TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto memiliki komitmen kuat menjadikan Kampus II Purbalingga sebagai pilot project pengembangan ekoteologi, dengan perencanaan kampus berbasis master plan hijau dan berkelanjutan.
Rektor UIN Saizu Purwokerto, Prof. Ridwan menjelaskan sejak awal pengembangan Kampus II UIN Saizu di Purbalingga dirancang dengan pendekatan ekoteologi, yakni memadukan ajaran agama dengan tanggung jawab merawat lingkungan hidup.
Konsep tersebut menjadikan kampus tidak hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga ruang pembelajaran ekologis yang terintegrasi dengan nilai-nilai keagamaan.
“Kami ingin menjadikan kampus ini sebagai contoh bagaimana nilai-nilai agama dapat menjadi inspirasi dalam pengelolaan lingkungan," ujarnya saat menjamu Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif, baru-baru ini.
Karena itu, Kampus II UIN Saizu dirancang sebagai pilot project pengembangan ekoteologi.
Menurutnya, seluruh pengembangan Kampus II UIN Saizu disusun berdasarkan master plan jangka panjang yang menekankan keseimbangan antara pembangunan fisik, pelestarian lingkungan, dan kebermanfaatan sosial.
Dengan luas lahan sekitar 15 hektare yang dimiliki di Purbalingga, kawasan kampus memiliki ruang yang memadai untuk pengembangan ruang terbuka hijau, resapan air, serta fasilitas publik yang ramah lingkungan.
Lahan 15 hektare itu terdiri atas lahan seluas kurang lebih 4,5 hektare di Kampus II dan 10,5 hektare di lokasi lain.
Saat ini, Kampus II UIN Saizu di Purbalingga telah digunakan untuk kegiatan akademik Fakultas Dakwah dan Fakultas Saintek dengan jumlah mahasiswa mencapai lebih dari 3.474 mahasiswa.
Seiring pertumbuhan tersebut, pengelolaan lingkungan kampus menjadi perhatian utama agar pembangunan tetap sejalan dengan prinsip keberlanjutan.
Konsep ekoteologi di Kampus II UIN Saizu tidak hanya diwujudkan dalam desain fisik, tetapi juga dalam aktivitas akademik dan pengabdian kepada masyarakat.
Sejumlah program pendampingan pertanian, pemanfaatan lahan produktif, serta eksperimen tanaman ramah lingkungan telah melibatkan masyarakat sekitar kampus.
Selain itu, kampus juga dirancang sebagai ruang terbuka yang dapat diakses masyarakat, mulai dari area olahraga, ruang hijau, hingga fasilitas penunjang aktivitas sosial.
Kehadiran kampus diharapkan menjadi pusat pertumbuhan sosial-ekonomi sekaligus contoh pengelolaan lingkungan berbasis nilai keagamaan.
“Kami berharap dalam beberapa tahun ke depan Kampus II UIN Saizu akan semakin hijau, nyaman, dan menjadi ruang publik yang hidup. Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk menghadirkan kampus yang berkelanjutan dan memberi manfaat luas,” tambah Prof. Ridwan.
Pengembangan Kampus II UIN Saizu sebagai pilot project ekoteologi juga sejalan dengan upaya internasionalisasi kampus.
Konsep kampus hijau berbasis nilai Islam ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa, termasuk mahasiswa internasional, yang ingin mempelajari relasi antara agama, ilmu pengetahuan, dan pelestarian lingkungan.
Dengan pendekatan tersebut, Kampus II UIN Saizu diharapkan mampu menjadi model pengembangan kampus hijau berbasis ekoteologi bagi perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia, sekaligus berkontribusi pada upaya pembangunan berkelanjutan di tingkat daerah dan nasional. (***)