Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kurs rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (20/1/2025).
Rupiah spot berada di level Rp16.988 per dolar AS, melemah 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.955 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartabi, mengatakan pelemahan rupiah merupakan akumulasi tekanan yang terjadi dalam jangka menengah dan mencapai puncaknya di awal tahun ini.
“Dalam jangka menengah, fluktuasi nilai tukar rupiah memang terus mengalami tekanan. Saya kira puncaknya terjadi di awal tahun ini karena ada berbagai faktor yang memengaruhi, baik global maupun domestik,” ujar Acuviarta, kepada TribunJabar.id, Selasa (20/1/2026).
Ia menjelaskan, dari sisi global, investor masih dibayangi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Sentimen pasar antara lain dipengaruhi kebijakan pemerintah Amerika Serikat serta konflik yang terjadi di sejumlah kawasan.
“Investor masih melihat banyak ketidakpastian global, mulai dari kebijakan pemerintah Amerika Serikat, isu tarif, hingga konflik geopolitik di Timur Tengah. Ini jelas memengaruhi pergerakan pasar keuangan,” katanya.
Selain itu, faktor politik dan kebijakan moneter AS juga turut menekan rupiah. Menurut Acuviarta, dinamika di bank sentral AS dan kuatnya pengaruh politik ikut memengaruhi arus modal global.
“Pergantian kepemimpinan di bank sentral Amerika dan kuatnya dominasi kebijakan politik di sana berdampak pada sentimen pasar, khususnya mobilitas dana keluar dan masuk Amerika Serikat,” ujarnya.
Dari dalam negeri, tekanan rupiah dipicu meningkatnya permintaan dolar AS. Kebutuhan tersebut berasal dari pembayaran bunga dan cicilan utang luar negeri, aktivitas impor, serta repatriasi dividen perusahaan asing.
“Permintaan dolar di akhir tahun hingga awal tahun memang meningkat, baik untuk pembayaran utang, impor, maupun pengiriman dividen ke luar negeri,” kata Acuviarta.
Ia juga menyoroti kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal nasional, seiring defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang mendekati batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
“Defisit APBN yang hampir menyentuh 3 persen PDB menimbulkan kekhawatiran karena artinya pemerintah harus menambah utang. Ini berpengaruh terhadap persepsi pasar,” ucapnya.
Di sisi lain, penurunan harga komoditas turut menekan pasokan devisa.
“Harga sawit dan batu bara turun, sehingga penerimaan devisa ikut berkurang,” tambah Acuviarta.
Meski demikian, ia menilai kondisi eksternal Indonesia masih relatif aman dibandingkan negara lain.
“Kalau dibandingkan dengan Iran, kita masih aman. Cadangan devisa Indonesia masih di atas enam bulan impor dan pembayaran utang luar negeri,” ujarnya.
Namun, Acuviarta menekankan pentingnya peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar.
“Kita berharap Bank Indonesia lebih aktif melakukan intervensi, baik di pasar spot maupun offshore, dengan menambah pasokan dolar di pasar,” katanya.
Terkait prospek ke depan, Acuviarta memperkirakan volatilitas rupiah masih akan berlangsung hingga akhir triwulan I 2025.
“Saya kira pasar masih cenderung wait and see. Gonjang-ganjing ini kemungkinan berlangsung sampai Maret sambil menunggu data ekonomi dan kebijakan pemerintah,” kata Acuviarta. (*)