Tangis dan Doa Keluarga Menanti Nasib Penumpang ATR 42-500 di Bulusaraung
January 19, 2026 12:29 AM

WARTAKOTALIVECOM, Jakarta — Harapan dan kecemasan tampak di rumah-rumah keluarga penumpang dan awak pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak di wilayah Sulawesi Selatan. 

Sudah lebih dari 24 jam sejak pesawat tersebut dinyatakan hilang, kabar pasti mengenai nasib para penumpang dan kru masih dinanti, seiring upaya pencarian yang terus dilakukan di kawasan Pegunungan Bulusaraung.

Di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, duka dan doa menyelimuti keluarga Deden Maulana, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menjadi salah satu penumpang pesawat nahas itu.

Tangis pecah ketika keluarga mendapat kepastian bahwa hingga kini Deden belum ditemukan.

Sang ayah mengenang komunikasi terakhir dengan putranya yang terjadi pada Kamis pekan lalu.

Ia mengaku tidak mengetahui secara rinci perjalanan dinas yang dijalani anaknya kali ini, berbeda dari biasanya.

Situasi serupa dirasakan keluarga Ferry Irawan, staf analis pengawas kapal di Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP.

Ferry dikenal keluarga sebagai sosok yang rutin melakukan perjalanan dinas pemantauan melalui udara, bahkan hampir setiap pekan.

Kakak Ferry menuturkan, komunikasi terakhir terjadi sebelum pukul sembilan pagi pada Sabtu, sesaat sebelum pesawat ATR 42-500 itu dilaporkan hilang kontak.

Di rumah lain, keluarga Yoga Nouval, juga pegawai KKP yang berada dalam pesawat tersebut, terus memanjatkan doa sambil menanti kabar.

Penantian panjang itu sempat disambangi langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.

Sabtu malam, menteri datang ke kediaman keluarga Yoga di kawasan Jati Padang, Jakarta Selatan. 

Dalam pertemuan tersebut, Sakti menyampaikan dukungan moril dan memastikan negara hadir mendampingi keluarga korban di tengah ketidakpastian yang menyelimuti.

Pesawat ATR 42-500 itu tidak hanya membawa tiga penumpang dari KKP, tetapi juga tujuh awak, termasuk awak kabin Esther Aprilita Sianipar.

Orangtua Esther mengaku masih menggenggam harapan akan mukjizat, berharap seluruh penumpang dan kru dapat ditemukan dalam keadaan selamat.

Pesawat tersebut sebelumnya dilaporkan hilang kontak pada Sabtu siang, saat terbang dari Bandara Adisucipto, Yogyakarta, menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.

Seiring berjalannya waktu, sejumlah puing pesawat ditemukan di lereng puncak Bulu Sa Raung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Temuan itu memperkuat dugaan lokasi jatuhnya pesawat, sekaligus menjadi titik fokus operasi pencarian dan evakuasi.

Kementerian Kelautan dan Perikanan menjelaskan, pesawat ATR 42-500 tersebut tengah menjalankan misi pemantauan udara untuk kepentingan pengawasan sumber daya kelautan Indonesia.

Misi ini merupakan bagian dari upaya rutin pemerintah dalam menjaga wilayah laut nasional.

Sementara tim gabungan terus berjibaku dengan medan pegunungan yang sulit, keluarga korban hanya bisa menunggu, memeluk harapan di tengah kecemasan.

Dari Jakarta hingga Sulawesi Selatan, doa-doa dipanjatkan agar kabar baik segera datang dari Bulusaraung.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.