Haji Agus Salim Akan Membakar Indonesia Jika Diberikan Kembali Ke Belanda
Moh. Habib Asyhad January 18, 2026 03:34 PM

Haji Agus Salim adalah tokoh bangsa yang berpendirian teguh. Lebih baik makan kerikil daripada Indonesia kembali ke Belanda. Dan jika itu terjadi, dia akan membakar negaranya.

Artikel ini dioleh dari tulisan berjudul "Haji Agus Salim" tayang di Majalah HAI edisi Februari-Maret 1984

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Diledek bagai kambing, karena berjenggot, dia ganti meledek lawannya sebagai anjing. Lebih suka makan kerikil dibanding roti Belanda. Ratu Elizabeth pernah dibuat blingsatan karena kreteknya. Pidato pertama dalam bahasa Indonesia di Volksraad.Memakai metode "kuda meringkik" dalam menanamkan kepercayaan diri, terutama dalam bidang pendidikan anak-anaknya.

Dialah Haji Agus Salim.

Dunia mengenalnya sebagai politikus, wartawan, pengarang, ulama, ahli pikir Islam, ahli bahasa dan berbagai predikat lain. Agus Salim memang bukan sekedar tokoh pemimpin biasa, tetapi manusia besar Indonesia yang sejarah hidupnya tak dapat dipisahkan dari sejarah dan perjuangan pergerakan nasional dan kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno pernah mengatakan; The Grand Old Man Agus Salim adalah ulama intelek. Dia tidak hanya dikenal di dalam negeri. Dulu Agus Salim hanya milik Indonesia. Setelah melawat ke dunia Islam, orang Islam bilang dia seorang muslim milik bersama yang kebetulan lahir di Indonesia. Dan setelah hadir di PBB orang berkomentar dia berkaliber internasional.

Putra ke-5 Sutan Muhammad Salim, nama kecilnya Masyhudul Haq. Lahir di Koto Gadang, Bukittinggi, tanggal 8 Oktober 1884. Konon, dulunya bayi ini diasuh oleh seorang pembantu yang berasal dari Jawa. Orang Jawa memanggil anak laki-laki kecil dengan panggilan Gus. Di sekolah dipanggil August. Kemudian dia dipanggil orang Agus. Sumber lain mengatakan, karena Masyhudul Haq waktu kecil sakit-sakitan, ayahnya mengganti namanya menjadi Agus.

Koto Gadang tempatnya dilahirkan, sebuah kampung kecil yang indah, dekat Ngarai Sianok. Dari sini banyak lahir kaum terpelajar di Indonesia. Masyarakatnya punya tradisi yang baik, anak-anak yang cerdas tetapi keluarganya tidak mampu, dibiayai oleh masyarakat kampung untuk meneruskan sekolah. Kelak setelah berhasil, dapat menyumbangkan pengetahuannya untuk kesejahteraan masyarakat kampungnya.

Seperti anak muda lain, Agus kecil juga nakal. Dia senang memanjat pohon, berenang di sungai. Dia lucu dan tak sombong, meskipun ayahnya seorang jaksa. Sejak kecil sudah nampak kalau otaknya cerdas dan mudah memahami sesuatu yang didengar atau dibacanya. Kegemarannya yang lain, main bridge dan hocky. Sore hari Agus belajar mengaji dan silat untuk bela diri.

Waktu umur 7 tahun, dia diterima sekolah di ELS (Europeesche Lagere School) karena anak jaksa, jadi kedudukannya dianggap sama dengan anak Belanda. Tamat ELS tahun 1898 dia menunggu setahun sebelum melanjutkan ke HBS di Jakarta, tamat 1903 dengan angka yang gemilang. Niatnya melanjutkan kuliah di Eropa batal.

Guru-gurunya mendesak agar Agus mengambil gelar dokter di STOVIA, Jakarta. Yang ini juga batal. Pada saat yang hampir bersamaan, kebetulan Kartini ditawari pemerintah Belanda untuk belajar di luar negeri, karena orang tua R.A. Kartini tidak mau melepaskan anak gadisnya, lagipula Kartini hampir menikah, maka ia urung pergi. Kartini mengusulkan pada pemerintah agar beasiswa diberikan pada pemuda Agus. Pemuda ini menolak, dia tak ingin beasiswa diberikan karena anjuran Kartini, bukan kehendak pemerintah sendiri.

Agus Salim bekerja sebagai penerjemah, kemudian pindah lagi sebagai pembantu notaris. Pada saat itu, pemuda Indonesia yang pandai lulusan Sekolah Barat belum banyak. Apalagi Agus menguasai banyak bahasa. Dia seorang polyglot. Antara lain bahasa yang dikuasainya, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Jepang, Arab dan Turki (setelah dia melawat ke negara Islam) belum lagi bahasa daerah.

Tenaga seperti Agus dibutuhkan pemerintah Belanda, dia punya kesempatan besar untuk mendapat kedudukan dan gaji besar. Namun Agus menolak. Dia malah lebih suka berdagang arang. Hal ini sering menjadi perdebatan antara Agus dengan orangtuanya yang membuat sang ibu sedih hingga jatuh sakit sakit dan akhirnya meninggal.

Agus yang menyayangi ibunya menyesali diri. Dengan hati pedih, akhirnya dia menerima pekerjaan yang ditawarkan padanya, dia berangkat ke Jeddah bekerja pada Konsulat Belanda di sana.

Selama lima tahun dia tinggal di Jeddah. Sekalian menunaikan rukun Islam kelima dan mendalami bahasa Arab. Di sana pula pemuda Agus menikah dengan seorang gadis Arab. Namun ketika dia pulang, istrinya tak mau ikut dan mereka bercerai.

Pulang ke Indonesia, Agus bekerja di BOW. Dia berpendapat pelajaran di sekolah saja tak cukup. Orang harus belajar sendiri untuk menambah pengetahuan dan pengalaman. Sekolah bukan satu-satunya tempat, melainkan hanya salah satu tempat pendidikan. Dan pendidikan akan berlangsung terus sejak manusia lahir hingga meninggal.

Tetapi untuk dapat belajar sendiri, seseorang harus lebih dulu mendapat pendidikan sekolah. Bangsa Indonesia masih sedikit sekali yang mendapat pendidikan. Jauh tertinggal dibandingkan dengan bangsa Belanda. Salah satu alat untuk melepaskan Indonesia dari penjajahan adalah memajukan pendidikan. Itu merupakan tugas orang Indonesia yang sudah berpendidikan untuk memajukan bangsanya.

Agus Salim kemudian pulang kampung. Di sana dia mendirikan sekolah Hollandsch Inlandsche School. Di mana diberlakukan peraturan istimewa. Anak-anak yang cerdas tapi tak mampu, bebas uang sekolah. Pada tahun yang sama, 1912, Agus menikah dengan keponakan ayahnya, Zaniatun Nahar dan dari istrinya ini dia beroleh 8 anak.

Tahun 1915 Agus bersama keluarganya pindah ke Bogor, kemudian ke Jakarta. Dua tahun lamanya dia bekerja di kantor Translateur Indonesische Drukkerij pada Translaat-bureau.

"Biar makan kerikil, daripada saya menerima tawaran Belanda." Itu ucapannya ketika dia sempat menganggur dan ditawari pekerjaan menjadi Controleur Belasting di Pontianak.

Agus memang kerjanya tak tetap. Kadang kerja, kadang menganggur. Pindah dari kantor yang satu ke kantor lain. Akhirnya dia menjadi redaktur bahasa Melayu di Komisi Batjaan Rakjat yang kemudian berubah nama menjadi Balai Pustaka. Pekerjaannya digunakan baik-baik sebagai alat perjuangan.

Sementara itu dia hidup rukun dengan keluarganya. Dia amat cinta dan penuh perhatian pada istri dan anak-anaknya. Ke mana-mana istrinya diajak serta. Sehingga orang ikut menyebut Agus dengan sebutan Paatje dan Maatje kepada istrinya. Kalau pagi Paatje dan Maatje berjalan-jalan mencari udara segar.

Agus Salim yang sudah bergelar Haji, pandai membuat lelucon dan menggembirakan hati orang lain. Termasuk dalam pergaulan dengan teman-temannya. Orang yang kenal dengannya dengan cepat menjadi akrab. Dia senang humor, sampai dalam suatu rapat umum dia sempat membuat lelucon.

Saat Agus Salim muncul di atas mimbar, beberapa orang mengejek sambil berteriak mbeek. Agus yang memang berjenggot seperti jenggot kambing membalas dengan humor, dia membuka kata dengan ucapan: Para hadirin sekalian dan kambing-kambing yang terhormat.

Sejak menikah, Agus berpesan bahwa istrinya harus banyak membaca. Karena putranya tidak akan disekolahkan. Mereka akan diberi pelajaran praktis di rumah. Betapapun sibuknya sebagai seorang politikus dan pemimpin, dia berusaha mendidik anak-anaknya sendiri, tidak dipercayakan kepada orang lain atau guru.

Sikapnya terhadap pendidikan anak-anak amat keras. Dia mengajar membaca, menulis, berhitung, agama dan budi pekerti. Anak-anak Agus Salim meskipun tidak sekolah di sekolah umum, tidak menjadi canggung bergaul dalam masyarakat, karena selain memberi pelajaran, Agus tak lupa menanamkan rasa percaya diri.

Meskipun dia keras, bukan berarti dia diktator. Dia siap menerima bantahan dan kritik dari anak-anaknya. Katanya, itu bukan kurang ajar tetapi justru mereka mengkritik karena pikiran mereka hidup. Dia akan menerangkan tanpa henti sampai keluarganya bisa mengerti apa yang diterangkannya. Anak-anak tidak takut terhadap ayah mereka, melainkan mencintai, mengasihi dan menghormati.

Waktu yang dipilih untuk mendidik keluarganya adalah saat makan pagi, siang atau malam. Makan sambil cerita ini bisa memakan waktu berjam-jam. Percakapan yang diseling humor membuat pendengarnyaterpikat.

Sebagai manusia, Agus Salim juga pengagum keindahan. Baik keindahan alam maupun kecantikan seorang wanita.

Berkorban demi kepentingan perjuangan dan cita-cita, membuat keluarganya hidup dalam kemiskinan dan kekurangan. Makan dan pakaian sederhana, bahkan kadang tak ada. Namun mereka sekeluarga tidak menyesal, tetap gembira. Tentu saja dalam perjuangannya, bantuan moril yang diberikan istrinya tidaklah sedikit.

Istri Agus lebih suka tinggal di rumah, membatasi pergaulan dengan tetangga. Dia merasa suaminya memiliki pandangan hidup yang berbeda dengan kaum cendekiawan lain yang hidup mewah.

Hubungan keluarganya harmonis. Usia lanjut tak menghalanginya untuk mengasihi istri yang setia dalam suka dan duka. Hal ini nampak sekali ketika Agus Salim memperingati HUT-nya yang ke-70, kurang dari sebulan sebelum dia wafat.

Sedikit orang yang mau hidup melarat demi perjuangan. Agus Salim punya tekad menyerahkan segenap pikiran, perasaan dan hidupnya untuk haluan yang dipilinnya. Seharusnya dia bisa jadi orang berpangkat, saudagar atau profesor, namun hal itu tak dilakukannya.

Namun selalu, di samping sifat yang baik, ada pula yang buruk. Tragis bagi Agus Salim, sebagai manusia genial dia memiliki sifat yang berlawanan. Dia memang rela berkorban dan berusaha mati-matian untuk perjuangan, tetapi teman-teman yang berusaha melangkahi akan terpelanting. Dalam otak dia nasionalis, namun kalbunya internasionalis, rasionalis dan memegang dogma Islam yang kuat.

Sementara dalam partai dia mencari persatuan organisasi, hubungan dengan sanak saudara dilalaikan. Agus Salim berusaha mendamaikan sikap-sikap yang berlawanan dalam kalbunya. Demikian kata Dr. M. Amir mengenai pribadi Haji Agus Salim, dilihat dari kacamata psikologis.

Setelah bekerja untuk Konsulat Belanda di Jeddah, Agus Salim justru makin benci pada Belanda. Pengalaman pahit meyakinkannya bahwa tidak mungkin bekerja sama dengan penjajah.

"Daripada Indonesia diberikan pada Belanda kembali, lebih baik saya bakar pulau ini." Itu ucapannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dia lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan partai, golongan apalagi diri sendiri.

Dia tak malu menjadi orang Indonesia dan menunjukkan apa yang berbau Indonesia. Agus Salim pula yang pertama kali menggunakan bahasa Indonesia dalam Dewan Rakyat (Volksraad) mewakili Sarekat Islam. Sampai rokok yang diisapnya dalam jamuan makan di Istana Inggris juga kretek Indonesia. Baunya menusuk hidung dan terasa mengganggu tamu-tamu yang lain. Sampai pangeran suami ratu bertanya dari mana datangnya bau busuk itu.

Apa jawab Agus Salim? Dengan tenang dia mengatakan; Yang Mulia, bau yang tidak enak itu bau rokok kretek yang sedang saya isap, yang terbuat dari tembakau dan cengkeh. Boleh saja Yang Mulia tidak suka. Tetapi justru bau ini yang menarik minat pelaut Eropa datang ke negeri kami tiga abad yang lalu.

Ada beberapa lelucon tentang Agus Salim yang sempat dicatat orang. Masih tentang jenggot kambingnya, Agus Salim disindir orang. Dalam suatu rapat SI, Muso naik ke atas podium, mengejek: dan terjadilah tanya jawab dengan hadirin: Orang yang berjenggot itu seperti apa? Kambing. Orang yang berkumis itu seperti apa? Kucing.

Maunya Muso mengibaratkan Agus Salim seperti kambing dan Tjokroaminoto seperti kucing. Setelah Muso turun, Agus Salim naik mimbar dan berkata tenang: Tadi kurang lengkap saudara-saudara, yang tidak berjenggot dan tidak berkumis itu seperti apa? Anjing. Demikian tanya itu dijawabnya sendiri.

Selain jenggotnya, Agus Salim juga sering terlibat humor karena wanita atau putra-putranya. Pernah terjadi dalam perundingan di atas kapal Renville. Karena haus Agus Salim minta minum pada nona Amerika. "Hampir saya jatuh pingsan," ujarnya, maksudnya karena kehausan. Tetapi nona Amerika itu menjawab: "Kalau nanti tuan jatuh pingsan, biarlah saya peluk."

"Untuk apa dipeluk kalau saya sudah pingsan," jawab Agus Salim kalem.

Putra-putri Agus Salim tidak pernah menginjak bangku sekolah umum. Banyak orang heran mengapa mereka lancar berbahasa Inggris padahal tak pernah sekolah. Untuk itu Agus punya jawaban tersendiri yang lucu tapi kena.

"Pernahkah tuan mendengar tentang sekolah di mana kuda belajar meringkik? Kuda tua meringkik dan anak-anaknya meniru meringkik pula. Demikian, saya meringkik dalam bahasa Inggris dan sekarang anak saya meringkik juga dalam bahasa Inggris."

Hidup dan perjuangan Haji Agus Salim tak dapat dipisahkan dengan sejarah hidup dan perjuangan Sarekat Islam, dia termasuk tenaga utama yang ikut menentukan haluan dan perjuangan SI. Bersama H.O.S. Tjokroaminoto merupakan Dwi Tunggal dalam SI. Dia bertemu dengan Tjokroaminoto di Surabaya tahun 1919.

Mula-mula untuk menyelidiki gerakan SI. Tetapi malah ikut menceburkan diri dan membantu Tjokroaminoto. Sejak itu Agus Salim aktif. Setelah Tjokroaminoto meninggal tahun 1935, Agus Salim dipilih menjadi ketua Dewan Partai PSII. Hanya setahun. Kemudian dia keluar dan mendirikan partai baru PENJADAR.

Tahun 1940 hingga 1942, dia non aktif dalam politik. Baru atas desakan Bung Karno, dia mau aktif dalam organisasi PUTERA. Itu terjadi ketika Jepang masuk. Dan setelah masa pendudukan Jepang berakhir, Agus Salim menjadi anggota Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Sesudah proklamasi ditunjuk sebagai anggota DPA Republik Indonesia. Dalam Kabinet Sjahrir II dan III, duduk dalam kabinet sebagai menteri muda luar negeri. Kedudukannya lebih kuat sebagai Menteri luar negeri dalam kabinet Amir I dan II (1947-1949). Kemudian bertindak sebagai penasehat utama pada Kementerian Luar negeri hingga wafatnya.

Jasa Agus Salim yang lain adalah merintis jalan membuka hubungan diplomatik dengan dunia luar. Bulan Maret 1947 dia menjadi ketua delegasi Indonesia ke Inter Asian Relations Conference di New Delhi, kemudian mengetuai misi RI ke negara-negara Arab, sehingga banyak negara Islam mengakui dan mendukung perjuangan RI. Bersama St. Sjahrir memperjuangkan RI di sidang PBB.

Sutan Sjahrir, 'lawan' Agus Salim, sangat tertarik dan memberikan komentarnya: “dia tidak saja militan dan pandai mencemooh, tetapi seorang manusia yang gairah hidupnya luar biasa kuat dan bijaksana."

Haji Agus Salim yang sudah mulai lanjut sempat ditawan Belanda dan diasingkan ke Brastagi, Prapat dan pulau Bangka bersama Bung Karno dan Bung Hatta. Agus Salim memang sudah tua, tetapi tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan banyak orang.

Awal tahun 1953, dia diundang Cornell University di Ithaca, Amerika Serikat, untuk memberikan kuliah mengenai Islam dan sejarah serta kebudayaan Indonesia. Bulan Juni tahun itu juga ditunjuk oleh pemerintah RI menghadiri upacara penobatan Ratu Elizabeth II dan kembali ke tanah air 23 November 1953.

Dia tak hanya berjuang dalam lapangan politik. Juga terjun dalam dunia persuratkabaran. Koran yang pernah dipimpin atau diterbitkannya, Neratja, Hindia Baru, Fadjar Asia, Mustika dan beberapa lainnya. Sebagai wartawan, penanya cukup tajam, kritiknya pedas, kata-katanya sederhana tetapi berjiwa. Namun dia masih menjunjung kode etik jurnalistik. Dan pernah ditunjuk sebagai anggota Dewan Kehormatan dalam pengurus PWI Pusat.

Sebagai pengarang, Agus Salim membahas masalah politik, kebudayaan, sejarah, terutama agama dan tak lupa masalah kewanitaan. Perhatiannya terhadap kebudayaan dan kesusastraan begitu besar. Dia menyadur berbagai buku asing ke bahasa Indonesia.

Pada hari ulang tahunnya yang ke 70, dia menerima hadiah yang paling berkesan dan berharga, yaitu kumpulan karangannya yang sudah selesai dicetak. 26 hari kemudian, 4 November 1954, meninggal di RSUP Jakarta disaksikan oleh keluarga dan beberapa kerabat dekat. Dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara kenegaraan.

The Grand Old Man Indonesia sudah pergi. Seperti katanya, jangan dipuji suatu hari, sebelum datang Magribnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.