Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yarmen Dinamika | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Banjir yang melanda berbagai wilayah di Aceh pada akhir November 2025 lalu bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri.
Bencana ini merupakan akumulasi dari kerusakan ekologis yang terus dibiarkan, terutama akibat deforestasi (penebangan hutan) yang masif dan berkepanjangan.
Hilangnya tutupan hutan telah merusak keseimbangan alam dan
menghilangkan fungsi hutan sebagai pelindung alami dari bencana hidrometeorologis.
Baca juga: Moratorium Logging, Tapi Hutan Rusak Terus
Atas dasar itu, Raja Mulkan, Juru Kampanye Hutan dan Satwa Liar Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA) menyerukan penghentian deforestasi sebagai langkah mendesak untuk memutus mata rantai bencana di Aceh.
Melalui aksi Kampanye “Stop Deforestation”, Yayasan HAkA menyuarakan peringatan bahwa kerusakan hutan hari ini akan menjadi penderitaan masyarakat di masa depan.
Seruan ini bukan hanya ditujukan kepada pemerintah dan pelaku usaha, tetapi juga
kepada seluruh lapisan masyarakat.
Baca juga: 6 Perusahaan di Sumut Digugat Rp 4,8 Triliun, Menteri LH Tegaskan Negara Tidak Boleh Diam
Menurut Raja Mulkan kepad a Serambinews.com di Banda Aceh, Minggu (17/1/2026) siang,
perlindungan hutan tidak dapat diserahkan kepada satu pihak saja.
Tanpa kesadaran kolektif dan keberanian untuk menghentikan praktik perusakan hutan, Aceh akan terus menghadapi krisis ekologis yang berulang.
Hutan Aceh, lanjut Raja Mulkan, adalah benteng terakhir hutan yang ada di Pulau Sumatra, memiliki peran strategis sebagai penyangga kehidupan, sumber keanekaragaman hayati, serta benteng alami terhadap bencana.
Kehilangan hutan berarti kehilangan perlindungan, kehilangan ruang
hidup, dan kehilangan masa depan.
Oleh karena itu, pembangunan tidak boleh lagi
mengorbankan hutan, dan kebijakan yang melemahkan perlindungan lingkungan harus
dihentikan.
Baca juga: Warga Jangka-Bireuen Bertahan di Tenda Pengungsian, Korban Banjir Berharap Bantuan Jelang Ramadhan
Raja Mulkan menambahkan, meski Aceh punya hutan terluas di Pulau Sumatra, itu bukan jaminan daerah ini bebas dari bencana hidrometeorologis.
Faktanya, sekitar 47 persen daratan Aceh berada di wilayah dengan lereng curam hingga sangat curam.
Sebagai bahan refleksi, Raja juga mengajukan pertanyaan, “Apakah bencana banjir yang kita alami sanggup mencegah manusia untuk tidak merusak hutan lagi ?”
Momentum banjir yang terjadi saat ini, lanjut Raja, seharusnya menjadi titik balik untuk menata ulang hubungan manusia dengan alam.
Yayasan HAkA mengajak semua pihak untuk melihat hutan bukan sebagai komoditas semata, tetapi sebagai penentu keselamatan dan keberlanjutan hidup bersama.:(*)
Baca juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini Minggu 18 januari 2026: UBS dan Galeri24 Mulai Turun, Antam Stabil