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat dan Polres Maros untuk mendukung proses pencarian dan pertolongan.
Sebagai langkah lanjutan, pencarian difokuskan di wilayah pegunungan kapur Bantimurung, Desa Leang-leang, Kabupaten Maros, yang sekaligus dijadikan lokasi pendirian posko Basarnas.
Pencarian lanjutan direncanakan melibatkan helikopter TNI Angkatan Udara bersama Basarnas, yang dijadwalkan terbang pada pukul 16.25 Wita.
Sementara itu, pihak Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar telah menyiapkan Crisis Center di Terminal Keberangkatan sebagai pusat koordinasi informasi.
Area pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) rute Yogyakarta–Makassar diperluas, Sabtu (17/1/2026).
Pesawar ini awalnya terakhir kontak di Kelurahan Leang-leang Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Perluasan area pencarian dilakukan setelah diterimanya laporan dari masyarakat terkait penemuan serpihan di Puncak Gunung Bulusarang, Kabupaten Pangkep.
"Namun kami belum bisa memastikan apakah serpihan tersebut adalah ATR yang hilang kontak ini," bebernya.
Sekitar 400 personel gabungan telah diturunkan ke lokasi untuk melakukan pencarian di Bulu Saraung maupun di Leang-leang.
"Posko tetap disini, karena titik merah yang kami cek pertama, kalau kita lihat memang tersambung jalurnya dengan bulu saraung," tutupnya.
Selain penyisiran darat, pencarian juga dilakukan menggunakan drone.
“Kami sudah melakukan pencarian menggunakan drone. Selain itu, ada keterangan dari warga yang mengaku mendengar suara dengungan di sekitar lokasi,” ungkap Andi Sultan.
Namun, kondisi cuaca menjadi kendala dalam proses pencarian.
“Saat drone diterbangkan, kabut cukup tebal dan disertai hujan sehingga menghalangi jarak pandang. Kami menunggu cuaca membaik untuk kembali mendekat ke titik koordinat terakhir,” katanya.
Ia mengatakan, jarak dari posko menuju titik terakhir lost contact diperkirakan sekitar 16 kilometer dengan medan pegunungan.
“Medannya cukup berat, kawasan pegunungan, estimasi waktu tempuh sekitar dua hingga tiga jam dari posko,” ujarnya.
Selain tim darat dan drone, TNI Angkatan Udara juga ikut membantu pencarian dengan mengerahkan helikopter.
“Dari TNI AU melakukan pencarian udara menggunakan helikopter,” tambahnya
(Tribuntimur/Tribunnews)