SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara memulai pembersihan lumpur di area persawahan pascabanjir.
Dua kecamatan, yaitu Muara Batu dan Sawang, menjadi lokasi awal, sementara kecamatan lain akan masuk tahap berikutnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara, Erwandi, Senin (19/1/2026), menjelaskan bahwa Kementerian Pertanian RI menggandeng Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk membersihkan lahan pertanian.
“TNI akan membersihkan sawah yang rusak ringan, sedang, dan berat, sekaligus menggandeng pemilik lahan untuk bekerja membersihkan sawahnya sendiri dengan upah Rp 100.000 per hari,” ujar Erwandi.
Erwandi menegaskan, pembayaran bukan langsung dari Kementerian Pertanian, melainkan oleh TNI sebagai mitra Kementerian.
Sistem tenaga kerja yang digunakan adalah padat karya, di mana petani membersihkan lahannya sendiri dan menerima insentif harian.
Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman sebelumnya menyatakan, seluruh biaya pembersihan lahan pertanian pascabencana di Sumatera ditanggung oleh APBN.
Untuk Aceh Utara, tambahan dana sebesar Rp 5,1 miliar diajukan guna membersihkan seluruh lahan dari lumpur.
Program ini diluncurkan pada 15 Januari 2026 di Desa Pinto Makmur, Kecamatan Muara Batu.
Dampak banjir terhadap lahan sawah di Sumatera cukup luas, mencapai 98.002 hektar.
Aceh menjadi provinsi paling terdampak dengan 54.233 hektar di 21 kabupaten/kota, disusul Sumatera Utara 37.318 hektar di 15 kabupaten/kota, dan Sumatera Barat 6.451 hektar di 14 kabupaten/kota.
Erwandi berharap pembersihan lahan bisa selesai segera, sehingga petani dapat kembali bercocok tanam dan pemulihan ekonomi pascabanjir berjalan lebih cepat.
Baca juga: Pemulihan Sawah di Aceh Utara Dimulai, Wagub Fadhlullah Dampingi Mentan Pimpin Groundbreaking
Sebelumnya, Rehabilitasi sawah korban banjir dipastikan menggunakan sistem padat karya.
Artinya, petani pemilik lahan mengerjakan sendiri sawahnya dengan upah Rp 100.000 per hari.
Seluruh biaya itu ditanggung oleh Kementerian Pertanian RI.
Hal itu disampaikan Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, atau yang akrab disapa Ayahwa, setelah berbicara dengan Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman dan Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi di Desa Pinto Makmur, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (15/1/2026).
"Sistemnya padat karya, petani kerjakan sendiri sawahnya. Upah kerja Rp 100.000 per hari. Alat pertanian diberikan oleh Kementerian Pertanian RI untuk pembersihan lahan pertanian," ucap Ayahwa.
Dia mengapresiasi dukungan Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman dan Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi untuk Kabupaten Aceh Utara.
Amran, Ayahwa, dan Titiek Soeharto pun berbicara dengan petani, menjelaskan mekanisme pembayaran upah tersebut.
Selain bantuan itu, Aceh Utara mendapatkan bantuan berupa pupuk Urea 200 ton, benih padi 836 ton, traktor roda dua 32 unit, dan traktor roda empat sebanyak 11 unit.
"Setelah pembersihan, kita harap petani bisa langsung memulai musim tanam. Terima kasih atas dukungan pemerintah pusat dan Aceh Utara memastikan siap berkolaborasi untuk pemulihan pascabanjir," ucap dia.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi, atau yang akrab disapa Titiek Soeharto memastikan komisinya yang menangani bidang pertanian mendukung upaya penuh pemulihan lahan pertanian dan perikanan.
"Kami dukung penuh pemulihan seluruh daerah bencana, termasuk Aceh Utara. Kita ingin segera penghidupan petani pulih dan memulai bersawah kembali," kata dia.
Baca juga: Kementerian PU Ingatkan Pengguna Patuhi Batas Tonase Jembatan Bailey di Wilayah Terdampak Bencana
Baca juga: Emas Murni di Lhokseumawe Rp 7,5 Juta Per Mayam Hari Ini, Cek Rinciannya
Baca juga: Langsa Panas Menyengat Hari Ini, Cek Prediksi Cuaca Per 19 Januari 2026
Sumber: Kompas.com