Saksi Kata: Cerita Bastiana Selamatkan Diri dari Banjir di Siau, Terbangun Saat Lumpur Masuk Rumah
January 19, 2026 01:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Banjir bandang melanda wilayah Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Provinsi Sulawesi Utara, pada Senin (5/1/2026) lalu, sekitar pukul 04.00 Wita. 

Bencana tersebut menyebabkan belasan warga meninggal dunia, banyak rumah hancur dan terbawa arus, serta merusak sejumlah fasilitas umum termasuk markas polisi setempat.

Jurnalis Tribunmanado.co.id, Rizali Posumah, yang berada di lokasi pascabencana, menyaksikan langsung dampak kerusakan di Kampung Peling, Kecamatan Siau Barat.

Seorang warga yang selamat dari peristiwa itu, Bastiana Olongsongke, menceritakan detik-detik ia menyelamatkan diri dari bencana tersebut.

Baca juga: Saksi Kata Korban Banjir di Siau Sitaro Sulut: Peluk Cucu, Lari dengan Baju di Badan

Berikut petikan wawancara jurnalis Tribun Manado dengan Bastiana Olongsongke:

Rizali: Saat peristiwa itu terjadi, air pertama kali menghantam atau masuk ke lingkungan rumah?
Bastiana: Masuk ke lingkungan rumah.

Rizali: Bagaimana situasinya waktu itu, Bu?
Bastiana: Kami sementara tidur jadi tidak tahu kalau hujan deras. Sementara hujan, kami terbangun. Saat terbangun, lumpur sudah di dalam rumah. Jadi saya sempat lari. Yang lain juga sempat lari. Cuma ada tetangga, dua orang, itu tidak sempat lari dan jadi korban. Ada lima rumah sudah tidak ada. Semua terbawa arus.

Rizali: Waktu itu apa tanda pertama yang sampai membuat Ibu sadar bahwa ini akan terjadi bencana?
Bastiana: Hujan.

Rizali: Ibu waktu itu lagi tidur atau?
Bastiana: Lagi tidur. Terbangun itu saat sudah ada lumpur di dalam rumah.

Rizali: Ada suara batu?
Bastiana: Iya.

Rizali: Dalam waktu berapa lama Ibu sadar ada bencana dan air semakin banyak?
Bastiana: Sekitar sepuluh menit. Saya lari dari rumah, di belakang rumah sudah bunyi.

Rizali: Waktu itu Ibu bersama keluarga?
Bastiana: Saya sendiri di rumah. Lalu saya bangunkan adik saya di rumah sebelah, ada tiga orang di dalam rumah itu. Jadi saya bangunkan dan kami lari.

Rizali: Saat air sudah masuk ke rumah, Ibu langsung lari keluar?
Bastiana: Iya, lari keluar karena sudah bunyi.

Rizali: Bisa Ibu ceritakan kondisi waktu itu?
Bastiana: Gelap. Gelap sekali. Saya lari, waktu itu tidak ada senter, lampu pun mati.

Rizali: Ibu lari bersama anak?
Bastiana: Sama keponakan. Umurnya sekitar delapan tahun. Papa dan mamanya ada di dalam rumah mereka, di sebelah rumah saya.

Rizali: Pada saat itu Ibu kepikiran ke mana untuk menyelamatkan diri?
Bastiana: Ya cuma lari saja. Saya ikut ke mana orang banyak pergi.

Rizali: Sempat terjatuh?
Bastiana: Sempat terjatuh. Ada luka, tapi sedikit saja.

Rizali: Pada saat itu situasi sudah diliputi kepanikan ya, Bu?
Bastiana: Iya. Situasi sudah panik. Saya sempat jatuh.

Rizali: Setelah itu Ibu dan korban lain menuju ke mana?
Bastiana: Ke pantai. Kita lari ke pantai, ke rumah-rumah tetangga. Masih di Kelurahan Peling. Waktu ke sana, jalannya dipenuhi lumpur.

Rizali: Saat itu sudah ada pemerintah?
Bastiana: Belum. Tapi karena kondisi juga masih gelap, jadi saya tidak tahu saat itu sudah ada dari pemerintah atau belum.

Rizali: Siapa yang pertama ingin Ibu selamatkan?
Bastiana: Keponakan dan adik saya.

Rizali: Ibu sempat menyelamatkan barang berharga?
Bastiana: Tidak, hanya baju di badan. Karena rumah saya sudah dipenuhi lumpur.

Rizali: Jalur ke pantai aman atau terdampak juga?
Bastiana: Terdampak juga. Tapi banyak orang juga lari ke situ.

Rizali: Kondisinya parah?
Bastiana: Tidak terlalu parah di situ.

Rizali: Pemerintah datang jam berapa?
Bastiana: Pada saat itu ada pemerintah kampung. Kalau dari kabupaten mungkin hari ketiga mereka datang.

Rizali: Pemerintah kelurahan datang pukul berapa?
Bastiana: Pagi sudah ada dan mendata.

Rizali: Sebelum ibu lari, airnya waktu itu sampai di mana?
Bastiana: Sudah sampai di lutut. Lumpur dan air. Sudah ada juga batu-batu kecil. Lima menit kemudian baru terdengar bunyi batu besar.

Rizali: Ibu sempat terjebak?
Bastiana: Iya. Saya sempat terjebak di jalan. Bingung mau ke mana.

Rizali: Lalau bagaimana cara ibu akhirnya bisa lari?
Bastiana: Saat kami lari, jalur yang kami lewati sudah ada airnya. Jalanan itu sudah penuh air.

Rizali: Saat lari sempat dengar orang teriak minta tolong?
Bastiana: Tidak. Semua sudah berlarian. Dan karena gelap kami sudah tidak sempat memperhatikan sekeliling.

Rizali: Setelah bencana Ibu ke mana?
Bastiana: Ke rumah tetangga di pantai, semua kumpul di sana.

Rizali: Adakah yang membantu?
Bastiana: Tidak. Semua sudah fokus lari menyelamatkan diri.

Rizali: Kalau bisa mengulang waktu, apa yang ingin Ibu lakukan?
Bastiana: Cuma menyelamatkan diri.

Rizali: Sudah berapa lama di pengungsian?
Bastiana: Dari hari Senin sampai sekarang, sudah empat hari.

Rizali: Bantuan datang kapan?
Bastiana: Baru kemarin.

Rizali: Apa yang dibutuhkan pengungsi?
Bastiana: Kasur, baju, selimut, alat mandi, alat dapur.

Rizali: Kondisi rumah bagaimana?
Bastiana: Dapur rusak. Ada batu besar di dalam.

Rizali: Masih ingin tinggal di situ?
Bastiana: Saya sudah trauma untuk kembali ke situ.

Rizali: Apa harapan ke pemerintah?
Bastiana: Minta relokasi.

Rizali: Barang apa saja yang hilang di rumah?
Bastiana: Barang dapur semua hilang, baju masih ada tapi kena lumpur.

Rizali: Kondisi rumah sekarang?
Bastiana: Belum dibersihkan. Masih ada lumpur dan batu besar di dalam rumah.

Rizali: Ada keluarga luka parah?
Bastiana: Tidak ada, tapi banyak keluarga yang se-kompleks dengan saya rumahnya sudah tidak ada sama sekali. Ada yang masih ada rumah tapi memang sudah tidak bisa dihuni.

Rizali: Kondisi keponakan?
Bastiana: Tidak terluka.

Rizali: Terima kasih, Bu.
Bastiana: Iya, terima kasih banyak.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.