TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menegaskan, manusia memiliki kewajiban moral tanpa batas untuk melindungi dan melestarikan alam demi keberlangsungan peradaban.
Menurutnya, manusia bukan penguasa mutlak alam, melainkan bagian dari ekosistem yang harus hidup berdampingan secara harmonis.
Hal itu disampaikan Kapolda Riau saat diskusi bertema Hello Green Movement bersama anak-anak muda Partai Hijau Riau di Hutan Kota Pekanbaru, Minggu (18/1/2026).
Ia menjelaskan, cara pandang manusia terhadap alam harus diubah. Selama ini, dunia lebih banyak didominasi paradigma homo economicus yang menempatkan alam semata sebagai objek eksploitasi demi kepentingan ekonomi.
“Manusia harus menekan egonya untuk mengeksploitasi alam demi memenuhi kebutuhan. Kita perlu beralih ke paradigma homo ecologicus, yaitu cara pandang yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasanya,” ujarnya.
Menurut Herry Heryawan, eksploitasi berlebihan tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga memicu krisis spiritual karena manusia semakin terasing dari alam.
“Sebagai bagian tak terpisahkan dari alam, manusia sejatinya memiliki ecological imperatives, kewajiban moral tanpa batas untuk melindungi dan melestarikan lingkungan. Tidak ada alasan dalam setiap aktivitas, terutama ekonomi dan politik, untuk tidak memprioritaskan keberlanjutan alam,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa alam harus dipandang sebagai investasi masa depan, bukan sekadar sumber daya hari ini.
“Satu pohon tidak bisa dilihat hanya sebagai makhluk hidup lain, tetapi juga masa depan umat manusia, khususnya Riau dan Indonesia. Harapan itu mungkin tidak langsung terlihat sekarang, tetapi lima atau sepuluh tahun mendatang,” katanya.
Kapolda Riau menekankan bahwa kecintaan terhadap lingkungan tidak cukup berhenti pada wacana, tetapi harus menjadi kebiasaan dan karakter.
“Kewajiban moral ini harus bertransformasi menjadi karakter untuk mencintai lingkungan tanpa batas. Ini tanggung jawab manusia sebagai makhluk berakal yang hidup berdampingan dengan alam,” ucapnya.
Ia juga menilai nilai-nilai tersebut sejatinya telah lama hidup dalam budaya masyarakat Riau, yang tercermin dalam pantun dan syair Melayu.
“Lihat saja petuah Melayu yang sarat makna lingkungan. Salah satunya, ‘Jadilah pohon yang kuat dengan batang yang kuat untuk tempat bersandar, dahan yang kuat untuk bergantung, daun yang lebat untuk berlindung.’ Itu menunjukkan betapa eratnya hubungan manusia dan alam dalam kearifan lokal kita,” pungkasnya.(Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)