HMI Bersama IDI Hadirkan Mobile Clinic di Sejumlah Wilayah Aceh
January 21, 2026 12:54 AM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Banda Aceh

TribunGayo.com, BANDA ACEH - Pascabencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh.

Tim Satuan Tugas (Satgas) Insan Cita Rescue Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Aceh bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh turun langsung ke lapangan.

Untuk menghadirkan layanan mobile clinic, pengobatan gratis, serta trauma healing bagi masyarakat terdampak.

Hal tersebut disampaikan Wira Yaqin Pelas selaku Pengurus BADKO HMI Aceh kepada TribunGayo.com, Selasa (20/1/2026).

Kegiatan kemanusiaan ini berlangsung selama tiga hari (16–18 Januari 2026), dengan menyasar empat kabupaten terdampak, yakni Aceh Tengah, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya.

Di Kabupaten Aceh Tengah, layanan dipusatkan di Desa Pantan Nangka, Kecamatan Linge.

Sementara di Aceh Utara berlangsung di Desa Blang Reuling, Kecamatan Sawang.

Adapun di Kabupaten Bireuen, pelayanan dilaksanakan di Meunasah Gampong Pantee Lhong, Kecamatan Peusangan.

Serta di Kabupaten Pidie Jaya dipusatkan di Desa Dayah Husein, Kecamatan Meurah Dua.

Di setiap lokasi, tim gabungan HMI–IDI memberikan pemeriksaan kesehatan umum, pengobatan gratis, konsultasi dokter, pendampingan trauma healing, serta penyaluran bantuan sembako. 

Ratusan warga tercatat memanfaatkan layanan kesehatan tersebut.

Keluhan kesehatan yang paling banyak ditemui meliputi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit akibat paparan air banjir.

Kemudian gangguan pencernaan, serta keluhan psikologis pascabencana, khususnya pada anak-anak.

“Turun ke lokasi bencana bukan sekadar agenda kemanusiaan, tetapi panggilan nurani.

Mahasiswa harus hadir di tengah rakyat, terutama saat mereka berada dalam kondisi paling sulit,” ujar Wira Yaqin. 

Ia menambahkan, Satgas Insan Cita Rescue HMI tidak hanya bergerak pada fase tanggap darurat.

Tetapi juga berupaya mengawal proses pemulihan pascabencana agar layanan kesehatan dan pendampingan psikologis dapat berkelanjutan.

Lingkungan Pascabencana Berpotensi Tingkatkan Risiko Gangguan Kesehatan

Sementara itu, Ketua IDI Wilayah Aceh, dr Muntadhar menyampaikan bahwa kondisi lingkungan pascabencana sangat berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

“Keluhan yang paling banyak kami temukan adalah penyakit kulit akibat air banjir yang kotor, serta batuk dan flu karena cuaca lembap dan menurunnya daya tahan tubuh,” jelasnya.

Menurutnya, pelayanan kesehatan di lapangan sangat penting agar penyakit ringan tidak berkembang menjadi lebih serius, sekaligus memastikan pasien dengan penyakit kronis tidak mengalami putus obat.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini turut melibatkan Tim Satgas Insan Cita Rescue dalam pelayanan lapangan dan distribusi logistik kesehatan.

Selain itu, BPOM Peduli juga berkontribusi dengan mendukung logistik trauma healing serta penyediaan obat-obatan guna menunjang kelancaran layanan kesehatan di wilayah terdampak bencana. (*) 

Baca juga: 262 KK di Ketol Aceh Tengah Kehilangan Rumah, Huntara Disiapkan di Tiga Lokasi

Baca juga: Status Tanggap Darurat Bencana Berakhir 22 Januari 2026, Begini Tanggapan Jubir Pemkab Aceh Tengah

Baca juga: Helvi Triyansi jadi Perempuan Pertama Jabat Kadis, HMI Harap Transformasi Birokrasi Aceh Tengah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.