TRIBUNMANADO.CO.ID - Tribun Manado mewawancarai Ibu Erna Mangengke, salah satu warga terdampak banjir bandang Siau, Sitaro.
Erna menceritakan detik-detik kejadian yang mengakibatkan rumahnya hanyut dan merenggut nyawa tetangganya.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 02.00 Wita.
Baca juga: Tanggap Darurat Banjir Bandang di Siau Sitaro Ditutup: 17 Meninggal, 2 Dinyatakan Hilang
Erna sedang tidur saat banjir bandang menghantam rumahnya, yang berada dekat dengan jalan raya di Peling, Kecamatan Siau Barat, Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara.
Subuh itu, ia terbangun oleh suara deruh air bah.
Ternyata air sudah masuk ke bagian dalam rumah.
Diliputi rasa takut, ia pun langsung bangkit dan membangunkan suaminya.
Tanpa pikir panjang, suaminya pun langsung melompat dari tempat tidur dan ikut bersamanya lari menuju jalan raya tanpa memikirkan lagi harta benda mereka.
Ia mengenang.
Meski panik, ia sempat mengambil batu lantas mencari tiang listrik untuk diketuk agar orang-orang terbangun dan sadar kalau banjir sudah menerjang kampung mereka.
Bencana ini membuat keluarga mereka kehilangan rumah.
Berikut selengkapnya wawancara Jurnalis Tribun Manado, Rizali Posumah dengan Erna Mangengke (68) korban banjir di Kepulauan Siau:
Tribun Manado: Dengan ibu siapa?
Ibu Erna: Erna Mangengke umur 68 tahun asal desa Peling Siau.
Tribun Manado: Ibu boleh cerita detik-detik saat terjadinya peristiwa itu, ibu sedang di mana pada saat itu?
Ibu Erna: Saya saat itu masih tidur. Kaget dengar itu suara air. Terbangun, Lalu saya panggil suami. Bangun, bangun, lari.
Tribun Manado: Saat itu ibu ada tinggal dengan siapa saja di rumah?
Ibu Erna: Saya bersuami dan anak.
Tribun Manado: Sekitar jam berapa banjir datang?
Ibu Erna: Jam dua lewat dini hari.
Tribun Manado: Apa yang Ibu rasakan saat itu?
Ibu Erna: Panik. Air tiba-tiba masuk ke rumah, besar dan arusnya sangat kencang.
Tribun Manado: Seberapa tinggi air saat itu?
Ibu Erna: Sampai lutut, dan bukan cuma air, tapi juga kerikil dan batu ikut terbawa.
Tribun Manado: Ibu dan keluarga menyelamatkan diri ke mana?
Ibu Erna: Kami keluar rumah lalu lari ke pantai. Menurut kami, pantai lebih aman karena air tidak besar di sana.
Tribun Manado: Apakah ada anggota keluarga yang terluka?
Ibu Erna: Suami saya sempat jatuh, tapi tidak luka. Kami lari bersama anak dan cucu, yang berusia 5 tahun dan 3 tahun.
Tribun Manado: Bagaimana kondisi rumah Ibu sekarang?
Ibu Erna: Hilang semua, lenyap. Tidak ada yang tersisa.
Tribun Manado: Apakah ada korban lain di sekitar rumah Ibu?
Ibu Erna: Ada tetangga di sebelah, suami istri. Mereka meninggal. Saya baru tahu keesokan paginya.
Tribun Manado: Saat kejadian, apakah sempat mendengar teriakan minta tolong?
Ibu Erna: Kami sempat memanggil mereka untuk keluar, tapi tidak ada jawaban.
Tribun Manado: Apakah sempat menyelamatkan barang-barang?
Ibu Erna: Tidak sama sekali. Kami hanya pakai baju di badan. Semua harta benda habis.
Tribun Manado: Kapan bantuan pemerintah mulai datang?
Ibu Erna: Pagi harinya, dari pihak kampung. Malam Senin kami dibawa ke tempat pengungsian ini.
Tribun Manado: Bagaimana kondisi di pengungsian?
Ibu Erna: Makan cukup, tapi masih banyak kebutuhan seperti baju, selimut, peralatan mandi, dan kasur.
Tribun Manado: Apakah Ibu berharap rumah dibangun kembali di lokasi lama?
Ibu Erna: Tidak. Lokasi itu rawan bencana. Kami berharap direlokasi ke tempat yang lebih aman.
Tribun Manado: Apakah ini pertama kali Ibu mengalami bencana seperti ini?
Ibu Erna: Bukan. Pernah tahun 1974 dan 1986, tapi yang sekarang ini paling parah.
Tribun Manado: Apa harapan Ibu ke depan?
Ibu Erna: Kami berharap bisa dibangunkan rumah di tempat yang aman agar tidak mengalami kejadian seperti ini lagi.
Perlu Tribunners ketahui, Bencana ini melanda tujuh kelurahan dan desa di empat kecamatan.
Sebanyak 693 warga terdampak, dan 206 bangunan rusak.
Dari jumlah itu, 30 rumah hilang terseret banjir,
52 rumah rusak berat, 29 rusak sedang, dan 89 rusak ringan.
Satu kantor pemerintahan, yakni Mapolres Sitaro, ikut rusak.
Selain itu, satu bengkel, satu kios, dan tiga sekolah juga terdampak.
Korban jiwa mencapai 37 orang:
17 meninggal dunia
18 luka-luka
2 orang masih hilang.
Dan 693 jiwa mengungsi.
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini