SURYA.co.id - Upaya pencarian korban pesawat ATR 42-500 membuahkan hasil, Tim SAR menemukan penampakan seragam pramugari di kawasan pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Seragam tersebut masih melekat di tubuh korban dan dilengkapi nametag bertuliskan nama seorang wanita.
Adalah Saipul Malik, yang pertama kali menyadai saat langkah kakinya terhenti di lereng gunung.
Di tengah medan yang terjal, pandangannya tertuju pada sebuah nametag yang masih menempel di pakaian seorang wanita.
Tubuh korban terbujur kaku, tersangkut di antara dahan pepohonan.
Baca juga: Dua Kru Pesawat ATR 42-500 Lolos Dari Maut Gegara Batal Terbang, Diselamatkan Takdir
Korban ditemukan masih mengenakan seragam ATR 42-500 berwarna hitam.
Pakaian tersebut dipadukan dengan celana jins serta sepatu kets hitam, yang memperjelas identitasnya sebagai bagian dari awak pesawat.
Saipul Malik, anggota Tim Arai Sulsel, menjadi orang pertama yang menemukan korban kedua dari pesawat ATR 42-500 yang jatuh pada Sabtu (17/1/2025).
Penemuan itu terjadi saat ia menyusuri lereng gunung dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat.
Kabut tebal menyelimuti kawasan pencarian, hujan terus turun, jalur licin, dan jarak pandang sangat terbatas.
Baca juga: SOSOK Florencia Lolita Wibisono Pramugari ATR 42-500 Nasib belum Diketahui, Rencana Menikah Pupus
Meski demikian, Saipul tetap bergerak perlahan di sekitar puing-puing pesawat ATR 42/500 milik Indonesia Air Transport.
Hingga akhirnya, sekitar pukul 14.00 WITA, ia melihat tanda-tanda mencurigakan di area yang berjarak kurang lebih 100 meter dari titik kepala pesawat.
Temuan tersebut kemudian memastikan keberadaan korban yang selama ini dicari oleh tim penyelamat.
"(Korban kedua) ditemukan sekitar jam 2. Sebelum posisi titik kepala pesawat, kira-kira sekitar 100 meter sebelum," kata Saipul dikutip dari Kompas.com, Selasa (20/1/2025).
Dengan gerak perlahan, Saipul menuruni lereng di sekitar lokasi badan pesawat ditemukan.
Ia pun penasaran saat melihat ada pohon-pohon yang patah dan batu-batu pecah.
Pohon dan batu-batu itu seolah menunjukkan ada sesuatu yang jatuh dari atas ke arahnya.
Saipul lalu memperlebar penyisiran ke sisi kanan.
Firasatnya pun terjawab di jurang pegunungan Bulusarang.
"Saya identifikasi kemungkinan ada (mayat), saya agak nyisir ke lereng sebelah, ada di situ saya dapat (korban)," jelasnya.
Dari kejauhan, korban terlihat terbujur kaku tersangkut di sela pohon.
Tak langsung mendekat, Saipul pun memilih menunggu personel SAR lainnya.
Saat didekati bersama yang lain, ia melihat dengan jelas nametag masih terpasang di pakaian korban.
"Begitu abang dan teman-teman Basarnas dan yang lainnya datang, kita dekati, fix perempuan dan masih ada nametag," jelas dia.
Saipul mengatakan kalau nametag itu masih jelas terlihat dan tidak tergores sehingga membuat namanya kabur.
"Ada, nametag-nya masih ada namanya," ucapnya.
Namun Saipul belum dapat memastikan identitas korban. Tulisan di nametag itu pun hanya ia baca sekilas.
"Seingat saya tertulis Florencia," kata Saipul lagi.
Ia menuturkan kalau korban ditemukan dalam kondisi tragis setelah jatuh dari ketinggian.
Posisinya tengkurap dan tertahan pohon di lereng curam.
"Posisinya tengkurap, kaki kanan patah," katanya.
Saat ditemukan, kata dia, korban masih mengenakan uniform ATR 42-500 berwarna hitam, dipadukan dengan celana jins dan sepatu kets hitam.
"Bajunya masih uniform ATR," tambahnya.
Saipul kemudian menutup tubuh korban dengan kantong plastik sambil menunggu kantong jenazah.
Setelah itu, korban berjenis kelamin wanita itu dimasukkan ke kantong mayat dan dibawa ke jalur utama.
Evakuasi dilakukan dengan menarik jenazah ke puncak menggunakan tali sebelum dibawa turun melalui jalur pendaikan. Medan dan kabut membuat helikopter sulit digunakan.
Korban kemudian diamankan dengan digantung di pohon sambil menunggu proses evakuasi lanjutan keesokan hari.
Kepala Basarnas, Marsdya TNI Mohammad Syafii, dalam konferensi pers di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, mengonfirmasi penemuan korban kedua.
"Korban kedua ditemukan berjenis kelamin perempuan pada pukul 14.30 Wita. Ditemukan di kedalaman 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung," ungkap Syafii.
Hingga saat ini, dari total 10 orang (7 kru dan 3 penumpang) yang berada di dalam pesawat ATR 42-500, baru dua jenazah yang berhasil ditemukan.
Pesawat yang disewa oleh Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP ini sebelumnya dilaporkan hilang kontak saat terbang menuju Makassar pada Sabtu (17/1/2026) siang.
Pesawat tersebut mengangkut 10 orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang yang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Hingga kini, tim SAR gabungan telah mengevakuasi dua jenazah dari lokasi kejadian.
Proses pencarian dan evakuasi korban lainnya masih terus berlangsung.