WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto resmi mengusulkan tiga nama calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyusul pengunduran diri Deputi Gubernur BI Juda Agung.
Salah satu nama yang diusulkan adalah Thomas Djiwandono, keponakan Presiden Prabowo yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Pengusulan tersebut disampaikan Presiden melalui Surat Presiden (Surpres) yang telah diterima DPR dan akan ditindaklanjuti dengan pelaksanaan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi XI DPR RI.
Baca juga: Menkeu Purbaya Ancam Rotasi dan Merumahkan Pegawai Pajak yang Terbukti Menyeleweng
Proses ini menjadi mekanisme konstitusional untuk mengisi kekosongan jabatan di jajaran pimpinan bank sentral.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi membenarkan pengajuan tiga nama calon Deputi Gubernur BI tersebut.
Ia menyatakan Presiden telah menjalankan kewenangannya sesuai ketentuan Undang-Undang Bank Indonesia.
“Presiden telah mengirimkan surat kepada DPR terkait usulan calon Deputi Gubernur Bank Indonesia. Salah satu nama yang diusulkan adalah Bapak Thomas Djiwandono,” ujar Prasetyo, Senin (19/1/2026).
Meski demikian, Prasetyo tidak mengungkapkan dua nama lain yang turut diusulkan, dengan alasan kewenangan pengumuman selanjutnya berada di tangan DPR setelah proses administrasi berjalan.
Saat ini, struktur pimpinan Bank Indonesia terdiri atas Gubernur BI Perry Warjiyo dan lima Deputi Gubernur, yakni Destry Damayanti, Aida S Budiman, Filianingsih Hendrarta, Ricky P Gozali, serta Juda Agung.
Dengan pengunduran diri Juda Agung sebelum masa jabatannya berakhir pada 2027, pemerintah wajib mengajukan pengganti untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan dan stabilitas kebijakan moneter.
Nama Thomas Djiwandono menjadi sorotan publik lantaran posisinya sebagai keponakan Presiden Prabowo sekaligus pejabat aktif di Kementerian Keuangan.
Thomas, yang akrab disapa Tommy, memiliki latar belakang kuat di bidang ekonomi dan kebijakan publik.
Ia merupakan putra Soedradjad Djiwandono, mantan Gubernur Bank Indonesia periode 1993–1998.
Secara akademik, Thomas menempuh pendidikan sarjana di bidang Studi Sejarah di Haverford College, Amerika Serikat, serta meraih gelar magister Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional dari Johns Hopkins University.
Baca juga: Dubes WHO Sebut Presiden Prabowo Dukung Penuh Sasakawa Foundation Berantas Kusta di Indonesia
Sebelum terjun ke pemerintahan, ia memiliki pengalaman panjang di sektor bisnis dan keuangan.
Sejumlah pihak menyebut pengunduran diri Juda Agung dan masuknya Thomas Djiwandono sebagai kandidat Deputi Gubernur BI merupakan bentuk “tukar posisi” atau switch.
Juda Agung diketahui akan mengisi posisi di pemerintahan, sementara Thomas berpotensi berpindah dari Kementerian Keuangan ke Bank Indonesia.
Purbaya Dukung
Menanggapi isu tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa rotasi jabatan merupakan hal yang wajar dalam tata kelola pemerintahan dan lembaga negara.
“Kalau memang ada pertukaran posisi, itu hal biasa dalam pemerintahan. Yang penting adalah kompetensi dan integritas. Bank Indonesia tetap independen,” kata Purbaya.
Ia menegaskan bahwa siapapun yang nantinya dilantik sebagai Deputi Gubernur BI wajib tunduk pada prinsip independensi bank sentral dan tidak membawa kepentingan politik maupun institusional dari jabatan sebelumnya.
“Begitu masuk BI, tidak ada lagi urusan kementerian atau hubungan keluarga. Semua kebijakan harus berbasis data, stabilitas ekonomi, dan mandat undang-undang,” tegasnya.
Isu independensi Bank Indonesia menjadi perhatian publik seiring mencuatnya nama Thomas.
Namun, pemerintah menegaskan bahwa mekanisme fit and proper test di DPR akan menjadi ruang terbuka untuk menilai kapasitas, rekam jejak, serta komitmen calon terhadap independensi bank sentral.
Purbaya Yidhi Sadewa, mengaku mendukung Thomas Djiwandono menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
"Sudah di fiskal sekarang kalau masuk kan ke moneter, kan bagus. Saya mendukung," kata Purbaya.
Komisi XI DPR RI dijadwalkan segera memanggil para calon Deputi Gubernur BI untuk mengikuti rangkaian uji kelayakan dan kepatutan.
Baca juga: Thomas Djiwandono No Comment soal Isu Sri Mulyani Mundur dari Kabinet
Hasil uji tersebut akan menjadi dasar DPR dalam memberikan persetujuan atau penolakan atas calon yang diajukan Presiden.
Pengangkatan Deputi Gubernur BI merupakan posisi strategis karena berperan langsung dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, serta pengendalian inflasi di tengah tantangan ekonomi global.
Dengan proses seleksi yang tengah berjalan, publik kini menanti bagaimana DPR menilai calon-calon yang diajukan, termasuk Thomas Djiwandono, dalam menjaga kredibilitas dan independensi Bank Indonesia ke depan.