TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Pembudidaya Rumput Laut di Pantai Amal, Tarakan, Kalimantan Utara berharap adanya pabrik pengolahan rumput laut di daerah mereka.
Kehadiran pabrik dinilai dapat meningkatkan nilai jual rumput laut yang selama ini hanya dijual dalam bentuk kering dengan harga sekitar Rp10 ribu per kilogram dan harus melalui banyak perantara serta pengepul.
Sebagaimana dikatakan Abdul Muis, Pembudidaya Rumput Laut di Pantai Amal. Jika ada pabrik rumput laut, tentu nantinya tak lagi panjang berokrasinya dalam proses penjualan. Termasuk tak harus melalui pengepul.
Diketahui, dulu sempat dibangun gedung yang merupaksan aset Dinas Kelautan dan Perikanan (nomeklatur penamaan dulu sebelum berubah sekarang menjadi Dinas Perikanan Tarakan). Dulunya gedung itu difungsikan untuk membuat rumput laut mengelola menjadi bahan setengah jadi dalam bentuk chip.
Baca juga: Curhat Pembudidaya Rumput Laut di Tarakan: Harga Turun, Hanya Rp 10 Ribu Per Kilo
Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Dinas Perikanan Kota Tarakan, Husna Ersant Dirgantara membenarkan hal tersebut.
Pihaknya mengatakan keinginan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk mendorong hilirisasi rumput laut. Namun, pabrik pengolahan rumput laut, khususnya pabrik chip atau karagenan di Pantai Amal masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait pengolahan limbah.
“Untuk pengolahan chip rumput laut itu kan menggunakan bahan kimia seperti KOH dan HCl. Limbahnya perlu diolah lagi, dan investasi untuk pengolahan limbah itu cukup besar,” ujar Husna Ersant Dirgantara.
Ia melanjutkan memang benar dulu pabrik itu dibuat untuk pengolahan rumput laut. Namun lankutnya ada persoalan di limbah karena untuk pengolahan rumpat laut ini perlu bahan kimia.
"Nah itu butuh investasi untuk pengolahan limbahnya agak besar nah kemarin ada perusahaan dari Bali yang untuk pengolahan kandungan air rumput laut. Nanti hasilnya akan dijadikan bahan bakar biofuel dan pupuk," ucap Husna Ersant Dirgantara.
Baca juga: Panen Raya Rumput Laut di Tanjung Batu, Wakil Wali Kota Tarakan Beri Apresiasi Bagi Kodaeral XIII
Untuk perusahaan yang ada di Bali sudah melakukan ekspor ke India. Mereka kemarin ke Tarakan dan sudah dilakukan penawaran kerja sama melalui Perumda Agrobisnis Mandiri.
Mereka nantinya tidak lagi membeli bentuk kering tapi dalam bentuk basah. Dan sebenarnya lebih diuntungkan karena pembudidaya tak perlu lagi mengeringkan.
"Lebih sekejap waktu dan perputaran uang pun lebih cepat karena panen langsung dalam kondisi basah langsung masuk pabrik diolah jadi kan. Mereka nggak perlu lagi tempat penjemuran, kalau keringkan 2-3hari," ujarnya.
Dinas Perikanan Kota Tarakan lanjutnya dalam hal ini memberikan fasilitasi.
Karena lanjutnya dumput laut ini budidaya dan di perairan laut. Untuk perairan laut kan sekarang kewenangannya ada di provinsi.
"Cuma masalahnya pembudidayanya kan disini nah ini makanya kita sih lebih cenderung ke pembinaan fasilitasi," jelasnya.
Ia melanjutkan gedung rumput laut saat ini yang ada di Pantai Amal menjadi gudang pengumpulan untuk rumput laut kering. Di sana, selain pembudidaya dijemur lalu dipacking.
"Dulunya memang pabrik itu akan membuat chip tapi terkendala limbahnya," jelasnya
Lebih lanjut ia menjelaskan, chip itu perlu ada pengolahan secara kimiawi penggunaan KUH ACL. Untuk menetralkan bahan kimiawi harus menggunakan bahan kimia juga.
"Kalau di Jawa itu ada perusahaan yang memang mengolah limbah. Kita pun kalau mau ngirim otomatis kan perlu cost yang cukup besar. Investasinya pun kemarin waktu kita ke PT BLGI itu investasi mereka itu sampai Rp100 miliar cuma untuk limbahnya," jelasnya.
Sehingga lanjutnya saat ini masih diupayakan bersama Wali Kota Tarakan.
Adapun lanjutnya, jika itu goal rencana kerja sama tersebut maka menjadi turunan lainnya, produk dihasilkan berbentuk cairan.
"Jadi air rumput laut sistem pres, airnya itu yang diambil terus yang rumputnya dijemur, dicacah jadi pupuk," tukasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah