Barang Milik Farhan Gunawan Kopilot Pesawat ATR 42-500 Ditemukan, Keberadaan Smartwatch Misterius
January 20, 2026 05:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Jejak keberadaan Dwi Murdiono, seorang engineer asal Bogor yang menjadi korban jatuhnya pesawat ATR 42-500, akhirnya mulai terungkap.

Hal ini diketahui setelah tim SAR menemukan sejumlah barang milik Dwi di lokasi kejadian pesawat jatuh.

Penemuan tersebut terjadi di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Senin (19/1/2026) malam.

Barang-barang yang ditemukan menjadi petunjuk penting keberadaan korban di sekitar titik jatuh pesawat.

Tak hanya milik Dwi, tim SAR gabungan juga berhasil mengamankan barang-barang kepunyaan Kopilot Farhan Gunawan.

Dari hasil penyisiran itu, terdapat satu temuan yang cukup mengejutkan dari dalam tas korban.

Benda tersebut langsung menarik perhatian tim di lapangan.

Pada hari ketiga pencarian, tim SAR menemukan sebuah pelampung darurat berwarna kuning.

Pelampung tersebut tampak terbakar di beberapa bagian.

Lokasi pelampung ditemukan berada di dekat sebuah pohon di tengah kawasan hutan.

Selain pelampung, tim SAR juga menemukan tas serta dompet milik Farhan Gunawan dan Dwi Murdiono.

Dari temuan inilah, jejak keberadaan Dwi diduga berada tidak jauh dari lokasi jatuhnya pesawat.

Di dalam tas milik Dwi, tim SAR menemukan KTP dengan alamat Bogor, Jawa Barat.

Baca juga: Foto-foto Barang Milik Penumpang ATR 42-500 yang Ditemukan Tim SAR, Dompet Masih Utuh hingga Ponsel

BARANG KORBAN - Tim SAR menemukan sejumlah barang milik korban di jalur antara puncak gunung menuju Pos 9.
BARANG KORBAN - Tim SAR menemukan sejumlah barang milik korban di jalur antara puncak gunung menuju Pos 9. (Tribun Timur/Nurul Hidayah)

Tas tersebut juga berisi dua kartu identitas, yakni ID Card Airfast Indonesia dan Indonesia Air.

Selain itu, terdapat pula kartu debit ATM serta beberapa lembar uang rupiah di dalamnya.

Sementara itu, dari tas milik Farhan Gunawan, tim SAR menemukan KTP dengan alamat Luwu Timur.

Tak berhenti di situ, tim SAR juga menemukan sebuah benda lain berwarna oranye dan hitam.

Benda tersebut diketahui merupakan pistol suar atau flare gun.

Flare gun biasanya digunakan dalam kondisi darurat untuk meminta pertolongan.

Namun saat ditemukan, flare gun tersebut masih dalam kondisi utuh.

Hal ini menimbulkan dugaan bahwa alat tersebut belum sempat digunakan oleh Dwi maupun Farhan.

Seluruh barang milik korban kemudian diamankan dan diserahkan ke Posko SAR Aju di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Pangkep.

Baca juga: Ayah Esther Pramugari ATR 42-500 Terus Menangis Berharap Anaknya Ditemukan, Kerabat: Dia Kesayangan

PESAWAT ATR JATUH: Akhirnya jejak Dwi Murdiono, engineer asal Bogor yang jadi korban pesawat ATR 42-500 ditemukan. Tim SAR menemukan barang tak terduga di tas Dwi. Barang milik Farhan juga ditemukan.
PESAWAT ATR JATUH: Akhirnya jejak Dwi Murdiono, engineer asal Bogor yang jadi korban pesawat ATR 42-500 ditemukan. Tim SAR menemukan barang tak terduga di tas Dwi. Barang milik Farhan juga ditemukan. (TribunBogor)

Pramugari Bogor jadi korban

Bukan cuma Dwi Murdiono, satu warga Bogor lainnya juga jadi korban pesawat ATR 42-500.

Dia adalah pramugari bernama Esther Aprilita Sianipar.

Sang putri jadi korban jatuhnya pesawat, ayah Esther, Adi Sianipar langsung terbang ke Makassar.

Adi menanti kabar ditemukannya Esther bersama keluarga korban lainnya.

Sembari menahan tangis, Adi mengurai cerita soal komunikasi terakhir dengan Esther Aprilita.

Kata Adi, ia terakhir kali berbicara dengan Esther satu hari sebelum kecelakaan terjadi yakni pada Jumat (16/1/2026).

Saat itu Adi diberi tahu oleh Esther kalau dia sedang berada di Bandara Halim Perdanakusuma.

"Jumat malam (terakhir chat Esther), kalau dia kan stand by di Halim. Ya dari Halim mungkin ke Jogja, kita enggak tahu rute-rutenya, tapi dia stand by di Halim," ujar Adi dilansir dari youtube Tribun Timur, Senin (19/1/2026).

Lalu keesokan harinya yakni pada Sabtu, Esther tidak lagi membalas chat sang ayah.

Padahal di hari Sabtu itu Adi ingin menjemput Esther pulang sama-sama ke Bogor.

"Terakhir komunikasi kemarin saya jam 12 WA dia karena saya lagi ke Jakarta, dia kan kos di Jakarta, jadi saya mau jemput dia kalau dia mau pulang. Ternyata jam 12 itu enggak ada balasan dari dia, HP-nya udah enggak aktif," kata Adi.

2 Jenazah korban ditemukan

Sementara jejak dua warga Bogor yakni Dwi dan Esther belum diketahui, Tim SAR membawa kabar terbaru dari TKP.

Pada Senin (19/1/2026) Tim SAR berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat ATR.

Jenazah berjenis kelamin perempuan tersebut ditemukan di tebing kedalaman 500 meter dari Puncak Gunung Bulusaraung.

Sehari setelah kejadian yakni pada Minggu (18/1/2026), Tim SAR telah menemukan jasad laki-laki.

Hingga kini identitas dua jenazah yang berhasil ditemukan, Tim SAR belum mengungkapnya.

Diduga kedua jasad korban masih diidentifikasi oleh dokter forensik.

Berikut adalah nama 10 penumpang pesawat ATR 42-500:

Kru pesawat (7 orang):

1. Kapten Andy Dahananto (Pilot in Command)

2. Kopilot Farhan Gunawan (Second in Command)

3. Hariadi (Flight Operation Officer)

4. Restu Adi P (Engineer)

5. Dwi Murdiono (Engineer)

6. Florencia Lolita (Awak Kabin/Flight Attendant)

7. Esther Aprilita S (Awak Kabin/Flight Attendant) 

Penumpang dari KKP (3 orang):

1. Ferry Irawan (Pegawai KKP, Analis Kapal Pengawas)

2. Deden Mulyana (Pegawai KKP, Pengelola Barang Milik Negara)

3. Yoga Noval (Pegawai KKP, Operator Foto Udara)

(TribunNewsmaker.com/ TribunnewsBogor)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.