Menelusuri Jejak Sejarah Guguk Kuwiran dalam Peta Belanda 1877, Kampung Tua di 4 Ilir Palembang
January 20, 2026 06:27 PM

Penulis Naskah : Novianti, Mahasiswa Semester VI Fakultas Dakwah dan Komunikasi Prodi Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Kota Palembang dikenal memiliki keunikan dalam penamaan wilayahnya, salah satunya penggunaan angka pada nama kelurahan seperti 1 Ilir, 3 Ilir, 4 Ilir hingga 16 Ilir.

Di balik penamaan tersebut, tersimpan jejak sejarah panjang perkembangan kota, termasuk kawasan 4 Ilir yang dahulu dikenal dengan nama Guguk Kuwiran.

Berdasarkan peta kolonial Belanda periode 1877 hingga 1917, kawasan 4 Ilir tercatat dengan sebutan Guguk Kuwiran.

Pada peta tahun 1917, permukiman penduduk Guguk Kuwiran tampak tersebar di sepanjang Sungai Lawang Kidul, yang kini berada di sekitar Lorong Manggar, Jalan Mayor Memet Sastawiriah, Kelurahan Lawang Kidul, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang.

Pegiat sejarah Palembang, Mang Dayat, menjelaskan Guguk Kuwiran merupakan salah satu “guguk” atau perkampungan tua yang telah dihuni masyarakat Palembang sejak ratusan tahun lalu.

Namun, jumlah penduduknya sejak awal diperkirakan tidak terlalu banyak.

“Secara luasan dan jumlah penduduk, Guguk Kuwiran memang tidak besar. Ini yang kemungkinan menjadi alasan kawasan 4 Ilir kemudian dihapuskan dan digabungkan ke wilayah lain, seperti 5 Ilir,” ujar Mang Dayat melalui kanal YouTube pribadinya yang dikutip Selasa (20/1/2026).

Menurutnya, saat ini nama Guguk Kuwiran sudah tidak lagi digunakan. Titik permukiman yang paling banyak penduduknya berada di kawasan Lorong Manggar.

Di sekitar Lorong Manggar II, berdasarkan peta lama, juga terdeteksi adanya sejumlah makam kuno.

Bersama warga setempat bernama Cek Wan, Mang Dayat menyebut terdapat dua makam bersejarah di kawasan tersebut. Salah satunya dikenal sebagai makam keramat Buyut Kuncung Agung yang hingga kini masih dihormati warga sekitar.

Selain itu, terdapat pula makam Pangeran Syarif Ali Syeikh Abu Bakar, seorang bangsawan keturunan Arab Alawiyyin yang dikenal sebagai menantu sekaligus wazir pada masa Sultan Sunan Husin Diudin. Makam ini cukup dikenal dan sering diziarahi masyarakat.

Mang Dayat menambahkan, penghapusan kampung-kampung kecil di Palembang telah terjadi sejak era 1930-an, seiring kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda dalam penarikan pajak.

“Kampung-kampung yang memiliki pendapatan pajak rendah akan digabungkan dengan kampung lain, bahkan ada yang dihapuskan,” jelasnya.

Ia menegaskan, minimnya jumlah penduduk diduga menjadi salah satu faktor utama Guguk Kuwiran atau kawasan 4 Ilir tidak lagi tercatat sebagai kampung tersendiri.

Sementara itu, nama “Kuwiran” diyakini berasal dari sebutan salah satu jenis rotan yang digunakan sebagai bahan baku kerajinan.

Hal ini memunculkan dugaan adanya keterkaitan antara Guguk Kuwiran dengan komunitas pengrajin rotan di kawasan 3 Ilir pada masa lampau.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.