Harap-harap Cemas, Keluarga Pegawai KKP Inginkan Keajaiban usai Pesawat ATR Jatuh di Maros
January 18, 2026 04:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Harap-harap cemas menyelimuti keluarga para pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) setelah pesawat ATR 42-500 yang ditumpangi orang-orang tercinta dinyatakan hilang kontak di wilayah Maros, Sulawesi Selatan.

Di tengah ketidakpastian, keluarga masih menggenggam harapan akan adanya keajaiban, meski kabar menyebut pesawat tersebut akhirnya menabrak Gunung Bulusaraung.

Kecemasan mendalam dirasakan keluarga Deden Maulana di Jakarta Selatan serta keluarga Ferry Irawan di Bekasi.

Sejak kabar hilangnya pesawat diterima, suasana duka dan kegelisahan menyelimuti kedua rumah tersebut. 

Baca juga: Enggan Pasang Bendera Kuning, Keluarga Ferry Irawan Penumpang Pesawat ATR 42-500: Menanti Keajaiban!

Tangis, doa, dan penantian panjang menjadi bagian dari hari-hari mereka, sembari berharap kabar baik datang dari lokasi pencarian.

Pesawat ATR 42-500 yang mengalami insiden tersebut diketahui membawa sejumlah penumpang, termasuk tiga pegawai KKP, yakni Deden Maulana, Ferry Irawan, dan Yoga. Ketiganya tercatat dalam manifes penerbangan yang kini menjadi perhatian banyak pihak.

Sementara itu, tim SAR gabungan masih terus berupaya melakukan pencarian dan evakuasi di area Gunung Bulusaraung.

Medan yang sulit serta kondisi geografis pegunungan menjadi tantangan tersendiri dalam proses penyelamatan.

Di tengah upaya tersebut, keluarga para korban terus menanti dengan penuh kecemasan, menggantungkan harapan pada setiap perkembangan informasi yang masuk.

Tragedi ini bukan hanya menjadi duka bagi keluarga korban, tetapi juga menyentuh hati banyak pihak yang turut mendoakan agar para penumpang segera ditemukan dan diberikan kejelasan atas nasib mereka.

Senyum Terakhir Deden Maulana

Deden Maulana, salah satu pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), hingga kini masih dalam pencarian setelah pesawat ATR milik Indonesia Air Transport (IAT) yang ditumpanginya dilaporkan hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).

Pantauan Wartakotalive.com, suasana duka menyelimuti rumah Deden di Jalan Mesir II RW 10, Kelurahan Pasar Minggu, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

PESAWAT ATR JATUH - Ferry Irawan, penumpang pesawat ATR 42-500 hilang kontak dan jatuh di Maros.
PESAWAT ATR JATUH - Ferry Irawan, penumpang pesawat ATR 42-500 hilang kontak dan jatuh di Maros. (Tribun Trends/DOK. INDONESIA AIR TRANSPORT & Tribun Bekasi/ Muhammad Azzam/)

Sejak Minggu (18/1/2026) pagi sekitar pukul 09.00 WIB, kerabat dan teman dekat mulai berdatangan untuk memberikan dukungan moril kepada keluarga.

Ayah mertua Deden, Rahmat, tampak berdiri di depan gang rumah dengan raut wajah penuh kesedihan.

Ia mengenang pertemuan terakhir dengan menantunya yang terjadi tiga hingga empat hari sebelum kabar pesawat hilang diterima keluarga.

“Terakhir ketemu agak aneh. Biasanya dia langsung masuk rumah. Kemarin dia cuma mengucap salam, saya tanya ada apa, dia cuma senyum,” ujar Rahmat dengan mata berkaca-kaca.

Rahmat mengetahui kabar Deden hilang dalam pesawat ATR rute Yogyakarta–Makassar pada Sabtu sore. Hingga Minggu pagi, ia mengaku belum menerima informasi terkait penemuan jasad menantunya.

Deden meninggalkan seorang istri dan seorang anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun yang masih duduk di bangku kelas VI sekolah dasar. Keluarga berharap Deden segera ditemukan agar dapat dimakamkan secara layak.

“Orangnya baik, sayang keluarga. Kami dapat kabar dari KKP ada tiga pegawai di pesawat itu, salah satunya menantu saya,” ucap Rahmat.

Sementara itu, Ketua RW 10, Syarif Usman, menyebut Deden dikenal aktif dan peduli lingkungan di tempat tinggalnya. Ia terakhir bertemu Deden pada Jumat (16/1/2026) pagi saat yang bersangkutan hendak berangkat tugas ke luar kota.

“Kalau ada kerja bakti atau kegiatan warga, dia selalu ikut. Bahkan sempat mengusulkan perbaikan CCTV lingkungan,” kata Syarif.

Rumah Orang Tua Ferry Irawan Dipasang Tenda, Keluarga Masih Berharap Keajaiban

Rumah orang tua Ferry Irawan, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mulai dipasang tenda pada Minggu (18/1/2026).

Ferry merupakan salah satu penumpang pesawat ATR 42-500 yang dikabarkan jatuh di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026) siang.

Pantauan di lokasi, rumah duka Ferry berada di Jalan H Kunen, RT 04 RW 05, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Meski tenda telah terpasang untuk menampung keluarga dan pelayat yang berdatangan, pihak keluarga belum memasang bendera kuning sebagai tanda duka.

Keluarga memilih tetap menaruh harapan besar agar Ferry Irawan dapat ditemukan dalam keadaan selamat.

“Keluarga masih menunggu informasi resmi dari pihak berwenang,” ujar Tohorin (50), kerabat Ferry.

Harapan serupa juga disampaikan kakak Ferry, Widya Astuti. Ia mengungkapkan komunikasi terakhir dengan sang adik dilakukan pada Sabtu pagi sekitar pukul 09.30 WIB. Saat itu, Widya mengirim pesan berisi rencana liburan keluarga ke kawasan Puncak, Bogor.

“Saya kirim foto anak-anak, bilang mau ke rumah Bogor, tapi dia tidak membalas,” kata Widya. Ia sempat kembali mengirim video aktivitas anak-anak Ferry sekitar pukul 10.30 WIB, namun pesan tersebut tidak terkirim. Keluarga menduga saat itu Ferry sudah berada di dalam pesawat.

Widya menyebut, Ferry memang rutin menjalankan tugas pengawasan udara hampir setiap pekan sebagai bagian dari pekerjaannya di KKP.

Sementara itu, istri Ferry, Meyla Eskaria Putri, mengaku sempat melakukan panggilan video singkat dengan suaminya sebelum kabar jatuhnya pesawat diterima keluarga.

“Sempat video call. Dia pesan ke anaknya supaya makan banyak, karena anak saya susah makan,” ujar Meyla.

Hingga kini, keluarga besar Ferry Irawan di Bekasi masih menanti kabar resmi terkait nasib Ferry, seraya berharap adanya keajaiban di tengah proses pencarian yang terus dilakukan tim gabungan.

SOSOK CAPT ANDY DAHANANTO
SOSOK CAPT ANDY DAHANANTO (Kolase FB Capt Andy Dahananto/DOK INDONESIA AIR TRANSPORT)

Tiga Serpihan Besar Pesawat ATR IAT Ditemukan di Gunung Bulu Maros, Tim SAR Fokus Cari Korban

Tim SAR gabungan menemukan tiga serpihan besar pesawat ATR 400 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Gunung Bulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ketiga serpihan tersebut berupa jendela, badan pesawat, dan ekor pesawat.

Penemuan dilakukan pada Minggu (18/1/2026) sekitar pukul 08.02 Wita. Informasi itu disampaikan langsung oleh Kepala Basarnas Sulawesi Selatan, Muhammad Arif Anwar, dalam konferensi pers di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

“Sampai saat ini, tim baru menemukan jendela pesawat, badan pesawat, dan ekor pesawat,” kata Arif.

Selain tiga serpihan utama, tim SAR juga menemukan banyak serpihan kecil yang tersebar di sejumlah titik. Menurut Arif, lokasi temuan tidak berada di satu area terpusat, melainkan berpencar akibat benturan keras saat pesawat jatuh.

“Ditemukan di tempat yang berbeda-beda, tidak satu tempat,” ujarnya.

Arif menjelaskan, proses pencarian menghadapi kendala medan yang sangat terjal serta cuaca ekstrem di lokasi kejadian. Meski demikian, tim SAR gabungan tetap memprioritaskan pencarian korban.

“Yang kami utamakan saat ini adalah pencarian korban. Mudah-mudahan masih ada yang bisa dievakuasi dalam keadaan selamat,” ucapnya.

Dalam operasi pencarian, tim SAR mengombinasikan penyisiran darat dan udara. Untuk pencarian udara, dikerahkan Helikopter Caracal serta pesawat Boeing milik TNI Angkatan Udara.

Sementara pencarian darat melibatkan sekitar 1.200 personel dari berbagai unsur instansi.

Dari unsur Basarnas sendiri, Arif menyebut pihaknya membagi personel ke dalam empat Search and Rescue Unit (SRU) yang menyebar ke empat titik pencarian berbeda.

“Kami membagi empat SRU dan empat titik pencarian melalui penyapuan darat, agar tidak ada korban yang terlewatkan,” katanya.

Sebelumnya, pesawat ATR 400 milik Indonesia Air Transport (IAT) rute Yogyakarta–Makassar dilaporkan hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros pada Sabtu (17/1/2026).

Pesawat tersebut membawa total 10 orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang.

Tujuh kru pesawat masing-masing adalah Kapten Andy Dahananto selaku pilot, FOO Hariadi, EOB Restu Adi, DOB Dwi Murdiono, serta tiga awak kabin Florencia Lolita, Esther, dan Aprilita S. Adapun tiga penumpang yakni Deden, Ferry, dan Yoga.

Hingga kini, proses pencarian dan evakuasi masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan.

(TribunTrends.com/Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.