TRIBUN-SULBAR.COM – Pramugari Esther Aprilita Sianipar menjadi sorotan publik setelah pesawat Indonesia Air Transport (IAT) jenis ATR 42-500 yang ditumpanginya jatuh di wilayah Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).
Hingga kini, kabar Esther belum diketahui.
Ia merupakan warga Rancamaya, Desa Bojong Koneng Ciherang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Baca juga: Petugas SAR Bermalam di Jurang 200 Meter Jaga Mayat Korban Pesawat ATR, Besok Pagi Dievakuasi
Baca juga: Satu Korban Pesawat ATR Jatuh Ditemukan Dalam Jurang Gunung Bulusaraung
Sebelum insiden, Esther sempat berkomunikasi dengan ibunya, J. Siburian. Pada Jumat (16/1/2026), Esther mengabarkan bahwa ia berada di Yogyakarta dalam rangka tugas.
“Chat terakhir hari Jumat malam. Kami masih chatting. Dia bilang dia di Jogja. Biasanya kalau seperti itu komunikasinya aku sudah di sini mah, di sini mah,” ujar J. Siburian.
Ayah Esther, Adi Sianipar, menambahkan putrinya tidak membalas chat keesokan harinya.
“Terakhir komunikasi jam 12 siang melalui WA. Ternyata HP-nya sudah tidak aktif. Esoknya saya mendapat kabar dari perusahaan tempat dia bekerja bahwa pesawat yang ditumpangi hilang kontak,” kata Adi.
Hingga Minggu (18/1/2026) pagi, tim SAR masih mencari keberadaan 10 penumpang pesawat, termasuk Esther.
Keluarga berharap mukjizat.
“Kami berharap mereka semua ditemukan dalam keadaan selamat,” ucap Adi.
Data dan Fakta Pesawat Jatuh
Pesawat ATR 42-500 milik IAT jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026).
Pesawat buatan tahun 2000 seri 611 ini lepas landas dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Makassar. Hilang kontak saat akan mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
Puing-puing pesawat pertama ditemukan pendaki tak jauh dari lokasi jatuh.
Hingga pagi ini, tim SAR baru menemukan satu korban dari total 10 orang.
Evakuasi masih berlangsung di medan ekstrem, dengan ratusan tim SAR dibantu warga lokal.
Pesawat membawa 10 orang, termasuk tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, menyebut pesawat kemungkinan menabrak tebing atau lereng Pegunungan Bulusaraung.
Pesawat digunakan KKP untuk pengawasan oleh Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan.(*)