PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Kepala Operasional Agen Elpiji di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Roni, mengatakan, kelangkaan elpiji 3 kg di Pangkalpinang dan sejumlah wilayah di Bangka Belitung belakangan ini dipicu oleh kendala serius pada jalur distribusi laut.
Roni menyebutkan, keterlambatan pasokan elpiji 3 kg terutama terjadi pada distribusi dari Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Kelapa, Kabupaten Bangka Barat.
Adapun pasokan dari SPBE Pagarawan relatif masih kondusif.
"Kalau dari SPBE Pagarawan masih aman. Yang terkendala itu dari SPBE Kelapa karena gas masuk dari Palembang (Sumatera Selatan) dan sangat bergantung pada kondisi cuaca," kata Roni kepada Bangka Pos, Minggu (18/1/2026).
Ia menyebutkan, sebelumnya ada imbauan dari syahbandar dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) agar kapal pengangkut tidak berlayar akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi.
"Awalnya memang ada larangan berlayar. Sudah dicoba berlayar, tetapi yang biasanya 10 jam sampai ke Mentok (Bangka Barat), sekarang bisa sampai 18 jam. Itu pun belum tentu bisa sandar karena ketinggian air dan gelombang jadi hambatan," tutur Roni.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat agen elpiji tidak memiliki banyak pilihan.
Sebab, pangkalan sebagai ujung tombak penyaluran ke masyarakat sangat bergantung pada ketersediaan pasokan dari agen.
"Kami sebagai agen tidak bisa berbuat banyak kalau bahan tidak bisa sampai ke Mentok. Pangkalan pun akhirnya kosong karena suplai memang terhambat," katanya.
Roni menuturkan, pihaknya mengambil pasokan elpiji dari dua SPBE, yakni SPBE PT CBM dan SPBE PT Sinarindo, dengan alokasi harian yang dibagi ke masing-masing SPBE.
"Untuk SPBE Sinarindo relatif normal, tetapi pembagiannya mencakup Pangkalpinang, Bangka induk, dan Bangka Tengah. Bahkan hampir seluruh wilayah Bangka sempat mengambil ke Sinarindo karena di Kelapa tidak ada bahan," ujarnya.
Roni menyebut kendala utama hingga saat ini masih terjadi di SPBE Kelapa, terutama terkait cuaca dan sulitnya kapal pengangkut elpiji merapat ke Mentok.
"Sudah hampir tiga minggu ini kami terpaksa libur setiap hari Jumat dan baru bisa kerja lagi hari Minggu. Dalam seminggu, hanya tiga hari kami bisa suplai full alokasi, sisanya tiga hari hanya setengah alokasi," katanya.
Meski demikian, Roni menyatakan, pasokan elpiji 3 kg di Pangkalpinang masih bisa dikendalikan selama tidak terjadi pembelian panik oleh masyarakat.
"Untuk Pangkalpinang masih bisa kondusif, asal masyarakat tidak melakukan panic buying," katanya.
Lebih lanjut, Roni mengatakan, untuk alokasi penyaluran hari Kamis, elpiji 3 kg baru bisa ditarik dan disuplai pada Minggu (18/1/2026).
Hingga pukul 16.27 WIB, baru sekitar 1.120 tabung yang berhasil disalurkan.
"Hari ini (kemarin) baru bisa suplai dua truk atau sekitar 1.120 tabung. Truk ketiga sampai keenam diperkirakan paling cepat baru tiba di gudang sekitar pukul 20.00 WIB," ujar Roni.
Dalam kondisi normal, lanjutnya, agen biasanya menyalurkan sekitar 35 hingga 36 truk elpiji 3 kg, masing-masing berisi 560 tabung yang didistribusikan ke 115 pangkalan di seluruh Kota Pangkalpinang setiap pekan.
"Namun untuk minggu ini, kami hanya mampu menyalurkan sekitar 25 truk dengan jumlah pangkalan yang sama," kata Roni.
Ia berharap, kondisi cuaca segera membaik agar distribusi elpiji bersubsidi 3 kg kembali normal dan kebutuhan masyarakat, khususnya kelompok rumah tangga dan usaha mikro, dapat terpenuhi secara optimal.
Sebelumnya, Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan, dan UMKM Kota Pangkalpinang Andika Saputra, mengatakan, kelangkaan elpiji 3 kg bukan disebabkan oleh pengurangan kuota, melainkan akibat terganggunya distribusi pasokan dari SPPBE.
"Kelangkaan elpiji 3 kilogram saat ini disebabkan keterlambatan kapal akibat faktor pasang surut air laut dan kondisi cuaca. Hal ini berimbas pada stok di SPPBE dan tertundanya pengisian ke agen-agen elpiji di seluruh wilayah Bangka," ujar Andika kepada Bangka Pos, Kamis (15/1/2026).
Ia menyebutkan, kekosongan stok elpiji 3 kg sudah terjadi sejak 6 Januari 2026 dan kembali berulang pada 15 Januari 2026.
Bahkan hingga esok harinya, kata Andika, kapal pengangkut elpiji dilaporkan belum dapat sandar untuk proses pengisian.
"Untuk SPPBE Sinarindo, informasinya kapal baru bisa sandar besok sore (Jumat, 16/1/2026–red) apabila cuaca memungkinkan. Namun untuk SPPBE Kelapa, sampai saat ini belum ada kepastian jadwal kedatangan kapal," tuturnya.
Andika menambahkan, meski terdapat rencana pengisian pada akhir pekan, keterlambatan distribusi tetap berdampak pada pasokan elpiji 3 kg di tingkat pangkalan.
Sebab, ada antrean distribusi yang belum terlayani.
"Pada Sabtu dan Minggu dijadwalkan ada pengisian untuk Sinarindo. Namun, saat ini masih ada antrean distribusi yang belum terlayani. Sejak Selasa lalu, sejumlah barang masih tertahan karena stok belum tersedia," ujarnya.
Lebih lanjut, Andika mengatakan, pihaknya telah melakukan pengaturan distribusi dengan sistem pembagian wilayah agar pasokan yang tersedia dapat disalurkan secara merata.
"Kami membagi distribusi per wilayah setiap harinya agar ketika gas masuk, pendistribusian bisa lebih terkontrol dan tepat sasaran," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Andika juga mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak panik menyikapi kondisi kelangkaan elpiji 3 kg.
"Membeli elpiji 3 kg sesuai kebutuhan, tidak melakukan penimbunan, serta menggunakan gas secara bijak dan hemat," ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat membeli elpiji bersubsidi hanya di pangkalan resmi serta memastikan harga sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
"Kami pastikan pemerintah bersama pihak terkait terus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan elpiji 3 kilogram masyarakat. Mari kita hadapi kondisi ini dengan tenang dan bijak," tutur Andika. (t2)