TRIBUNJAMBI.COM - Kabar pengeroyokan terhadap seorang oknum guru berinisial AS oleh siswanya sendiri di sebuah SMK di Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi mulai menemukan titik terang.
Bunga (nama samaran), seorang siswi kelas 2 ATP yang berada di lokasi kejadian, membeberkan kronologi yang memicu kemarahan para siswa hingga berujung pada tindakan fisik.
Kata dia, emosi siswa meledak bukan tanpa alasan.
Emosi itu kata dia, karena ucapan sang guru yang dinilai merendahkan profesi dan harga diri orang tua mereka.
Bunga mengungkapkan ketegangan sebenarnya sudah dimulai sehari sebelum insiden penamparan terhadap Lupi (salah satu siswa).
Konflik tersebut dipicu oleh masalah sepele, yakni pintu kelas.
Namun, situasi memanas ketika AS mulai melontarkan kata-kata yang menyinggung ranah pribadi para siswa.
Berawal dari Masalah Pintu dan Makian
Bunga menceritakan saat itu ia diminta rekannya, Jamil, untuk menutup pintu kelas atas permintaan rekannya, Jamil.
Baca juga: Pemprov Bantah Gubernur Tulis Surat Terbuka terkait Pengeroyokan Guru di SMK 3 Tanjabtim
Baca juga: Apa Itu Amfetamin? Pengemudi Mobil Tabrak Lari Beruntun Berakhir Seruduk Polda Jambi Positif
Baca juga: Jadwal dan Lokasi Listrik Padam di Jambi Hari Ini Senin 19 Januari 2026
Namun, AS merasa tersinggung dengan tindakan tersebut dan menyuruh pintu dibuka kembali sambil memarahi para siswa dengan sebutan "kurang ajar".
Saat masuk ke kelas, AS dikabarkan langsung meluapkan emosinya dengan kata-kata yang dinilai sangat kasar oleh para siswa.
"Beliau ini marah-marah dengan kami semua, bilang kami kurang ajar cuma masalah pintu ditutup. Terus ujung-ujungnya dia bawa-bawa ayah kami," ungkap Bunga dengan nada kecewa.
Para siswa merasa terhina ketika profesi dan perjuangan ayah mereka dalam membayar uang komite sekolah justru dijadikan senjata oleh AS untuk merendahkan mereka.
Bagi para siswa, ucapan tersebut adalah penghinaan terhadap kepala keluarga yang telah bersusah payah membiayai pendidikan mereka.
Bunga, yang juga melihat jelas detik-detik AS menampar rekannya yang bernama Lupi, menegaskan bahwa akumulasi sakit hati karena hinaan terhadap orang tua itulah yang memicu keributan.
"Masalah awal itu pintu, tapi beliau tersinggung dan membawa-bawa ayah kami. Itu yang membuat kami benar-benar tersinggung," pungkasnya. Kesaksian ini kini menjadi bahan pertimbangan penting dalam melihat latar belakang terjadinya aksi pengeroyokan tersebut.
Tabir di balik insiden pengeroyokan seorang guru di salah satu sekolah di Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi akhirnya tersingkap dari sudut pandang Siswa.
Muhammad Lupi Fadila, salah satu siswa yang terlibat, membeberkan kronologi versinya yang memicu kemarahan massa siswa.
Kemarahan itu hingga berujung pada aksi kekerasan di area kantor sekolah.
Menurut Lupi, ketegangan bermula dari kesalahpahaman di ruang kelas saat jam pelajaran hampir usai.
Situasi kelas yang bising membuat Lupi spontan berteriak meminta rekan-rekannya diam.
Namun hal itu justru memicu reaksi keras dari sang guru.
Lupi mengaku terkejut saat guru tersebut tiba-tiba masuk ke kelas tanpa permisi kepada guru yang sedang mengajar dan langsung mencari siapa yang berteriak.
"Tiba-tiba beliau langsung masuk ke dalam kelas tanpa permisi ke guru yang ada di dalam, langsung tanya 'siapa yang bilang woi?'. Terus saya jawab 'saya Prince' kayak gitu, terus spontan saya ke depan langsung ditampar," ungkap Lupi.
Baca juga: Polda Jambi Selidiki Laporan Guru SMKN 3 Tanjab Timur soal Pengeroyokan
Baca juga: Cek Fakta: Benarkah Gubernur Jambi Tulis Surat ke Presiden Terkait Kasus SMK 3 Tanjabtim?
Menariknya, penggunaan panggilan "Prince" ternyata merupakan permintaan khusus dari sang guru sendiri.
Lupi menjelaskan bahwa guru tersebut kerap marah jika disapa dengan sebutan "Bapak" dan lebih memilih dipanggil dengan sebutan tersebut.
Ejekan di Kantor Hingga Pukulan di Hidung
Situasi semakin memanas ketika para siswa menuntut permintaan maaf sang guru karena dianggap telah menghina orang tua salah satu siswa.
Meski sudah dimediasi oleh guru lain dan komite sekolah untuk berpidato di depan siswa, sang guru justru membahas hal lain yang memicu kekecewaan.
Puncak pengeroyokan terjadi saat sang guru dibawa ke kantor oleh Bapak Komite.
Lupi mengeklaim sang guru justru mengejek dan tersenyum sinis ke arah para siswa.
Saat Lupi mendekat untuk meminta kejujuran, ia mengaku justru mendapat bogem mentah.
"Pas saya sampai depan muka dia, dia langsung meninju saya bagian hidung. Pas dia ninju itu, kebetulan kawan saya yang di dekat-dekat dia itu lihat semua. Spontan kawan saya langsung mengeroyok dia. Sebenarnya kalau enggak ada dia ninju duluan, enggak ada pengeroyokan itu," tegas Lupi.
Lupi menekankan bahwa aksi pengeroyokan tersebut merupakan reaksi spontan rekan-rekannya setelah melihat dirinya ditampar di kelas dan dipukul di bagian hidung saat berada di area kantor.
Hingga kini, kasus tersebut menjadi perhatian serius pihak otoritas pendidikan dan keamanan setempat untuk dicarikan solusi terbaik.
Guru SMK yang dikeroyok siswanya di SMKN 3 Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, akhirnya lapor polisi.
Guru mata pelajaran Bahasa Inggris itu melapor ke Polda Jambi dan menjalani pemeriksaan hingga Kamis (15/1/2026) malam.
Guru bernama Agus Saputra itu membawa hasil visum usai dikeroyok siswanya dan videonya viral di media sosial.
Lebih kurang 5 jam, Agus Saputra diperiksa sambil didampingi kakak kandungnya, nasir.
Baca juga: PGRI Jambi Kecam Pengeroyokan Guru di SMKN 3 Tanjabtim, Kekerasan Dinilai Cederai Marwah Pendidikan
Baca juga: Ironi Siswa SMA di Bungo Terganggu Dengar Bising Deru Mesin PETI saat Belajar
Agus melaporkan aksi kekerasan dan penganiayaan yang dialaminya.
Pengakuannya, Agus mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuhnya seperti muka, tangan dan punggung.
Selain itu, Agus juga mengaku trauma.
Kakak kandung Agus, Nasir mengatakan bahwa langkah hukum ini diambil karena adiknya merasa dirugikan terlebih secara mental setelah kasus ini viral di sosial media.
"Kondisi adik saya sedikit pusing, kita bikin laporan dari jam empat sore. Adik saya dirugikan secara mental dan sikis terlebih di medsos. Karena kita warga negara kita berhak melapor," kata Nasir pada Kamis (15/1/2026) malam.
Ia mangatakan bahwa pasca kejadian Aus telah melakukan visum. Di mana ada beberapa luka lebam di tubuhnya yang juga akan menjadi bukti untuk pihak kepolisian.
"Sudah ada visum dan ada bekas lebam," ujarnya.
Sementara itu, Agus yang juga ahdir ke Polda Jambi enggan memberikan banyak komentar atas kejadian ini.
Diketahui laporan tersebut ditujukan ke beberapa siswa dalam video yang viral di sosial media. Nasir mengatakan ada lebih dari satu orang yang dilaporkan.