Menapak Jalur Sakral Merapi, Labuhan Tahun Dal Merajut Doa dan Harmoni Alam
January 20, 2026 08:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Berjalan kaki sejauh kurang lebih 2,5 kilometer dari Kompleks Museum Petilasan Mbah Maridjan menuju Srimanganti, para abdi dalem, juru kunci, dan masyarakat mengarak ubarampe dalam prosesi Labuhan Merapi Tahun Dal 1959/2026, Selasa pagi (20/1/2026).

Prosesi yang dimulai sekitar pukul 06.15 WIB itu berlangsung dalam suasana hening lereng Gunung Merapi yang diselimuti kabut pagi.

Langkah-langkah peserta berjalan khidmat menapaki jalur sakral dari Kinahrejo, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman, seiring udara sejuk yang menguatkan nuansa spiritual upacara adat tersebut.

Tingalan Jumenengan Dalem

Labuhan Merapi merupakan bagian penting dari rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem ke-38 Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas. 

Peringatan ini jatuh pada Ngahad Kliwon, 29 Rejeb Tahun Dal 1959 Jawa, yang bertepatan dengan 18 Januari 2026. Melalui labuhan, Keraton Yogyakarta bersama masyarakat memanjatkan rasa syukur sekaligus doa keselamatan bagi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya wilayah yang berada di lereng Merapi.

Rangkaian upacara telah dimulai sejak Sabtu malam (19/1) di Kompleks Museum Petilasan Mbah Maridjan. Sugengan dan pagelaran wayang kulit dengan lakon Semar Bangun Desa digelar sebagai pembuka, menghadirkan suasana spiritual yang sarat nilai filosofis dan mencerminkan kearifan budaya Jawa yang terus dirawat dan diwariskan lintas generasi.

Ubarampe labuhan sebelumnya diserahkan Utusan Keraton Yogyakarta kepada Bupati Sleman Harda Kiswaya, kemudian diteruskan kepada Juru Kunci Merapi, Mas Wedana Surakso Hargo Asihono atau Mbah Asih. Bersama Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, para abdi dalem Hargo Merapi, serta masyarakat, ubarampe tersebut diarak menuju Srimanganti sebagai puncak prosesi labuhan.

Istimewa

Mbah Asih menjelaskan, pelaksanaan Labuhan Merapi pada Tahun Dal memiliki keistimewaan tersendiri karena hanya digelar setiap delapan tahun sekali. Salah satu penandanya adalah kehadiran ubarampe khusus berupa Kambil Watangan atau pelana kuda.

“Maknanya agar masyarakat lereng Merapi dan DIY lebih memusatkan doa serta memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya.

Pada Tahun Dal, Keraton Yogyakarta juga melaksanakan Labuhan Ageng dengan penambahan lokasi labuhan di Dlepih, Kabupaten Wonogiri, selain Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, dan Gunung Lawu. Tradisi ini menjadi pengingat bagi raja yang bertakhta untuk senantiasa menapaki laku spiritual para leluhur pendiri Mataram.

Mbah Asih menuturkan, ubarampe labuhan yang dilarung antara lain Sinjang Cangkring, Sinjang Kawung Kemplang atau Limar, Semekan Gadung Mlati, Semekan Gadung, Semekan Bangun Tulak, Dhesthar Daramuluk, Paningset Udaraga, Kampuh Poleng, Ses Wangen atau Sekar Konyoh, serta Arta Tindih. Setiap ubarampe memiliki makna filosofis sebagai simbol pengharapan, pembersihan diri, dan keseimbangan hidup.

Ubarampe tersebut dipersembahkan kepada Eyang Sapu Jagat, Eyang Empu Romo, Empu Rahmadi, Eyang Megantoro, Branjang Kawat, Nyai Gadung Mlati, Bromo Dedali, Panembahan Prabu Jagat, Farlo Warli, dan Krincing Wesi.

“Labuhan Merapi menjadi wujud rasa syukur atas anugerah Gunung Merapi yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat, mulai dari kesuburan tanah, sumber pengetahuan, hingga potensi pariwisata yang memberi manfaat ekonomi,” tandas putra Mbah Maridjan tersebut.

Momentum refleksi spiritual 

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa yang turut mengikuti prosesi menyampaikan, Labuhan Merapi merupakan momentum refleksi spiritual sekaligus pengingat pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam.

“Bagi masyarakat Jawa, tradisi ini adalah laku untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan alam, sekaligus menjaga lingkungan agar tetap lestari,” ungkapnya.

Di tengah arus modernisasi, Labuhan Merapi tetap teguh sebagai identitas budaya dan bagian dari Keistimewaan DIY. Tradisi ini meneguhkan falsafah Hamemayu Hayuning Bawana, yakni menjaga keharmonisan dunia melalui keseimbangan hubungan manusia, alam, dan Tuhan. Melalui upacara adat ini, nilai-nilai kearifan lokal tidak hanya dirawat, tetapi juga diwariskan kepada generasi mendatang sebagai fondasi kehidupan yang selaras dan berkelanjutan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.