POS-KUPANG.COM, KUPANG - Perempuan GMIT Jemaat Kota Baru memulai langkah kecil yang berdampak besar lewat kegiatan perdana “Jumat Belajar” yang dilaksanakan pada Kamis, 15 Januari 2026, bertempat di Pastori Ketua Sinode GMIT.
Kegiatan ini merupakan pilot program yang dirancang untuk memperkuat ketahanan ekonomi jemaat melalui inovasi produk pangan sehat dan organik, dengan pendekatan pelatihan yang langsung berbasis praktik.
Program ini diprakarsai oleh Perempuan GMIT Jemaat Kota Baru yang dipelopori oleh Pdt. Grace Pandie–Sjioen, bekerja sama dengan Sinode GMIT serta didukung oleh Wakil Ketua Komisi V DPRD Provinsi NTT, Winston Rondo, dan menghadirkan Ir. Zeth Malelak sebagai tutor sekaligus mentor.
Pada pelatihan perdana ini, peserta mengikuti pelatihan pembuatan Jus Mangga dan Ice Cream Mangga sebagai produk inovasi awal.
Pelatihan ini dilakukan sebagai langkah konkret untuk menaikkan nilai tambah buah mangga asal Semau yang sering berlimpah saat panen di musim panas, sehingga tidak hanya menjadi komoditas segar yang cepat rusak, tetapi dapat diolah menjadi produk sehat, layak konsumsi, dan bernilai ekonomi.
Baca juga: Teguhkan Komitmen Pelayanan, Kaum Perempuan GMIT Bait-El Kampung Baru Penfui Rayakan HUT ke-49
Jumat Belajar menjadi ruang belajar yang bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengantar peserta menghasilkan produk layak konsumsi, sehat, higienis, dan siap dikembangkan menjadi UMKM.
Kelas perdana ini menunjukkan energi yang luar biasa. Peserta Perempuan GMIT Jemaat Kota Baru mengikuti pelatihan dengan antusias, karena materi yang disampaikan tidak berhenti di teori, tetapi langsung dibuktikan lewat praktik produksi.
Suasana belajar pun dibuat cair, ada guyonan-guyonan teologis yang membumi, dipadu dengan bumbu akademik yang tajam sebagai ciri khas air Zeth Malelak, sehingga materi lebih mudah diserap dan lebih mungkin dipraktikkan setelah pelatihan.
Dalam penguatan narasi, Ketua Sinode GMIT juga mengingatkan bahwa berbagai riset dan laporan ekonomi dunia memprediksi tahun 2026 berpotensi menjadi fase ekonomi yang lebih terguncang di tengah dinamika geopolitik global dan masa pemulihan Indonesia pasca pandemi.
Hari ini pun kita melihat tanda-tandanya, di mana daya beli melemah, belanja publik bergeser ke kebutuhan primer, dan konsumsi semakin terarah pada makan-minum yang sehat, pendidikan, serta kesehatan.
Tekanan inflasi turut terasa, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar kian menekan biaya hidup.
Karena itu, Jumat Belajar hadir sebagai upaya mitigasi yang realistis, yaitu mengubah kelimpahan bahan baku dari kebun dan pertanian jemaat menjadi produk inovasi sehat bernilai ekonomi.
Program ini dirancang agar ke depan dapat direplikasi lintas jemaat dan klasis, dengan visi sederhana namun strategis:
“Satu Gereja, Satu Produk Inovasi Unggulan.”
Ke depan, Jumat Belajar akan berjalan kontinu setiap minggu, hingga pada fase tertentu berkembang menjadi program unggulan gereja, bukan hanya mitigasi pangan, tetapi juga inkubator inovasi produk yang memperkuat etalase ekonomi jemaat melalui GG Mart sebagai ruang jual-beli dan distribusi produk pangan UMKM GMIT.
Apresiasi setinggi-tingginya disampaikan kepada Bapak Winston Rondo dan Ir. Zeth Malelak sebagai pakar ekonomi pertanian dan inovasi pangan, yang dengan talenta dan kerendahan hati mau berbagi, membimbing, dan menyalakan semangat baru bagi Perempuan GMIT untuk naik kelas, dari konsumen menjadi produsen, dari penerima keadaan menjadi pencipta peluang.
Kita mulai dari langkah kecil. Tapi langkah kecil yang konsisten, bisa menjadi gerakan besar untuk jemaat yang lebih mandiri, sehat, dan berdaya. (*)