Tangis Mukhsin Pecah saat Ceritakan Kebiasaan Deden Korban Kecelakaan Pesawat di Maros
January 18, 2026 03:32 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tangis Mukhsin pecah saat mengenang kebiasaan anak sulungnya, Deden Maulana, yang selalu berpamitan dan meminta doa sebelum berangkat dinas.

Namun, kebiasaan itu tak terjadi sebelum Deden dikabarkan menjadi salah satu penumpang Pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Saat ini Deden Maulana bersama istri dan seorang anaknya tinggal di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sementara Mukhsin tinggal di Bandung, Jawa Barat.

Namun, seperti halnya pertanda sebelum kepergian selamanya, pada Sabtu (17/1/2026) kemarin, Mukhsin tidak menerima kabar apapun dari Deden yang sebenarnya melakukan perjalanan dinas ke Sulawesi Selatan.

Kabar kepergian Deden ke Sulawesi Selatan itu justru didapat Mukhsin secara menyedihkan, sang anak masuk dalam daftar penumpang pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT yang hilang kontak di Pegunungan Bulusaraung, Maros.

"Biasanya kalau dia (Deden) mau berangkat dinas itu suka bilang minta didoain," kata Mukhsin seraya menangis saat ditemui di kediaman Deden Maulana, di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (18/1/2026).

Kata Mukhsin, tak ada kabar apapun dari anak sulungnya itu sebelum kabar menyedihkan itu diterima dirinya.

"Gak ada kabar, saya tahu kabarnya udah begitu (pesawatnya hilang kontak)," ucap dia dengan kedua matanya yang makin memerah.

Dalam ingatannya, Mukhsin terakhir kali mendapat kabar dari Deden pada Kamis (15/1/2026) lalu.

Saat itu, Deden menyampaikan kabar kepada Mukhsin soal adanya anggota keluarga yang ingin melakukan check up kesehatan di Garut.

"Kemarin hari kamis lah tanggal berapa ya, kamis kemarin sempat wa-an, jadi dia ngasih tau kalau mamahnya udah pulang ke Garut mau kontrol gitu," ucap dia.

Kabar itu seakan menjadi yang terakhir kali didapatkan oleh Mukhsin dari anak sulung kesayangannya.

Belum Pasang Bendera Kuning

Kini, dirinya justru menunggu kabar dari tim SAR dan tim gabungan yang sedang mencari tubuh Deden di area pegunungan Bulusaraung.

Harapan agar anaknya bisa segera ditemukan terucap dari mulut pria tersebut.

"Ya mudah-mudahan ada keajaiban dari Allah, bisa segera ditemukan," ucap lirih Mukhsin.

Salah satu bentuk pengharapan pihaknya kata Mukhsin, keluarga hingga kini belum memasang bendera kuning tanda adanya kematian di sekitaran rumah duka Deden.

Berdasarkan pantauan Tribunnewscom di lokasi, hingga Minggu (18/1/2026) pukul 13.17 WIB memang tidak terlihat satupun bendera kuning terpasang dengan nama Deden Maulana bin Mukhsin di sepanjang jalan menuju kediaman Deden.

Terlihat, hanya ada tenda terpal berukuran 5x5 berwarna hijau yang terpasang di depan rumah Deden.

Puluhan bangku plastik juga sudah mulai dipasang guna memberikan fasilitas duduk untuk para tetangga dan kerabat Deden yang ingin memberikan doa.

Kata Mukhsin, belum dipasangnya bendera kuning di siang ini karena pihaknya masih menunggu kepastian soal kabar sang anak dari tim SAR dan tim gabungan yang sedang melakukan pencarian di lokasi jatuhnya pesawat ATR yang ditumpangi Deden.

"Iyah itu (belum dipasang bendera kuningnya), makanya warga di sini belum berani pasang karena belum ada kepastian yang pastinya gimana," tandas dia.

Pesawat Hilang Kontak 

Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT dilaporkan bertolak dari Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Kontak dengan pesawat dilaporkan hilang saat melintas di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 13.17 Wita.

Pesawat tersebut mengangkut 10 orang, terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang. Pilot in command adalah Capt Andy Dahananto.

Baca juga: Pengakuan Petinggi IAT, Akui Mesin Pesawat ATR 42-500 Bermasalah Sehari sebelum Jatuh

Direktur Utama PT Indonesia Air Transport, Tri Adi Wibowo, menegaskan jumlah kru di dalam pesawat hanya tujuh orang ditambah tiga orang pegawai Kementerian KP termasuk Deden Maulana sekaligus meluruskan informasi simpang siur yang sempat beredar.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.