TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2014–2016, Sudirman Said, merespons ajakan bergabung dengan Partai Gema Bangsa.
Sudirman menegaskan bahwa ajakan itu disampaikan dalam suasana akrab dan persahabatan, serta tidak dimaknai sebagai langkah politik formal.
Ajakan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum Partai Gema Bangsa, Ahmad Rofiq, saat menyapa Sudirman dalam acara deklarasi yang digelar di Jakarta International Convention Center, Sabtu (17/1/2025).
Momen tersebut sontak disambut antusias oleh para hadirin.
Menanggapi hal itu, Sudirman menekankan bahwa komunikasi dan diskusi kebangsaan dengan para penggerak Partai Gema Bangsa telah terjalin sejak lama.
“Mas Ketua Umum hanya berseloroh. Kami sudah lama berteman dan sering berdiskusi soal-soal kebangsaan. Insya Allah komunikasi akan terus terjaga untuk saling mendukung,” kata Sudirman.
Kendati demikian, Sudirman menyampaikan apresiasi terhadap deklarasi pendirian Partai Gema Bangsa.
Dia menilai kehadiran partai politik baru sebagai sinyal positif di tengah kondisi demokrasi Indonesia yang menurutnya sedang berada dalam fase pancaroba.
Menurut Sudirman, ketika demokrasi mulai kehilangan napas aktivismenya, pembentukan partai politik oleh kalangan aktivis justru menjadi langkah yang relevan dan konstruktif.
Dia menegaskan bahwa partai politik seharusnya menjadi saluran aspirasi warga sekaligus ruang konsolidasi gagasan.
“Saat para aktivis memutuskan membentuk partai politik, itu adalah tanda-tanda baik bagi demokrasi,” ujarnya.
Baca juga: Partai Gema Bangsa Resmi Deklarasi, Usung Visi Indonesia Mandiri dan Reborn
Sudirman juga mengapresiasi inisiatif para pendiri dan penggerak Partai Gema Bangsa yang berupaya menghadirkan alternatif baru dalam politik nasional.
Dia menilai partai tersebut berpotensi menjadi agregator gagasan sekaligus ruang pencarian dan pengembangan talenta politik terbaik yang dibutuhkan bangsa.
Sudirman secara khusus menyoroti visi Partai Gema Bangsa yang menempatkan penguatan desentralisasi sebagai agenda utama.
Komitmen untuk memberi ruang lebih besar bagi tokoh-tokoh daerah, termasuk penguatan otonomi fiskal, dinilainya sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas demokrasi dan tata kelola pemerintahan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya mengembalikan meritokrasi sebagai ruh demokrasi, terutama di tengah keresahan generasi muda terhadap praktik nepotisme.
“Kaum muda saat ini sangat risau dengan gejala nepotisme yang memupus harapan mereka yang bekerja secara profesional,” katanya.
Sudirman berharap kehadiran Partai Gema Bangsa tidak sekadar menambah jumlah partai politik peserta pemilu, melainkan mampu menghadirkan pembaruan nyata dalam praktik politik, menghidupkan kembali aktivisme, serta memulihkan kepercayaan publik terhadap demokrasi.
Partai Gema Bangsa secara resmi mendeklarasikan diri sebagai kekuatan politik baru nasional. Hal tersebut bergema di Jakarta International Convention Center (JICC), Sabtu (17/1/2026), bertepatan dengan perjalanan satu tahun perjalanan Partai Gema Bangsa membangun pondasi kelembagaan partai.
Ketua Umum Partai Gema Bangsa, Ahmad Rofiq, dalam pidato deklarasinya menegaskan bahwa partai tersebut lahir dari kegelisahan dan harapan rakyat akan Indonesia yang lebih berdaulat, adil, dan bermartabat.
“Hari ini bukan sekadar deklarasi sebuah partai politik. Hari ini adalah pernyataan tekad, suara hati, dan gema perubahan,” kata Rofiq di hadapan ribuan kader dan tamu undangan, Sabtu (17/1).
Rofiq menyampaikan, dalam kurun satu tahun, Partai Gema Bangsa telah berhasil membangun struktur organisasi secara penuh di seluruh Indonesia, dengan terbentuknya 38 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) provinsi dan 514 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) kabupaten/kota.