Belum Pasang Bendera Kuning, Mukhsin Berharap Anak Sulungnya Deden Ditemukan Selamat
January 19, 2026 09:03 PM

 

BANGKAPOS.COM – Sejak mendengar kabar jatuhnya Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT di area pegunungan Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (18/1/2026) malam menjadi hari yang paling panjang dirasakan oleh Mukhsin, seorang lansia yang berusia sekitar lebih dari 60 tahun.

Sepanjang hari ini telinga dan mata Mukhsin akan terus terpancar guna mendengar sekaligus memantau kabar terkini soal keberadaan sang anak sulung bernama Deden Maulana.

Deden masuk dalam daftar nama penumpang pesawat ATR milik Indonesia Air Transport (IAT) yang hilang kontak di area pegunungan Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (18/1/2026) malam.

Baca juga: Sosok 3 Nama Panggilan Adit Trending Topic di Platform Media, Satunya Eks DPRD Babel Kini Tersangka

Saat ditemui di kediaman duka Deden Maulana yang berlokasi di Jalan Mesir II, Pasar Minggu Jakarta Selatan, pada Minggu (18/1/2026) siang, raut wajahnya tak bisa menutupi kesedihan yang dirasakan.

Kedua matanya selalu berkaca-kaca, dan bibirnya tak berhenti untuk memanjatkan doa.

Mukhsin Belum Dapat Kabar

Hingga siang kemarin, Mukhsin mengaku belum mendapatkan kabar apapun dari tim SAR dan tim gabungan soal keberadaan sang anak kesayangan.

"Katanya yang baru ditemukan pesawat nya," kata Mukhsin dengan tatapan penuh harap.

20260119 MUKHSIN1
PESAWAT KKP HILANG KONTAK - Mukhsin, ayah kandung dari Deden Maulana -seorang karyawan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI (KP) yang menjadi salah satu korban dari pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT dengan rute Yogyakarta-Makassar yang hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) malam. Mukhsin berharap sang anak bisa segera ditemui.

Tak ada harapan lain dari Mukhsin selain adanya mukjizat dari Allah untuk tubuh Deden Maulana.

Dia berharap, sang anak bisa segera ditemukan.

"Ya mudah-mudahan ada keajaiban dari Allah, bisa segera ditemukan," ucap lirih Mukhsin.

Salah satu bentuk pengharapan pihaknya kata Mukhsin, keluarga hingga kini belum juga memasang bendera kuning tanda adanya kematian di sekitaran rumah duka Deden.

Berdasarkan pantauan Tribunnewscom di lokasi, hingga Minggu (18/1/2026) pukul 11.46 WIB memang tidak terlihat satupun bendera kuning terpasang dengan nama Deden Maulana bin Mukhsin di sepanjang jalan menuju rumah Deden.

Terlihat, hanya ada tenda terpal berukuran 5x5 berwarna hijau yang terpasang di depan rumah Deden.

Puluhan bangku plastik juga sudah mulai dipasang guna memberikan fasilitas duduk untuk para tetangga dan kerabat Deden yang ingin memberikan doa.

Kata Mukhsin, belum dipasangnya bendera kuning di siang ini karena pihaknya masih menunggu kepastian soal kabar sang anak dari tim SAR dan tim gabungan yang sedang melakukan pencarian di lokasi jatuhnya pesawat ATR yang ditumpangi Deden.

"Iyah itu (belum dipasang bendera kuningnya), makanya warga di sini belum berani pasang karena belum ada kepastian yang pastinya gimana," tandas dia.

Pesawat Hilang Kontak 

Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT dilaporkan bertolak dari Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Kontak dengan pesawat dilaporkan hilang saat melintas di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 13.17 Wita.

Baca juga: Profil Maidi, Orang Nomor Satu di Kota Madiun Kena OTT KPK, Diduga Terkait Fee Proyek dan Dana CSR

Pesawat tersebut mengangkut 10 orang, terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang. Pilot in command adalah Capt Andy Dahananto.

Direktur Utama PT Indonesia Air Transport, Tri Adi Wibowo, menegaskan jumlah kru di dalam pesawat hanya tujuh orang ditambah tiga orang pegawai Kementerian KP termasuk Deden Maulana sekaligus meluruskan informasi simpang siur yang sempat beredar.

Bermasalah Sehari Sebelum Jatuh

Direktur Operasional Indonesia Air Transport (IAT), Capt Edwin, mengakui mesin pesawat ATR 42-500 bernomor registrasi PK-THT sempat bermasalah sehari sebelum insiden jatuh di Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan.

Masalah teknis itu muncul pada Jumat (16/1/2026), tepat sehari sebelum pesawat hilang kontak dalam penerbangan dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Sabtu (17/1/2026).

“Memang ada problem di enginering kami, tapi kami sudah tes. Problem kecil, tapi kami sudah perbaiki hari Jumat,” ujar Edwin dalam konferensi pers di Media Center Bandara Sultan Hasanuddin, Minggu (18/1/2026).

Konferensi pers tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat, di antaranya Kepala Basarnas Makassar M Arif, Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, Kapolda Sulsel Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro, Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono, General Manager Angkasa Pura Bandara Sultan Hasanuddin Minggus ET Ganduguai, serta jajaran TNI AU dan Kodam VI. Meski demikian, hingga saat konferensi pers berlangsung, belum ada kabar penemuan korban.

Data dari situs Flightradar24 mencatat pesawat berangkat dari Yogyakarta pukul 08.08 WIB, sementara situs Flightaware menunjukkan kontak terakhir pesawat pada pukul 12.22 Wita. 

Sehari sebelumnya, pesawat sempat melakukan penerbangan dari Bandung menuju Semarang, lalu ke Yogyakarta.

Pesawat ATR 42-500 ini disewa Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dengan total penumpang 10 orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga pegawai KKP.

Berikut Daftar Korban

1.   Capt Andy Dahananto

2.   SIC FO M Farhan Gunawan

3.   FOO Hariadi

4.   EOB Restu Adi P

5.   EOB Dwi Murdiono

6.   Flight attendant Florencia Lolita

7.   Flight attendant Esther Aprilitas

8.   Deden dari KKP

9.   Ferry dari KKP

10.   Yoga dari KKP

Kronologi Penemuan Serpihan Pesawat ATR 42-500

07.46 WITA → Ditemukan serpihan jendela (windows) pesawat di lokasi pencarian.
07.49 WITA → Tim kembali menemukan bagian besar badan pesawat.
07.52 WITA → Informasi puncak lokasi pencarian sudah terbuka; tim menemukan badan dan ekor pesawat di lereng selatan.
07.57 WITA → Search and Rescue Unit (SRU) 3 bergerak menuju Pos 2.
08.02 WITA → SRU AJU menemukan serpihan besar, terpantau dari cafacal 13.
08.11 WITA → Tim AJU melaporkan perlunya peralatan mountaineering/climbing untuk menjangkau lokasi serpihan.
08.22 WITA → Tim Pasgat berjumlah enam orang melakukan air landed di puncak untuk menjangkau serpihan.
08.35 WITA → Tim sudah berada di posisi ekor dan badan pesawat.
10.10 WITA → Kondisi puncak diguyur hujan lebat, tertutup kabut, visibilitas hanya 5–10 meter.
10.23 WITA → Tim AJU menginformasikan temuan serpihan tambahan dan sejumlah pakaian.
10.34 WITA → Tim puncak melaporkan pengamatan triangulasi minim; kemungkinan serpihan besar berada di sisi utara, sementara sebagian besar pecahan berada di sisi selatan mengarah ke timur.

Terkendala Kabut Tebal dan Medan Terjal

Operasi pencarian dan evakuasi pesawat ATR 42-500 yang dilaporkan jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan, terus berlangsung secara intensif.

Tim SAR gabungan menghadapi tantangan berat berupa kabut tebal, hujan, serta medan pegunungan yang terjal dan sulit dijangkau.

Dalam operasi berskala nasional ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar turut berperan aktif sebagai bagian dari tim SAR gabungan.

Sejak hari pertama, BPBD Makassar terlibat dalam pendirian dan pengelolaan Posko Pencarian, pemetaan lokasi temuan, serta koordinasi lintas instansi.

Di tengah keterbatasan medan, tim lapangan juga mengajukan permintaan tambahan peralatan berupa tali dan carabiner untuk menunjang proses evakuasi.

Baca juga: Detik-detik Cucu Konglomerat Henry Pribadi Terlilit Tali Pembatas saat Meluncur di Lereng Ski Jepang

Kepala BPBD Makassar Muh Fadli Tahar menyebut, kondisi cuaca menjadi kendala utama dengan hujan disertai kabut tebal yang membatasi jarak pandang hanya sekitar 5 hingga 10 meter.

“Beberapa titik berada di area lereng dan membutuhkan peralatan mountaineering. Keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama kami,” tegas Fadli.

Meski demikian, seluruh unsur SAR tetap melanjutkan operasi. Hingga pukul 10.23 WITA, tim SAR gabungan kembali menemukan serpihan tambahan, berupa sejumlah pakaian dan potongan pesawat berukuran besar di sisi utara titik koordinat utama.

“Proses pencarian dan evakuasi masih terus berlangsung,” ujar Fadli. Ia memastikan BPBD Makassar akan terus memberikan dukungan penuh dan seluruh informasi kepada publik disampaikan secara akurat dan terkoordinasi melalui Posko Pencarian resmi.

Operasi SAR melibatkan Basarnas Makassar, TNI, Polri, AirNav Indonesia, Paskhas, serta dukungan masyarakat setempat. Hingga kini, operasi masih berlangsung dan perkembangan lebih lanjut akan disampaikan sesuai hasil di lapangan.

Berdasarkan data awal AirNav Indonesia, posisi terakhir pesawat berada di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, dengan koordinat 04°57’08” Lintang Selatan dan 119°42’54” Bujur Timur.

Dua Korban Ditemukan

Operasi Pencarian dan Penyelamatan (SAR) membuahkan hasil.

Tim SAR Gabungan menemukan satu korban yang berada di lereng Gunung Bulusaraung.

Tepatnya ketika penyisiran lanjutan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat, pada Minggu siang.

SERPIHAN PESAWAT - Serpihan diduga milik pesawat ATR-42 500 yang hilang kontak ditemukan pendaki di sekitar puncak Gunung Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026). Selain diduga serpihan pesawat, ada pula barang lain seperti dokumen dan logo sebuah instansi dengan lambang Garuda.
SERPIHAN PESAWAT - Serpihan diduga milik pesawat ATR-42 500 yang hilang kontak ditemukan pendaki di sekitar puncak Gunung Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026). Selain diduga serpihan pesawat, ada pula barang lain seperti dokumen dan logo sebuah instansi dengan lambang Garuda. (Tribunnews.com/Instagram @makassar_iinfo)

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, menjelaskan korban ditemukan pada pukul 14.20 WITA di sekitar serpihan pesawat.

Saat penemuan, korban berada di dalam jurang dengan kedalaman sekitar 200 m.

“Pukul 14.20 WITA telah ditemukan satu korban jenis kelamin laki-laki di koordinat 04°54’44’’ Lintang Selatan dan 119°44’48’’ Bujur Timur,” katanya sesaat satu korban ditemukan, dilansir Tribun-Timur.com. 

Menurut M Arif, saat ini proses evakuasi masih berlangsung. 

Lokasi korban yang berada lebih ke dalam jurang, membuat proses evakuasi perlu teknik khusus. 

Tim SAR gabungan harus turun vertikal menggunakan peralatan mountaineering karena kondisi medan yang terjal dan berisiko tinggi.

“Saat ini tim SAR gabungan masih fokus melakukan proses evakuasi dengan mengutamakan keselamatan personel,” jelas M Arif. 

Hal senada juga disampaikan Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko.

Ia mengatakan, tim sedang berusaha mengevakuasi korban. 

Baca juga: Digaji Rp10 Juta per Bulan, Lokasi Persembunyian dan Peran Haji Yul Terseret Korupsi Tambang Ilegal

"Melalui komunikasi radio bahwa sudah ditemukan satu korban. Sekarang kita sedang berupaya mengevakuasi ke posko AJU Tompobulu," katanya di posko Basarnas, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep.

Lalu, korban jatuhnya Pesawat ATR 42-500 kembali ditemukan, korban berjenis kelamin perempuan, dan ditemukan meninggal dunia.

Korban ditemukan di kedalaman 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.

Informasi terbaru ini disampaikan oleh Kepala Basarnas Marsekal Madya (Marsdya) TNI Mohammad Syafii dalam konferensi pers di kantor Basarnas Makassar, di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Sulsel, Senin (19/1/2026).

"Korban kedua (ditemukan) berjenis kelamin perempuan," kata perwira tinggi TNI AU ini.

Sehari sebelumnya, tim juga menemukan salah satu jenazah diduga korban kecelakaan pesawat yang mengangkut 10 orang tersebut.

"Korban pertama berjenis kelamin laki-laki," ujar Syafii.

(TribunTimur.com/Tribunnews.com/TribunSumsel.com/Bangkapos.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.