Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta 2026 Bertepatan Ramadan, Ada Bagi Takjil untuk Masyarakat
January 19, 2026 04:14 PM

 

 
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Perayaan Tahun Baru Imlek di Yogyakarta tahun ini tak hanya menjadi penanda pergantian tahun, tetapi juga ruang perjumpaan lintas budaya.

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2026 akan kembali digelar selama tujuh hari, mulai 25 Februari hingga 3 Maret 2026, dengan menampilkan beragam ekspresi seni budaya yang merangkum kebersamaan di Kota Toleransi.

Ketua Panitia PBTY 2026 Jimmy Sutanto mengatakan, kepastian pelaksanaan kegiatan tersebut diperoleh setelah dilakukan sowan ke Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Senin (19/1/2026), untuk memastikan rencana penyelenggaraan PBTY tahun ini. Durasi tujuh hari, menurut dia, menjadi kekhasan PBTY Yogyakarta dibandingkan daerah lain.

“Kami sowan Ngarsa Dalem untuk memastikan rencana pelaksanaannya Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) untuk tahun 2026 ini,” ujar Jimmy, Senin (19/1/2026).

"Jadi, nanti akan dilaksanakan dari tanggal 25 sampai tanggal 3 Maret. Seperti biasa kita ada panggung utama merangkum semua pihak untuk sama-sama mentaskan seni budaya, sehingga suasana persatuan Indonesia itu tercermin di situ.

"Dan untuk kegiatan kita, itu terbesar di Indonesia. Nah, lain-lain kota hanya 1–2 hari. Kita dari 5 hari, tahun 2017 itu Ngarsa Dalem mengusulkan untuk jadi satu minggu.

Ia menjelaskan, pelaksanaan PBTY selama tujuh hari juga berkaitan dengan tradisi perayaan Tahun Baru Imlek yang berlangsung selama 15 hari dan ditutup dengan Cap Go Meh.

“Jadi, nanti dari tanggal 25 (Februari) sampai tanggal 3 Maret itu persis 7 hari. Dan kebiasaan orang Tionghoa itu hari ke-15 itu penutupan. Jadi merayakan tahun baru itu 15 hari, hari terakhir penutupan. Istilahnya Cap Go Meh. Cap Go itu 15, Meh itu malam. Nah, setelah itu kembali normal,” kata Jimmy.

Menurut Jimmy, esensi utama PBTY bukan sekadar perayaan Imlek, melainkan upaya merangkum seluruh unsur seni dan budaya lintas golongan untuk menampilkan kebersamaan.

“Nah, di dalam kegiatan ini yang penting adalah merangkum semua unsur golongan seni budaya untuk menampilkan kebersamaan di kesempatan ini,” ujarnya.

Tema PBTY tahun ini

Sementara itu, Wakil Ketua Pelaksana Panitia PBTY 2026 Subekti Saputra Widjaya mengatakan, PBTY tahun ini mengusung tema “Warisan Budaya Memperkuat Persatuan Bangsa.”

Tema tersebut dipilih untuk mencerminkan karakter Yogyakarta sebagai kota toleransi.

“Jogja itu terkenalnya City of Tolerance. Jadi yang di sini itu adem ayem, tentrem. Nah, kami juga ingin mencerminkan itu, baik itu di kesenian dan kebudayaannya. Semuanya warisan. Mau ada warisan seni kah, warisan budaya. Nah, dari beberapa—apa namanya—dari seni, dari manapun kita tampung. Kita tampilkan bareng-bareng, tujuannya itu,” kata Subekti.

Terkait konsep pertunjukan, Subekti menyampaikan bahwa PBTY 2026 tidak menghadirkan bentuk tampilan baru. Hal tersebut karena perayaan Imlek juga digelar secara besar-besaran di berbagai kota dan provinsi.

“Kalau untuk tampilan belum ada hal baru. Kebetulan ini kan dalam rangka Imlek ya. Dalam rangka Imlek itu di tiap kota, tiap provinsi itu juga merayakan besar-besaran. Jadi kami kalau mau menampilkan sesuatu yang baru itu juga kesusahan,” ujarnya.

Namun demikian, terdapat penyesuaian konsep karena PBTY 2026 berlangsung bertepatan dengan bulan Ramadan. Kondisi tersebut menjadi pembeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Tapi ini kan yang beda, di bulan Imlek ini juga merupakan bulan Puasa. Kalau tahun-tahun sebelumnya itu PBTY mulai jam 5 sore, kami tetap mulai jam 5 sore. Bedanya, panggungnya nanti diisi untuk masyarakat Jogja itu ngabuburit,” kata Subekti.

Bagi-bagi takjil

Selain itu, panitia juga merencanakan pembagian takjil bagi masyarakat yang datang ke lokasi acara.

“Jadi di stand-standnya juga nanti bisa ngabuburit di stand-stand itu. Dan kami juga menyediakan rencananya ada takjil dibagi. Di stand-stand sana nanti masyarakat bisa ambil takjil di sana,” ujar Subekti.

Jimmy menegaskan kembali bahwa perayaan Imlek di Yogyakarta diposisikan sebagai momentum, sementara tujuan utamanya adalah membangun nilai toleransi melalui seni dan budaya.

“Jadi kita tetap memantapkan pemikiran semula bahwa Tahun Baru (Imlek) ini hanya momentum. Tapi yang penting dengan seni budaya kita membangun Jogja toleran,” kata Jimmy.

Adapun lokasi PBTY 2026 tetap berada di kawasan Ketandan. Panggung utama direncanakan berada di Jalan Suryatmajan, sementara satu rangkaian acara khusus akan digelar di sepanjang Jalan Malioboro.

“Kalau lokasi acaranya tetap di Ketandan. Lalu untuk panggung utamanya sudah disetujui di Jalan Suryatmajan. Untuk titiknya nanti kami rundingkan lebih lanjut dan kami bangun sesuai dengan kondisi di lapangan,” ujar Subekti.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah Malioboro Imlek Carnival yang direncanakan berlangsung pada Sabtu, 28 Februari 2026.

“Lalu ada satu hari yang wilayahnya di sepanjang jalan Malioboro. Itu Malioboro Imlek Carnival yang rencana hari Sabtu, tanggal 28 Februari. Karnaval, karnaval ini yang akan membangun perhatian,” kata Subekti.

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta 2026 akan kembali menghadirkan ruang bersama bagi berbagai unsur seni dan budaya untuk tampil berdampingan, menandai perayaan Imlek sekaligus memperkuat semangat kebersamaan di Yogyakarta.

Apa itu Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY)?

Pekan Budaya Tionghoa (PBT) Yogyakarta adalah acara tahunan di Jogja, terutama di Kampung Ketandan, untuk merayakan dan mempromosikan akulturasi budaya Tionghoa-Jawa.

Acara yang biasanya digelar sepekan itu menampilkan berbagai atraksi seni, kuliner khas, pertunjukan Barongsai, Wayang Potehi, serta pameran budaya, yang berlangsung di sekitar perayaan Tahun Baru Imlek untuk mempererat persaudaraan dan kekayaan multikultural. 
 
Lokasi:

Terpusat di Kampung Ketandan, kawasan Malioboro, Yogyakarta.

Waktu:

Biasanya diadakan sekitar perayaan Imlek, berlangsung selama beberapa hari.

Acara:

Seni Pertunjukan: Tari tradisional, Barongsai, Liong Samsi, Wayang Potehi, dan atraksi seni budaya Tionghoa lainnya.

Kuliner:

Pameran dan jajanan kuliner khas Tionghoa.

Pameran:

Memperlihatkan perpaduan budaya Tionghoa-Jawa di Rumah Budaya Kampung Ketandan.

Karnaval:

Karnaval Imlek Malioboro yang meriah.

Tujuan Pekan Budaya Tionghoa (PBTY): 

Memperkuat toleransi, melestarikan tradisi, dan menunjukkan identitas multikultural Yogyakarta.

Penyelenggara:

Jogja Chinese Art Culture Center (JCACC) bekerja sama dengan pemerintah daerah. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.