7 Negara yang Punya Pangkalan Udara Luar Negeri Terbanyak di Dunia Tahun 2026
January 19, 2026 03:31 AM

 

TRIBUNNEWS.COM – Pertanyaan “berapa banyak pangkalan udara internasional yang dimiliki suatu negara?” mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya bisa sangat rumit.

Sebagai contoh, Rusia memiliki pangkalan udara di Krimea, Ukraina, yang dianggapnya sebagai bagian dari wilayahnya sendiri.

Sementara itu, muncul pula pertanyaan tentang apa yang sebenarnya dapat dikategorikan sebagai “internasional”.

Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) memiliki Kompleks Mount Pleasant yang penting di Kepulauan Falkland, yang dianggap Inggris sebagai Wilayah Luar Negeri Britania.

Berikut ini jumlah pangkalan udara yang dimiliki negara-negara di luar wilayah asalnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Hawaii dan Alaska dihitung sebagai wilayah asal Amerika Serikat.

Namun, departemen-departemen Prancis di luar negeri, seperti Guyana Prancis, tidak dihitung sebagai wilayah asal Prancis meskipun secara resmi dianggap sebagai bagian dari negara tersebut.

Angkatan Laut dan Korps Marinir AS dihitung secara bersamaan, sementara Angkatan Darat AS dikecualikan.

1. Amerika Serikat

Angkatan Udara

Angkatan Udara Amerika Serikat memiliki pangkalan udara internasional terbanyak di dunia.

Beberapa pangkalan udara yang terkenal antara lain Pangkalan Udara Ramstein (Jerman), Kadena (Jepang), Osan (Korea Selatan), Al Udeid (Qatar), Incirlik (Turki), Aviano (Italia), serta RAF Lakenheath (Inggris).

AS juga memiliki pangkalan rotasi di Australia, Norwegia, Filipina, dan sejumlah lokasi lainnya.

PANGKALAN UDARA AS - Foto yang diunggah di laman resmi Ramstein Air Base, memperlihatkan pesawat militer U.S. Air Force C-130 Hercules yang sedang terbang rendah di atas lanskap hijau dengan latar belakang Mont Saint-Michel, sebuah pulau bersejarah di Normandia, Prancis.
PANGKALAN UDARA AS - Foto yang diunggah di laman resmi Ramstein Air Base, memperlihatkan pesawat militer U.S. Air Force C-130 Hercules yang sedang terbang rendah di atas lanskap hijau dengan latar belakang Mont Saint-Michel, sebuah pulau bersejarah di Normandia, Prancis. (Ramstein Air Base)

Baca juga: 5 Kapal Induk Terkuat yang Berlayar di Lautan Tahun 2026

Pangkalan rotasi adalah fasilitas militer di luar negeri yang tidak bersifat permanen, melainkan digunakan secara bergantian (rotasi) oleh pasukan suatu negara untuk latihan, operasi, atau penempatan sementara.

Secara keseluruhan, Angkatan Udara AS memiliki lebih dari 45 pangkalan udara yang berada di luar wilayah kedaulatan AS.

Jumlah tersebut dapat meningkat menjadi 65 atau lebih, tergantung pada definisi yang digunakan.

Pada 2019, Angkatan Luar Angkasa AS (US Space Force) dipisahkan dari Angkatan Udara AS dan dibentuk sebagai cabang militer tersendiri.

Jika pangkalan-pangkalan Angkatan Luar Angkasa AS turut diperhitungkan, maka jumlahnya bisa bertambah, termasuk Pangkalan Luar Angkasa Pituffik di Greenland (sebelumnya Pangkalan Udara Thule), serta instalasi radar di lokasi seperti Pulau Ascension, tergantung pada definisi pangkalan yang digunakan.

Jika wilayah teritorial AS turut dihitung, pangkalan udara terpenting adalah Pangkalan Angkatan Udara Andersen, yang menjadi pilar strategi AS di kawasan Pasifik.

Selain itu, terdapat kehadiran Angkatan Udara AS di Pulau Wake, Kepulauan Mariana Utara, Samoa Amerika, serta Puerto Riko.

Angkatan Laut dan Korps Marinir

Angkatan Laut dan Korps Marinir AS secara bersamaan membentuk apa yang sering disebut sebagai "angkatan udara terkuat kedua di dunia."

Mereka mengoperasikan kapal induk dan kapal serbu amfibi yang berfungsi sebagai pangkalan udara terapung di lautan lepas.

Angkatan Laut dan Marinir AS memiliki stasiun udara luar negeri utama serta pusat penerbangan ekspedisi di Jepang (Atsugi, Iwakuni, Kadena), Bahrain, Italia (Sigonella), Spanyol (Rota), Djibouti, dan lokasi lainnya.

Angkatan Laut AS juga memiliki akses ke fasilitas di Singapura.

Meski Diego Garcia secara resmi merupakan bagian dari Wilayah Samudra Hindia Britania, pangkalan ini dioperasikan oleh Angkatan Laut AS dan menjadi salah satu fasilitas terpenting di kawasan Timur Tengah.

Beberapa stasiun Angkatan Laut dan Korps Marinir terletak berdampingan dengan pangkalan Angkatan Udara AS.

Salah satu stasiun yang kerap menjadi sorotan adalah Pangkalan Angkatan Laut Teluk Guantánamo di Kuba, yang berdiri di atas lahan sewaan dari pemerintah Kuba.

2. Inggris (Angkatan Udara Kerajaan)

Inggris dan Prancis dikenal masih mengoperasikan sejumlah besar pangkalan udara di berbagai belahan dunia.

Kondisi ini merupakan warisan dari bekas imperium mereka dan umumnya berada di wilayah atau teritori luar negeri.

Baca juga: Pengunjuk Rasa Iran Merasa Dikhianati Donald Trump, Bantuan Tak Datang

RAF memiliki pangkalan udara di Kepulauan Falkland, Pulau Ascension (sebagai titik transit ke Falkland), Gibraltar, serta Siprus melalui Pangkalan Militer Berdaulat, terutama Akrotiri.

Inggris juga memiliki kehadiran militer di Qatar dan Uni Emirat Arab.

Diego Garcia secara resmi berada di wilayah Inggris, tetapi Inggris hanya memiliki kehadiran terbatas di sana dan terutama memanfaatkan pangkalan tersebut untuk pengisian bahan bakar.

Selain itu, Inggris mempertahankan pangkalan pelatihan di Kenya dan Kanada, meskipun fasilitas tersebut bukan pangkalan udara RAF dalam arti penuh.

Seiring memburuknya situasi keamanan di Eropa, RAF juga meningkatkan kehadirannya di negara-negara seperti Estonia dan Polandia melalui rotasi NATO.

3. Prancis

Angkatan Udara Prancis (Armée de l’Air et de l’Espace) memiliki pengaruh global yang luas.

Jaringan ini berpusat pada wilayah dan departemen seberang laut serta bekas koloni Prancis di Afrika.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kehadiran militer Prancis di Afrika mengalami tekanan besar, sehingga Paris menarik sebagian besar pasukannya dari benua tersebut.

Pada Juli 2025, Prancis menyerahkan Camp Geille beserta lapangan terbangnya di Dakar kepada otoritas Senegal.

Penarikan serupa juga terjadi di Pantai Gading, Chad, Niger, Mali, dan Burkina Faso.

Meski demikian, Prancis masih mempertahankan pangkalan berskala lebih kecil di Djibouti dan Gabon.

Prancis juga memiliki kehadiran permanen di Pangkalan Udara Al Dhafra, Uni Emirat Arab.

Selain itu, Prancis mempertahankan kehadiran militer di wilayah luar negerinya, termasuk Reunion, Kaledonia Baru, Polinesia Prancis, dan Guyana Prancis.

4. Rusia

Situasi Rusia terkait pangkalan udara internasional tergolong rumit.

Pangkalan yang cukup jelas antara lain Pangkalan Udara Khmeimim di Suriah, Bandara Erebuni di Armenia, Pangkalan Udara ke-999 di Kirgistan, Baranovichi di Belarus, serta Kambala di Kazakhstan.

Pangkalan Militer ke-201 di Tajikistan berfokus pada angkatan darat, sementara Rusia juga mengoperasikan Pangkalan Militer ke-7 yang mencakup lapangan terbang Bombora di Abkhazia.

Rusia mengakui Abkhazia sebagai negara merdeka, meskipun secara internasional wilayah tersebut dianggap bagian dari Georgia.

Setelah runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024, belum jelas sejauh mana Rusia masih dapat menggunakan Pangkalan Udara Khmeimim di Suriah.

Selain itu, Rusia mempertahankan sejumlah pangkalan udara di wilayah Ukraina yang diakui secara internasional, termasuk Krimea.

Keberadaan Rusia di Afrika juga masih samar.

Operasi sebelumnya dijalankan oleh kelompok tentara bayaran Wagner, yang kini digantikan oleh Korps Afrika.

Operasi kelompok ini mencakup Mali, Burkina Faso, Niger, Libya, dan sejumlah negara di kawasan Sahel, dengan pengoperasian beberapa pesawat militer.

Pangkalan udara utama Rusia di Kepulauan Kuril adalah Bandara Burevestnik.

Rusia menganggap kepulauan tersebut sebagai wilayah kedaulatannya, sementara Jepang menilainya sebagai wilayah pendudukan.

5, 6, 7. Negara Lainnya: China, Turki, Singapura

Pangkalan udara internasional China relatif terbatas.

China memiliki beberapa fasilitas di Djibouti, sementara landasan pacu di Kepulauan Spratly dan Paracel berada di wilayah sengketa di Laut China Selatan.

China juga memiliki akses ke pangkalan udara di negara-negara seperti Pakistan.

Turki memiliki kehadiran angkatan udara yang signifikan di Pangkalan Udara Gecitkale di Siprus Utara, yang dianggap Turki sebagai negara merdeka, meskipun secara internasional diakui sebagai bagian dari Siprus.

Singapura juga memiliki pangkalan udara internasional, meski didirikan dengan motif berbeda.

Karena keterbatasan wilayah, Angkatan Udara Singapura menempatkan dan melatih pesawatnya di lokasi seperti Guam, Australia, dan Thailand.

Mengapa AS Memiliki Begitu Banyak Pangkalan Udara?

Mengutip Slash Gear, perbedaan dalam jumlah pangkalan udara luar negeri AS dibandingkan negara lain berakar pada satu faktor utama.

Amerika Serikat menyesuaikan strategi militernya dengan ambisi globalnya, sementara negara lain umumnya memanfaatkan pangkalan udara untuk memperkuat dominasi regional.

China, misalnya, berfokus memperkuat kehadiran militernya di Laut China Selatan dan Samudra Hindia, wilayah yang secara geografis dekat dengan negaranya.

Dari perspektif AS, pangkalan udara luar negeri memungkinkan pengerahan kekuatan tanpa harus bergantung pada serangan jarak jauh dari daratan utama.

Pangkalan-pangkalan ini juga berfungsi sebagai pencegah terhadap ancaman terhadap sekutu dan kepentingan AS.

Di Eropa, pangkalan AS mendukung operasi NATO dan menjadi pencegah bagi Rusia.

Di Timur Tengah, pangkalan tersebut membantu AS mempertahankan pengaruh regional.

Sementara di kawasan Indo-Pasifik, pangkalan udara AS memungkinkan pengawasan ketat terhadap China, terutama terkait Taiwan, sekutu dekat AS yang menjadi sumber ketegangan.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.