Ricuh Penyerahan SK Menbud di Keraton Solo, Kuasa Hukum Kubu Purboyo Klaim Ada Penganiayaan
January 18, 2026 09:27 PM

 

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Sejumlah keributan mewarnai acara penyerahan Surat Keputusan Menteri Kebudayaan (Menbud) RI Nomor 8 Tahun 2026 di pendopo utama Keraton Kasunanan Solo, Minggu (18/1/2026) siang.

Situasi sempat memanas sejak sebelum acara dimulai hingga rangkaian kegiatan berlangsung.

Surat keputusan yang ditandatangani Menteri Kebudayaan Fadli Zon itu memberikan mandat kepada KGPAA Tedjowulan sebagai Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan/atau Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya (P3KCB) Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau penanggung jawab kawasan keraton.

Keributan terjadi beberapa kali, salah satunya berupa aksi saling dorong di pintu keraton sesaat sebelum acara dimulai.

Baca juga: Soal Penolakan Keraton Solo Kubu Purboyo, Fadli Zon Sebut Sudah Ajak Bertemu Tapi Tak Pernah Hadir

Ketegangan juga terlihat ketika kubu Pakubuwono (PB) XIV Purboyo berhadapan dengan kubu lainnya hingga nyaris terjadi perkelahian.

Tak hanya itu, TribunSolo.com juga memperoleh rekaman kamera pengawas di sekitar pintu Gajah menuju kawasan Keputren Keraton Solo.

Dalam rekaman tersebut, terlihat sejumlah orang berpakaian hitam memanjat tembok keraton menggunakan tangga bambu sambil membawa alat yang diduga pemotong gembok.

Setelah pintu berhasil dibuka dari dalam, sejumlah abdi dalem tampak masuk ke kawasan Keputren yang terhubung langsung dengan Pendopo Utama, lokasi digelarnya acara penyerahan SK.

Pihak PB XIV Purboyo menyebut insiden tersebut menimbulkan korban.

Dalam jumpa pers Minggu siang, perwakilan pihak PB XIV Purboyo mengungkapkan adanya korban luka akibat keributan, meski identitasnya belum diketahui.

Baca juga: Kubu PB XIV Purboyo Siap Bawa Konflik Keraton Solo ke PTUN Jika Surat Keberatan Tak Ditanggapi

Kuasa hukum PB XIV Purboyo, Billy Suryowibowo, menilai kericuhan dipicu karena acara tersebut merupakan inisiasi kementerian tanpa melibatkan pihaknya dalam pembahasan.

“Mengenai surat keputusan itu pertama di sini ada Sinuhun Raja dan Permaisuri, karena semuanya kita tidak tahu dan acara ini diselenggarakan oleh kementerian. Mengadakan acara di sini tidak kulonuwun. Kita di sini tidak diajak untuk mengetahui permasalahan ini,” ungkapnya.

Ia menyebut situasi semakin tidak kondusif karena kehadiran pihak-pihak dari luar keraton.

“Acara ini juga terjadi keributan, orang-orang luar membawa organisasi-organisasi. Ini keraton yang sangat dihormati lho, mereka menginjak-injak seperti itu. Saya rasa kurang berkenan,” tambah Billy.

Bahkan, Billy mengklaim terjadi insiden penganiayaan sebelum acara dimulai, meski tidak merinci jumlah maupun bentuk luka yang dialami korban.

“Tadi ada penganiayaan sebelum acara ini juga ada, Jadi sekali lagi kita hormati adat istiadat terutama keraton ini,” pungkasnya.

(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.