Kecintaan pada Ski Renggut Nyawa, Perjalanan Terakhir Rylan Henry Pribadi jadi Firasat, Impian Pupus
January 18, 2026 01:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Kepergian Rylan Henry Pribadi, cucu pengusaha senior Henry Pribadi, menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Remaja berusia 17 tahun itu berpulang akibat kecelakaan ski di Jepang, meninggalkan kenangan yang tak hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang sebuah mimpi besar yang belum sempat terwujud.

Di balik kepribadiannya yang dikenal santun dan tenang, Rylan ternyata menyimpan hasrat luar biasa terhadap olahraga salju.

Kecintaan itulah yang kemudian menjadi “wasiat” tak terucap, sekaligus keinginan terakhir, sebelum kepergiannya.

Dalam suasana haru sebuah upacara peringatan, sang ayah, Reza Pribadi, mengenang putranya sebagai sosok yang menjadikan ski lebih dari sekadar hobi.

Olahraga tersebut telah menjadi bagian penting dalam hidup Rylan dan bahkan memengaruhi rencana masa depannya, terutama dalam hal pendidikan.

Baca juga: Kematian Rylan Henry Pribadi Ditangisi Penjaga Kos, Sikapnya Merakyat Meski Cucu Konglomerat

RYLAN HENRY PRIBADI - Kolase potret Rylan Henry Pribadi dan prosesi pemakamannya
RYLAN HENRY PRIBADI - Kolase potret Rylan Henry Pribadi dan prosesi pemakamannya (Instagram/@anindyabakrie)

Impian Kuliah di Jenewa Demi Mengejar Salju

Ketertarikan Rylan pada ski bukanlah hal yang muncul sesaat.

Ia mulai mengenal olahraga ini sejak usia 3 tahun dan terus menekuninya hingga mencapai level advanced.

Seiring waktu, ski tumbuh menjadi passion yang mengisi kesehariannya, mulai dari video-video yang ia tonton di YouTube hingga berbagai konten yang ia bagikan di media sosial.

Besarnya kecintaan itu membuat Rylan memiliki impian yang tak biasa bagi anak seusianya.

Ia ingin melanjutkan pendidikan ke Swiss, negara yang dikenal memiliki beberapa lereng ski terbaik di dunia.

"Dia bahkan mencoba membujuk kami untuk mengirimnya kuliah ke Jenewa agar dia bisa dengan mudah mengakses beberapa lereng ski terbaik di dunia," kenang Reza Pribadi seperti dikutip Grid.ID dari Youtube Atoe mtvm, Sabtu (17/1/2026).

Bagi Rylan, ski adalah satu-satunya aktivitas yang mampu mengalahkan kebiasaannya sulit bangun pagi.

Jika pada hari-hari biasa ia perlu dibangunkan berulang kali, suasana berbeda terjadi saat liburan ski.

Tanpa diminta, ia justru menjadi orang pertama yang terjaga, sudah berpakaian lengkap, dan siap meluncur di atas hamparan salju.

Kenangan-kenangan itulah yang kini tinggal cerita, tentang seorang remaja dengan mimpi besar, semangat tinggi, dan cinta mendalam pada salju yang menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Klarifikasi Kematian Rylan

Menanggapi simpang siur informasi mengenai penyebab kecelakaan di Niseko, Jepang, pihak keluarga memberikan klarifikasi tegas.

Reza menekankan bahwa putranya adalah remaja yang patuh dan tidak sedang melakukan tindakan berbahaya saat insiden terjadi.

"Kami ingin mengklarifikasi bahwa Rylan melakukan hal yang benar. Kami sudah melarangnya untuk bermain di luar jalur (off-piste), dan dia mematuhi itu," tegas Reza.

Meski penyebab pasti kecelakaan tersebut masih meninggalkan tanda tanya besar bagi keluarga, mereka mengaku merasa terhibur karena Rylan pergi saat sedang melakukan hal yang paling ia cintai di dunia.

Baca juga: Sosok Reza Pribadi, Konglomerat yang Baru Kehilangan Anak Lelaki Satu-satunya, Rylan Baru 17 Tahun

RYLAN HENRY PRIBADI - Kolase potret Reza Pribadi di pemakaman Rylan Henry Pribadi
RYLAN HENRY PRIBADI - Kolase potret Reza Pribadi di pemakaman Rylan Henry Pribadi (TikTok/@apaajaboleh2012)

Perjalanan Terakhir Menuntaskan Keinginan Terakhir

Seolah menjadi firasat, sesaat sebelum kepergiannya, Rylan sempat menjalani perjalanan berdua saja dengan sang ayah yang disebut sebagai 'Father-Son Trip'.

Dalam waktu 12 hari yang sangat berharga tersebut, mereka menghabiskan waktu berkualitas di Eropa.

Bukan sekadar jalan-jalan, perjalanan itu menjadi momen Rylan menuntaskan daftar keinginannya (bucket list).

Mereka mengunjungi stadion-stadion impian Rylan dan menonton klub favoritnya berlaga, mulai dari Chelsea vs Arsenal di London hingga Real Madrid vs Manchester City di Madrid.

"Seluruh perjalanan itu merangkum 17 tahun hidupnya bersama saya. Saya merasa kami memperbarui hubungan dekat yang selalu kami miliki tanpa gangguan," ungkap sang ayah.

Keikhlasan Keluarga Melepas Kepergian Rylan

Meski Rylan meninggal dunia secara mendadak, keluarga telah mengikhlaskan kepergian remaja 17 tahun tersebut.

Sang ayah juga merasa lega putranya berpulang saat melakukan hobi yang dicintainya.

"Kecelakaan Rylan bukanlah hal yang biasa terjadi dalam kecelakaan ski, dan kami akan selalu bertanya-tanya tentang bagaimana dan mengapa hal itu bisa terjadi. Namun, kami merasa terhibur karena dia pergi saat sedang melakukan apa yang paling dia cintai," tutur ayah Rylan.

"Saya akan merindukan rekan petualangan dan rekan ski saya. Tapi saya tahu, dia akan baik-baik saja di sana," tutup Reza.

(TribunTrends/Ninda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.