Harga Daging Babi di Pasar Towoe Sangihe Tembus Rp 110 Ribu, Keterlambatan Kapal Dikeluhkan Pedagang
January 18, 2026 02:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Harga daging babi di Pasar Towoe, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Minggu (18/1/2025)

Saat ini, harga daging babi segar dijual dengan kisaran Rp110.000 per kilogram, sementara tulang babi dibanderol Rp90.000 per kilogram.

Menurut salah satu pedagang daging babi, Nonce, perbedaan harga juga terlihat pada sistem pengambilan barang.

Untuk pengambilan dari Manado, harga daging berada di angka Rp90.000 per kilogram.

Sedangkan pengambilan langsung di Tahuna bisa mencapai Rp55.000 per kilogram. 

Namun, kondisi tersebut tidak selalu menguntungkan pedagang lokal.

“Kendala utama kami adalah pasokan dari Manado. Biasanya daging yang sudah terjual di Manado baru dikirim ke Tahuna, sehingga kualitas dan ketersediaannya kadang tidak menentu,” ujar Nonce saat ditemui di Pasar Towo’e.

Selain itu, masalah transportasi laut juga menjadi tantangan serius.

Jadwal kapal yang sering terlambat pada hari Jumat dan Minggu sering mengalami keterlambatan masuk ke Tahuna.

Hal ini disebabkan kapal harus singgah terlebih dahulu di Pulau Siau, sehingga tiba terlambat di Tahuna dan berdampak pada distribusi daging.

“Kalau kapal terlambat, otomatis barang juga ikut terlambat sampai. Ini berpengaruh pada penjualan dan kualitas daging,” tambahnya.

Dari sisi pembeli, kondisi pasar terpantau cukup ramai.

Jumlah pembeli dinilai lebih banyak dibandingkan hari-hari biasa yang cenderung sepi.

Meski harga relatif tinggi, kebutuhan masyarakat akan daging babi masih cukup besar.

Untuk biaya tambahan, pedagang juga harus menanggung ongkos bongkar muat di kapal yang mencapai Rp150.000 per boks.

Biaya ini turut memengaruhi harga jual di tingkat pasar.

Pedagang berharap ke depan distribusi kapal laut bisa lebih lancar dan tepat waktu, sehingga pasokan daging babi ke Tahuna dapat terjaga dengan baik dan harga di pasar lebih stabil.

Faktor Keterlambatan Kapal

Sementara dari sisi pihak kapal komersil yang melayani pelayaran ke daerah kepulauan di Sulawesi Utara, keterlambatan berlayar terjadi disebabkan beberapa faktor. 

Keterlambatan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor teknis dan operasional di lapangan.

Faktor pertama berkaitan dengan sistem pendokumentasian daring (online).  

Kondisi cuaca sangat memengaruhi stabilitas jaringan.  

Saat terjadi gangguan cuaca, sistem daring sering bermasalah.

Dokumen harus diunggah terlebih dahulu untuk diperiksa kelengkapannya oleh pihak berwenang sebelum diinput.

Alur birokrasi ini memakan waktu karena dokumen harus dikirim dan diperiksa secara bolak-balik sebelum akhirnya Surat Persetujuan Berlayar (SPB) diterbitkan oleh Syahbandar. 

Selain kendala sistem, faktor kedua yang menjadi penghambat utama adalah distribusi bahan bakar minyak (BBM).  

Sering terjadi keterlambatan pasokan BBM dari Pertamina. 

"Hampir setiap keberangkatan terkendala pasokan BBM. Padahal, pemeriksaan pertama dari Syahbandar adalah bagian bunker (tempat penyimpanan BBM). Setelah aspek tersebut dinyatakan siap, barulah dokumen lainnya diperiksa dan SPB dikeluarkan," terang Alva, salah seorang Direktur di perusahaan Kapal Komersil. 

Ia menegaskan bahwa situasi ini di luar kendali perusahaan, mengingat seluruh pelayaran komersial di wilayah tersebut bergantung pada BBM subsidi.  

"Kondisi keterlambatan karena BBM ini dirasakan oleh seluruh operator kapal komersial lainnya," pungkas dia. 

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

 

 


 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.