Marak Aksi Mengakhiri Hidup di Jembatan Soekarno Hatta Malang, Psikolog: Pelaku Dihinggapi Traumatis
January 20, 2026 09:35 PM

SURYAMALANG.COM, MALANG - Peristiwa percobaan bunuh diri terjadi di Jembatan Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang.

Kaprodi Magister Psikologi UIN Malang, Dr Novia Solichah menguraikan, bahwa keinginan mengakhiri hidup bukan muncul secara tiba-tiba.

Melainkan merupakan proses panjang yang berkaitan erat dengan kondisi depresi dan pengalaman psikologis sejak lama.

“Kalau ada keinginan mengakhiri hidup, itu salah satu simptom depresi."

"Secara fisik individu bisa terlihat sehat, tapi yang sakit itu psikisnya,” kata Novia kepada SURYAMALANG.COM.

Baca juga: Mahasiswi PTN di Malang Asal Jakarta Melompat dari Jembatan Soehat Malang, Alami Patah Tulang

Ia menjelaskan, banyak individu rentan terbentuk dari pengalaman masa kecil yang dipenuhi perlakuan negatif, seperti diremehkan, direndahkan, atau dilabeli secara buruk, baik di keluarga maupun lingkungan pertemanan.

“Anak yang terus-menerus dirundung, dilabel negatif, akhirnya mempercayai label itu."

"Dia jadi tidak tahu cara berteman, menarik diri dari lingkungan, dan tumbuh sebagai individu yang rentan,” ujarnya.

Pelaku Mengalami Peristiwa Traumatis

Menurut Novia, proses menuju keinginan bunuh diri biasanya melalui beberapa tahapan. Awalnya ada peristiwa traumatis (traumatic event).

Di tahap ini, anak sering mendapatkan perlakuan negatif sejak usia dini.

Lalu berlanjut pada conditioning event, yakni situasi negatif yang terus berulang, seperti perundungan dari keluarga dan teman yang mendorong pemahaman individu kalau mereka pantas dilabeli seperti itu.

Pada kondisi ini, mereka tidak tahu harus bagaimana. Mulai muncul kecemasan dan tidak tahu harus melakukan apa.

Setelah itu muncul precipitating event, yaitu pemicu terakhir yang membuat individu merasa tidak berharga.

Dalam posisi ini, individu yang rentang bahkan bisa meyakini dirinya sudah tidak berguna lagi.

Bahkan bisa mengatakan kalau dirinya mati sekalipun, tidak ada orang yang akan menjadi sedih.

Baca juga: DPRD Kota Malang Prihatin Terkait Banyaknya Kasus Percobaan Bunuh Diri

“Bagi orang lain mungkin itu hal biasa, tapi bagi individu yang menyimpan luka lama, itu bisa menjadi pemicu terakhir."

"Pilihan mengakhiri hidup muncul dari proses yang panjang, bukan satu hari lalu tiba-tiba,” jelasnya.

Novia menilai, individu rentan akan lebih mudah menafsirkan situasi secara negatif. Dalam konteks anak muda ataupun mahasiswa, kerentanan negatif bisa terpicu saat ditegur oleh dosen.

Bahkan sekadar dilihat dosen pun bisa disimpulkan negatif oleh mahasiswa. Hal itu terjadi karena individu yang rentan merasa dirinya terintimidasi.

“Masalah akademik yang sebenarnya biasa saja, seperti topik sulit atau dosen sulit ditemui, bisa terasa sangat berat bagi individu yang rentan. Bahkan buka laptop saja bisa mual karena cemas,” katanya.

Selain faktor pribadi, tekanan eksternal seperti tuntutan keluarga, pasangan, dan perbandingan dengan teman yang sudah lulus juga memperberat kondisi psikologis.

Untuk mencegah kondisi semakin parah, Novia menyarankan individu mengenali tanda-tanda awal dalam dirinya. Salah satunya dengan menuliskan hal-hal positif setiap hari melalui journaling.

“Kalau terasa berat sekali, harus konsultasi ke ahli. Untuk yang ringan, saat muncul cemas dan keinginan mengakhiri hidup, bisa pakai mindfulness."

"Misal menyebutkan lima hal yang bisa dilihat, didengar, disentuh. Itu pengingat bahwa kita masih hidup dan layak,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran dosen dalam memahami kondisi mahasiswa. Dosen saat ini tidak sekadar dituntut akademik, tapi juga tahu kondisi psikis mahasiswanya.

“Dosen perlu lebih peduli, tidak hanya menunggu mahasiswa datang, tapi juga bisa menanyakan kabar."

"Di pengalaman saya, sekadar tanya ‘apa kabar’, mahasiswa bisa langsung menangis dan bercerita,” katanya.

Menurut Novia, kampus perlu memiliki sistem yang berpihak pada kesehatan mental mahasiswa, seperti pusat konseling dengan tenaga profesional yang menjaga kerahasiaan, pengembangan peer counselor, serta peran dosen wali yang tidak hanya memantau akademik, tetapi juga kondisi psikologis mahasiswa.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.