TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO - Sebuah video berdurasi sekitar 30 detik yang beredar luas di media sosial memperlihatkan aksi pembuangan sampah ke aliran Sungai Serayu.
Peristiwa itu terjadi di Jembatan Sentong, Jalan Jengkol-Tlogo, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, Selasa (20/1/2026).
Dalam video tersebut tampak sebuah mobil pikap putih bermuatan sampah berhenti di tengah jembatan.
Seorang laki-laki bertopi, mengenakan baju berwarna oranye, terlihat mengangkat bungkusan plastik sampah berwarna hitam dari bak mobil lalu melemparkannya langsung ke sungai.
Aksi tersebut menuai kecaman warganet, terlebih karena warna pakaian yang dikenakan pelaku menyerupai atribut relawan kemanusiaan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, di sekitar jembatan masih terlihat bekas-bekas sampah yang tercecer.
Pada pagar jembatan tampak noda dan sisa-sisa kotoran, sementara aroma sampah masih tercium cukup menyengat.
Aliran Sungai Serayu di bawah jembatan saat itu tidak terlihat begitu deras, namun sampah bekas pembuangan pelaku sudah tidak terlihat di aliran sungai.
Respon Camat
Camat Garung, Priyo Cahyono, menyatakan keprihatinannya atas peristiwa tersebut. Ia menegaskan bahwa tindakan membuang sampah tidak sesuai peruntukan tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.
“Tentunya kami atas nama Kecamatan Garung merasa prihatin dan tentunya apapun itu bentuknya membuang sampah tidak hanya di sungai, tapi tidak sesuai dengan peruntukannya, tidak bisa kita benarkan,” ujar Priyo.
Menurut Priyo, informasi awal mengenai kejadian tersebut diperolehnya dari grup percakapan yang membagikan video viral tersebut.
“Kami tadi mendapatkan informasi dari grup atau share group,” ujarnya.
Setelah video beredar, pihak kecamatan langsung bergerak menelusuri pelaku pembuangan sampah.
Priyo menyebut langkah cepat dilakukan agar dampak lingkungan bisa diminimalkan.
“Kami segera mencari informasi, siapa pembuang sampah, untuk segera kami suruh mengambil kembali,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan saling mengingatkan apabila menemukan pelanggaran serupa.
Ke depan, pihak kecamatan akan meningkatkan edukasi pengelolaan sampah dengan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup serta mendorong pemasangan rambu larangan dan sanksi.
Kepala Pelaksana BPBD Wonosobo, Sumekto Hendra Kustanto, menegaskan bahwa pria dalam video tersebut bukanlah relawan.
“Kita sudah klarifikasi bahwa yang bersangkutan itu bukan relawan,” ujar Sumekto.
Ia menyayangkan penggunaan baju oranye mirip atribut relawan yang dapat menimbulkan kesalahpahaman publik.
“Baju oranye itu mencederai seluruh relawan yang ada di Wonosobo bahkan Indonesia,” katanya.
Menurutnya, relawan memiliki nilai dan semangat kemanusiaan yang tinggi, sehingga tindakan pembuangan sampah tersebut sangat bertolak belakang dengan semangat relawan.
BPBD Wonosobo, akan menjadikan kejadian ini sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat koordinasi dengan relawan di tingkat kecamatan dan desa guna menjaga marwah gerakan kemanusiaan.
Sementara itu, pelaku pembuangan sampah diketahui bernama Suparjo, warga Desa Tlogo. Usai kejadian tersebut pelaku dihadirkan di Kantor Desa Tlogo untuk dimintai keterangan.
"Saya bekerja membuang sampah (di villa) sudah sekitar setengah tahun,” ujar Suparjo saat ditemui.
Ia menjelaskan bahwa selama ini pembuangan sampah dilakukan ke tempat yang semestinya.
“Biasanya saya buang ke TPA setiap hari Jumat,” katanya.
Namun pada hari kejadian, Suparjo mengakui melakukan pelanggaran.
“Hari ini karena kelalaian saya saja. Sekitar 10 kantong saya buang ke sungai,” kata Suparjo.
Ia mengaku baru mengetahui aksinya viral setelah dipanggil oleh perangkat desa.
“Saya tiba-tiba dipanggil sama perangkat dan baru tau viral,” ujarnya.
Suparjo mengakui perbuatannya dilatarbelakangi sikap egois. Ia menyampaikan penyesalan mendalam atas dampak perbuatannya.
“Ya ini keegoisan saya buang sampah di sungai.
Saya sangat menyesal sekali sampai merugikan berapa pihak.
Untuk semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan semua, saya mohon maaf,” katanya.
Terkait penggunaan baju oranye mirip atribut relawan, Suparjo menegaskan dirinya bukanlah anggota relawan.
“Kalau biasanya saya pakai baju biasa, ngga pakai baju oranye,” imbuhnya.
Sebelumnya, Suparjo juga telah menyatakan permohonan maaf kepada masyarakat Wonosobo dan para relawan kemanusiaan serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
Di hadapan pemangku kepentingan di wilayah tersebut, ia menyatakan siap menerima sanksi jika kembali melakukan pelanggaran. (ima)