TRIBUNWOW.COM - Michael Carrick berhasil mengungguli Pep Guardiola di Derby Manchester pada Sabtu (17/1/2026) lalu.
Pertandingan derby Manchester pada 17 Januari 2026 akan dikenang sebagai hari ketika Michael Carrick menjadi ahli strategi kelas dunia.
Dengan keterampilan taktis yang disiplin, ketangguhan, dan eksekusi yang akurat, Manchester United meraih kemenangan telak 2-0 atas Manchester City.
Walaupun skornya jelas, hal itu terasa kurang menggambarkan dominasi “Setan Merah” dalam alur emosional dan taktis pertandingan.
Baca juga: Newcastle Vs Aston Villa: Kesempatan Berburu Poin Penuh di St James Park Laga Pekan 23 Liga Inggris
Gol di babak kedua dari Bryan Mbeumo yang ulet dan bintang muda Patrick Chinazaekpere Dorgu membuat penonton di Old Trafford histeris.
Setelah pertandingan, Michael Carrick diwawancarai oleh Sky Sports dan MUTV via El Futbolero USA, Minggu (18/1/2026).
Michael Carrick berbicara dengan tenang namun tetap mendalam tentang bagaimana dia mengalahkan tim Pep Guardiola yang telah mendominasi sepak bola Inggris selama satu dekade.
"Kunci kesuksesan adalah konsistensi. Emosi dan atmosfer seperti hari ini tidak akan terulang di setiap pertandingan," ujarnya.
"Ada standar dan ekspektasi yang jelas dan harus kita pertahankan."
Manchester United telah menunjuk Carrick sebagai kepala pelatih hingga akhir musim.
Hal ini bisa dianggap sebagai upaya untuk kembali mengandalkan pemain senior.
Tentu saja, banyak suporter yang akan melihatnya demikian.
Namun, Carrick adalah ahli taktik yang cerdik dan telah membuktikan kemampuannya untuk mengalahkan tim-tim terbaik, seperti yang terlihat dari hasil melawan Manchester City.
Baca juga: Transfer Ngeri Persija Jakarta: Bidik 3 Amunisi Samba dan 2 Berlian Timnas Indonesia, Jakmania ACC?
Dikutip dari Utddistrict.co.uk, Minggu (18/1/2026), Michael Carrick menerapkan taktik yang sukses melawan Pep Guardiola dalam derby Manchester baru-baru ini.
Pendekatan serupa pun diperkirakan akan berlanjut di masa depan dengan penyesuaian.
Selama masa jabatannya pertama di Old Trafford seusai pemecatan Ole Gunnar Solskjaer, timnya menggunakan formasi 4-2-3-1 saat menguasai bola dan beralih ke 4-4-2 saat kehilangan bola.
Pola ini kemungkinan tetap dipertahankan, tetapi hanya saat menghadapi tim yang jarang menguasai bola.
Carrick menyukai struktur tim yang rapat dan sulit ditembus sebelum memanfaatkan kesalahan lawan.
Contohnya seperti umpan buruk Max Alleyne di babak pertama derby, yang nyaris berbuah gol lebih cepat tanpa posisi tinggi Gianluigi Donnarumma.
Pemain sayap seperti Amad dan Patrick Dorgu bertugas mundur mendukung bek sayap untuk menangani ancaman Jeremy Doku serta Antoine Semenyo.
Sehingga keadaan ini terpaksa membuat Manchester City sering bermain mundur dan rentan menemui kesalahan.
Saat menguasai bola, gelandang seperti Kobbie Mainoo dan Bruno Fernandes menciptakan kelebihan jumlah di satu sisi lapangan untuk mengisolasi lawan.
Kemudian beralih cepat ke sayap kanan Amad guna duel satu lawan satu.
Dalam upaya menghadapi Arsenal pada Minggu (25/1/2026), taktik mirip derby kemungkinan digunakan.
Akan tetapi Bryan Mbeumo mungkin digantikan Benjamin Sesko untuk mengatasi ancaman udara Mikel Arteta.
Menghadapi Fulham, Tottenham, dan West Ham yang cenderung bertahan dalam blok rendah akan sangat menantang kemampuan penetrasi Manchester United.
Hal ini mencerminkan masalah lama yang dialami tim di era Ruben Amorim, di mana sulit menembus pertahanan rapat lawan.
Noussair Mazraoui berpeluang gantikan Diogo Dalot yang buruk performanya, berperan sebagai bek tengah geser agar Luke Shaw atau Dorgu beri lebar di kiri.
Sementara Casemiro-Mainoo jadi duet tengah dengan Mainoo bebas bergerak.
Lima pemain depan bisa terdiri dari bek kiri, sayap kiri (Matheus Cunha atau Mason Mount yang potong ke dalam), Fernandes, serta Amad.
Mbeumo dapat digeser ke kiri untuk mengirim umpan silang bagi Sesko sebagai target udara.
Pendekatan ini secara teori mirip dengan gaya Amorim.
Namun, instruksi pergerakan dan ide segar Carrick akan tampil berbeda, dengan fokus dominasi bola saat diperlukan atau serangan balik yang efisien.
(TribunWow.com/Peserta Magang dari Universitas Sebelas Maret/Alifazahra Avrilya Noorahma)