TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Keahlian di bidang pijat atletik (sport massage) membawa berkah bagi Harwin Arianto. Tak hanya menjadi sumber penghidupan, profesi ini juga mengantarkan pria berusia 31 tahun itu berkeliling dunia mendampingi atlet balap sepeda Indonesia di berbagai kejuaraan internasional.
Pria asal Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, tersebut saat ini tercatat sebagai masseur Tim Nasional Indonesia Cycling Federation (ICF).
Harwin resmi bergabung dengan ICF sejak 2024 dan menjadi bagian dari tim pendukung atlet balap sepeda nasional.
“Awal mulanya ada tawaran dari Pelatnas melalui kepala pelatih balap sepeda. Setelah itu saya ditawari bergabung, sempat dites, dinyatakan lolos, lalu berangkat,” ujar Harwin, Selasa (20/1/2025).
Baca juga: Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen di Banyuwangi Ditargetkan Rampung Juli 2026
Sebagai masseur tim nasional, Harwin tidak hanya bertugas memijat atlet.
Ia juga terlibat dalam penyusunan program pemulihan fisik, bekerja sama dengan pelatih serta tim teknis.
Peran tersebut membuat kehadiran Harwin menjadi bagian penting dalam setiap agenda Timnas balap sepeda, termasuk saat mengikuti kejuaraan di luar negeri.
Sejak bergabung dengan ICF, Harwin telah mendampingi atlet di berbagai negara, seperti Malaysia, Jepang, Hongkong, Thailand, Italia, Spanyol, Prancis, hingga Amerika Serikat.
“Itu kejuaraan-kejuaraan UCI (Union Cycliste Internationale), termasuk juga Olimpiade,” tambahnya.
Baca juga: Kunjungan Wisata Banyuwangi Tembus 3,67 Juta Sepanjang 2025
Harwin mengenal dunia pijat atletik sejak menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 2014.
“Waktu itu, sport massage adanya di UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Saya aktif di sana. Kalau sekarang sudah ada program studinya,” jelasnya.
Dari UKM tersebut, Harwin memperoleh banyak pengalaman dan pengetahuan tentang pijat atletik. Keahlian itu pun mulai menghasilkan, terutama saat banyak event olahraga digelar di Surabaya.
“Hasilnya lumayan. Pernah sebulan dapat Rp 3 juta. Bagi saya itu besar, karena biaya kuliah per semester sekitar Rp 3,5 juta,” kenangnya.
Pengalaman tersebut membuat Harwin semakin yakin menekuni bidang sport massage. Setelah lulus kuliah, ia aktif mencari guru, mengikuti kursus, dan mengantongi berbagai sertifikasi profesi masseur.
Baca juga: Sempat Hilang, Lansia Ditemukan Tewas Mengambang di Dam Pugak Banyuwangi
Kini, Harwin kembali menempuh pendidikan formal strata dua (S2) Ilmu Keolahragaan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Langkah ini ia ambil untuk memperdalam dan memperbarui keilmuannya.
“Ilmu itu selalu berkembang. Saya ingin terus memperbarui pengetahuan, baik lewat kuliah, sertifikasi, belajar dari dokter, hingga membaca jurnal dan buku-buku terbaru,” tuturnya.
Harwin berharap, ke depan pijat atletik semakin dikenal luas oleh masyarakat, sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak orang, tidak hanya atlet profesional tetapi juga masyarakat umum.
(TribunJatimTimur.com)