TRIBUNBATAM.id - Guru Bahasa Inggris di SMK Negeri 3 Berbak Tanjung Jabung Timur, Jambi, Agus Saputra, buka suara terkait nama panggilan yang diminta pada murid-muridnya.
Guru Agus sedang menjadi sorotan setelah video dirinya dikeroyok siswa-soswa SMK Negeri 3 Berbak beredar di media sosial.
Setelah video tersebut viral, Guru Agus mengaku selama ini dirinyalah yang menjadi korban bully oleh para siswa.
Seorang siswa berinisial MLP mengatakan bahwa Guru Agus meminta para murid-murid memanggilnya dengan sebutan Prince atau pangeran.
Guru Agus pun mengakui bahwa dirinya dipanggil siswa 'prince' merupakan panggilan akrab.
Bahkan, Guru Agus merasa nyaman dengan panggilan prince yang disematkan padanya.
"Itu panggilan akrab saya dengan anak-anak dengan itu saya merasa saya merasa nyaman," kata Agus Saputra dilansir Youtube Official iNews, Sabtu (17/1/2026).
Bukan cuma itu saja, Guru Agus juga mengaku mendapatkan panggilan yang tidak pantas dari siswa.
Apalagi Guru Agus sudah menjadi guru selama 15 tahun di sekolah tersebut.
"Kemudian panggilan-panggilan yang tidak pantas yang saya dapat itu, woi, kau dan berbagai kata kasar binatang yang saya dapatkan selama disana," tuturnya.
Meski sering terjadi, namun Agus menyayangkan pihak sekolah yang tidak menindak tegas para siswa yang tak sopan kepadanya.
"Ini sudah sering terjadi tetapi pihak sekolah hanya memberikan teguran dan tidak memberikan sanksi tegas dan ini belarut-larut sehingga terjadilah seperti ini," sambungnya.
"Anak yang memukul itu seharusnya tidak naik kelas tetapi dengan pertimbangan banyak hal dengan menurunkan ego tetap dinaikkan, itu saya bingung, saya merasa tidak punya teman saya pasrah selama 15 tahun mengajar di sana saya berusaha berperilaku dan bersabar sepanjang tahun," imbuhnya.
Adapun diakui Agus, siswa yang memanggilnya dengan tidak pantas setiap tahun sosok yang sama, bahkan dirinya sudah dimediasi oleh pihak sekolah, namun siswa yang bersangkutan tetap mengulangi perbuatannya.
"Anak yang berkata kasar itu anak yang sama sepanjang tahun selalu mengajak saya untuk berantem, sudah didamaikan dengan kepala sekolah tapi masih juga menyinggung saya dengan kata tidak pantas seperti itu tiap tahun," terangnya.
Baca juga: Tepuk Mulut Siswa Gara-gara Memaki, Guru Jadi Tersangka
Pengakuan Siswa
Sebelumnya, seorang siswa berinisial MLP yang terlibat pengeroyokan guru bernama Agus Saputra sang guru rupanya memiliki panggilan tersendiri di sekolah tersebut.
Ia meminta siswa memanggilnya bukan dengan sebutan pak melainkan prince alias pangeran.
"Dia mau dipanggil prince (pangeran) karena kalau dipanggil bapak dia gak mau marah," tuturnya.
MLP, siswa yang menjadi korban penganiayaan mengaku ketegangan bermula dari kesalahpahaman di ruang kelas saat jam pelajaran hampir usai.
Situasi kelas yang bising membuat MLP spontan berteriak meminta rekan-rekannya diam.
Namun hal itu justru memicu reaksi keras dari sang guru.
MLP mengaku terkejut saat Agus tersebut tiba-tiba masuk ke kelas tanpa permisi kepada guru yang sedang mengajar dan langsung mencari siapa yang berteriak.
"Awal mulanya saya sedang belajar di dalam kelas, pelajaran hampir selesai, siswa dalam kelas ini agak sedikit ribut terus saya bilang 'woi diam' saya tidak tahu beliau (Agus) ada di depan kelas, setelah itu beliau langsung masuk ke dalam kelas tanpa permisi dengan guru yang di dalam langsung nanya siapa yang bilang woi, terus saya jawab 'saya prince' saya spontan langsung ke depan saya ditampar," kata MLP lewat Instagram @ seputarjambi.info, dikutip Tribun Sumsel, Sabtu (17/1/2026).
Diakui MLP, Agus Saputra rupanya memiliki panggilan tersendiri di sekolah tersebut.
Ia meminta siswa memanggilnya bukan dengan sebutan pak melainkan prince alias pangeran.
"Dia mau dipanggil prince (pangeran) karena kalau dipanggil bapak dia gak mau marah," tuturnya.
Agus Saputra Didesak Minta Maaf Hina Ortu Siswa
Situasi semakin memanas ketika para siswa menuntut permintaan maaf sang guru karena dianggap telah menghina orang tua salah satu siswa.
Meski sudah dimediasi oleh guru lain dan komite sekolah untuk berpidato di depan siswa, sang guru justru membahas hal lain yang memicu kekecewaan.
Puncak pengeroyokan terjadi saat sang guru dibawa ke kantor oleh Bapak Komite.
MLP mengeklaim sang guru justru mengejek dan tersenyum sinis ke arah para siswa.
Saat MLP mendekat untuk meminta kejujuran, ia mengaku justru mendapat bogem mentah.
Melihat aksi Agus yang meninju itulah membuat siswa meradang hingga mengeroyok sang guru.
"Kalau pengeroyokan itu dimulai kami minta beliau minta maaf karena sudah menghina orang tua siswa tetapi beliau tidak mau, dibantu dengan guru lain minta beliau minta maaf disuruh ke depan, pas dia mau pidato di depan yang dibahasnya lain bukan tentang minta maaf itu. Tiba-tiba dibawa bapak komite ke kantor dia kissbye seperti mengejek kami sambil senyum-senyum. Spontan kami lari mendekati dia semua agar dia bisa ngomong lagi di depan itu dengan jujur mengakui kesalahannya. Pas saya sampai di depan muka dia langsung meninju saya di bagian hidung, pas ditinju kebetulan teman-teman melihat semua spontan langsung mengeroyok dia. Itulah terjadi pengeroyokan," ujarnya.
MLP menekankan bahwa aksi pengeroyokan tersebut merupakan reaksi spontan rekan-rekannya setelah melihat dirinya ditampar di kelas dan dipukul di bagian hidung saat berada di area kantor.
Baca juga: Guru Minta Dipanggil Prince, Siswa SMK Negeri 3 Berbak Bongkar Kelakuan Agus Saputra
Pengakuan Agus Saputra
Agus Saputra, guru Bahasa Inggri di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur mengaku sempat lakukan kekerasa terhadap siswa hingga berujung dikeroyok.
Bukan tanpa sebab, diakui Agus Saputra hal itu dilakukannnya karena refleks diteriaki siswa dengan kata yang tidak pantas.
Agus mengatakan , kejadian bermula saat dirinya ditegur oleh seorang siswa.
Dia ditegur siswa tersebut dari kelas, saat proses belajar mengajar berlangsung, sekira pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.
Menurutnya, teguran itu bernada tidak sopan dan sempat direkamnya.
"Dia menegur dengan tidak sopan dan tidak hormat kepada saya dengan meneriakan kata yang tidak pantas saat dia belajar,” katanya, pada Rabu (14/01/2026).
Agus menuturkan, dirinya masuk ke kelas siswa tersebut dan menanyakan terkait hal itu.
“Kemudian, saya masuk ke kelas saya tanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” tuturnya.
“Dia langsung menantang saya, katanya seperti itu. Akhirnya saya refleks satu kali menampar muka dia itulah kejadiannya awal,” lanjutnya, melansir dari TribunJambi.
Agus menuturkan tidak ada niat menganiaya siswa. Dia bilang tamparan yang dilakukan sebagai bentuk pembinaan spontan.
"Saya tidak melawan, hanya membela diri. Bisa dilihat di video," katanya.
Agus menjelaskan, pada jam istirahat dirinya ditantang kembali oleh siswa tersebut.
Kejadian tersebut berlarut hingga pukul 13.00 sampai 16.00.
“Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelasnya.
Agus menerangkan, saat mediasi, dirinya menanyakan apa keinginan siswa tersebut.
“Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan. Kemudian saya membeli alternatif kepada mereka, terangnya.
Jalan alternatif itu berupa pembuatan petisi.
“Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.
Agus menambahkan, dirinya sempat diajak komite sekolah seusai mediasi.
“Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ucapnya.
“Ada videonya, ini sudah viral mungkin. Kemudian juga setelah itu, ini kan banyak nih yang viral di video itu, ada juga yang bawa senjata kita jadinya,” pungkasnya.
Sementara, dalam salah satu potongan video, Agus pun terlihat membawa celurit.
Menanggapi video tersebut, Agus menjelaskan celurit itu merupakan alat pertanian yang tersedia di sekolah, karena SMKN 3 Tanjab Timur merupakan SMK Pertanian.
"Saya hanya menggertak agar mereka bubar, tidak ada niat menyakiti," tegasnya.
Agus juga mengaku mendapat lemparan batu dan benda keras lainnya.
Akibat kejadian itu, dia mengalami bengkak di tangan dan memar di punggung.
Penyebab Keroyok
Agus pun mengakui dirinya melontarkan kata-kata yang diduga menyinggung perasaan siswa.
Adapun kata tersebut menyinggung soal ekonomi siswa yang kurang mampu.
"Saya menceritakan secara umum, saya mengatakan kalau kita orangnya kurang mampu itu kalau bisa jangan bertingkah macam-macam itu secara motivasi,” ungkapnya.
Sebab itu, dia berharap kasus tersebut ada yang memediasi.
“Kalau seandainya ini tambah viral dimanapun, saya berharap ini ada yang menengahkan khususnya dinas pendidikan atau juga pihak yang berwenang untuk menyelesaikan persoalan ini agar tidak berlarut-larut,” harapnya.
Agus Lapor ke Polda
Setelah mediasi, Agus Saputra, guru Bahasa Inggris di SMK Negeri 3 Berbak Tanjung Jabung Timur yang menjadi korban pengeroyokan siswa kini resmi melapor ke ke Polda Jambi, pada Kamis (15/1/2026) sore.
Agus didampingi kakaknya, datang ke Polda Jambi sekitar pukul empat sore dan melakukan pembuatan laporan polisi hampir empat jam.
Kakak kandung Agus, Nasir mengatakan bahwa langkah hukum ini diambil karena adiknya merasa dirugikan terlebih secara mental setelah kasus ini viral di sosial media.
"Kondisi adik saya sedikit pusing, kita bikin laporan dari jam empat sore. Adik saya dirugikan secara mental dan sikis terlebih di medsos. Karena kita warga negara kita berhak melapor," kata Nasir pada Kamis (15/1/2026) malam, dikutip Tribunjambi.com
Ia mangatakan bahwa pasca kejadian Agus telah melakukan visum. Di mana ada beberapa luka lebam di tubuhnya yang juga akan menjadi bukti untuk pihak kepolisian.
"Sudah ada visum dan ada bekas lebam," ujarnya.
Sementara itu, Agus yang juga hadir ke Polda Jambi enggan memberikan banyak komentar atas kejadian ini.
Diketahui laporan tersebut ditujukan ke beberapa siswa dalam video yang viral di sosial media. Nasir mengatakan ada lebih dari satu orang yang dilaporkan.
Sebelumnya, aksi pengeroyokan itu viral di media sosial hingga Agus Saputra mengalami cidera.
Adapun penyebab Agus Saputra dikeroyok siswa hingga alami cedera karena bernada tidak sopan dan tidak beretika hingga menyinggung siswa.
(TribunBatam.id)