Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) mencatatkan realisasi program penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) pada tahun 2025 berkisar 17.652 ton.
Jumlah ini terbilang jauh, hanya sekitar 40 persen dari total target yang telah ditetapkan yakni sebanyak 43.826 ton.
Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Lampung, Rindo Saputra, mengungkap kendala penyaluran tersebut tidak maksimal lantaran Lampung merupakan salah satu daerah produsen utama beras di Indonesia.
Kondisi ini dinilai membuat stok di pasar relatif stabil, sehingga tak perlu intervensi terlalu masif.
"Penyaluran SPHP memang tidak begitu maksimal karena Lampung merupakan wilayah produsen beras," ujar Rindo kepada awak media, Selasa (20/1/2026).
"Ketersediaan beras di pasar relatif mencukupi sehingga intervensi pemerintah tidak terlalu besar," jelasnya.
Menurut Rindo, program SPHP sendiri berfungsi sebagai instrumen penyeimbang ketika harga beras di pasaran mengalami kenaikan.
Dengan adanya beras SPHP, masyarakat memiliki alternatif untuk mendapatkan beras dengan harga sesuai ketetapan pemerintah dan kualitas yang terjamin.
"SPHP hadir sebagai penyeimbang. Saat harga beras naik, masyarakat yang membutuhkan bisa membeli beras SPHP dengan harga stabil dan kualitas yang bagus," kata dia.
Lebih alnjut, Rindo.mengatakan bahwa pemerintah sendiri telah memperpanjang program penyaluran beras SPHP 2025 hingga 31 Januari 2026 mendatang.
"Perpanjangan ini merupakan lanjutan dari kebijakan tahun 2025 untuk menjaga stabilitas harga beras di pasaran. Perpanjangannya sampai 31 Januari 2026," tuturnya.
Rindo menjelaskan, Bulog Lampung terus menyalurkan beras SPHP secara rutin melalui Rumah Pangan Kita (RPK) serta kios-kios di pasar yang telah terdata.
Di samping itu, Bulog Lampung juga menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah melalui kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM).
"Capaian ini sebenarnya sudah sangat luar biasa, mengingat Lampung adalah daerah produksi beras. Artinya, mekanisme pasar masih berjalan dengan baik," pungkasnya.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)