TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Puncak dari protes warga Rohingya di Pekanbaru untuk mendapatkan hidup layak akhirnya mereka salurkan lewat aksi di kantor International Orgnlanization Migrasi ( IOM ), Senin (20/1/2026). Muhammad Zubair menjadi saksi dari aksi yang membuka mata internasional terkait nasib para pengungsi Rohingya yang ada di Pekanbaru.
Kepada Tribunpekanbaru.com, Zubair menceritakan apa sejatinya yang menjadi keinginan mereka. Berbicara dengan bahasa Indonesia yang lumayan fasih, Ia mengungkapkan keprihatinan yang mendalam atas kondisi saat ini.
Inilah Saksi Kata Muhamad Zubair seorang pengungsi Rohingya yang ada di Pekanbaru.
Muhammad Zubair sudah ada di Pekanbaru sejak tahun 2015. Keberadaannya di Kota Bertuah ( sebutan Kota Pekanbaru) adalah sebuah keterpaksaan.
Konflik yang terjadi di tanah kelahirannya, Myanmar yang membawanya menjadi pengungsi dan tercatat sebagai imigran. Dan tentu saja, ia kini berada dibawah naungan IOM yang merupakan organisasi migrasi dibawah PBB.
Kepada Tribunpekanbaru.com Zubair mengatakan ingin membuka mata dunia internasional terkait kondisi mereka.
Pasca kebutuhan hidup yang menjadi tanggungjawab IOM tidak lagi berpihak. Kebutuhan hidup yang layak menjadi fokusnya.
Menurut Zubair, aspirasi yang disampaikan masyarakat Rohingya tak lebih dari perhatian hidup yang lebih baik.
"Kami bukan orang Indonesia. Demikian juga dengan Afganistan, Somalia, Sri Lanka . Namun kami punya hak yang sama sebagai orang yang terusir dari tanah kelahiran. Namun, kenyataannya dibendakan," ungkap Zubair diwawancara, Selasa (21/1/2026).
Menurutnya, sejak tahun 2023 bantuan kebutuhan hidup dari IOM tidak lagi mencukupi. Hal itu karena kebijakan pengurangan bantuan termasuk hak lainnya.Seperti rumah sakit, rumah kontrakan.
"Kami tidak lagi mendapatkan rumah, bantuan uang sudah dikurangi. Sedangkan untuk biaya lain harus digunakan uang bantuan itu. Sangat tidak mencukupi," ujarnya.
Dikatakan Zubair, orang Rohingya memang datang sendiri. Namun, kedatangan mereka bukan sebuah hal dinginkan. Namun karena kondisi di negara mereka yang tidak memungkinkan lagi untuk tinggal.
"Seperti halnya orang Palestina, kami juga dalam kondisi yang sama. Namun, kami harus mengarungi lautan menggunakan kapal. Sedangkan orang Palestina mendapat perhatian. Apa bedanya kami dengan mereka. Kenapa bantuan dan perhatian yang sama tidak kami dapatkan," ungkapnya.
Menurutnya, dunia Internasional harus melihat kondisi mereka ( warga Rohingya) yang mengungsi. Jika dihadapkan pada pilihan, maka tentu saja menurut Zubair mereka tidak menginginkan hidup dalam pengungsian.
Namun, kenyataan harus diterima. Mau kemana, mereka sekarang tidak tahu lagi.
"Kami mau kemana. Kenyataan saya ini, kami ditempatkan disini ( Indonesia). Mau balik ke negara ( Myanmar) disana orang dibunuh. Makanya kami ingin sampaikan di dunia internasional bahwa kami butuh perhatian seperti halnya negara lain yang nasibnya serupa," ujarnya.
Terkait kondisi yang ada di pengungsian saat ini, Zubair membeberkan jika mereka seperti bertahan hidup. Seperti dicampakkan dan harus berjuang untuk bertahan.
Pemukiman yang mereka bangun tidak layak. Dengan keterbatasan uang, mereka harus berusaha keras. Mau bekerja juga tidak bisa karena bukan orang tempatan.
"Kami hidup begini. Bertahan lewat bantuan. Yang ada kami usahakan ditabung untuk membangun rumah," terang Zubair.
Dengan kondisi yang tidak layak itu, Zubair mengatakan lokasi pemukiman kerap kena banjir. Sebagai konsekwensinya bangunan rumah dibikin beringkat.
"Belum lagi menghadapi anak-anak yang sakit. Mereka hanya dibaringkan dirumah. Mau mengadu kemana. Karena IOM sudah melepas tanggungan itu," ungkap Zubair.
Kini harapannya, penderitaan mereka sebagai orang dipaksa keluar dari tanah kelahiran tidak berkepanjangan. Organisasi kemanusiaan bisa memberikan perhatian.
(Tribun Pekanbaru/ Budi Rahmat)