TRIBUNNEWSMAKER.COM - Proses evakuasi jenazah pramugari pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, berlangsung dramatis dan penuh risiko.
Jenazah berjenis kelamin perempuan yang diduga kuat merupakan pramugari pesawat nahas tersebut akhirnya berhasil dievakuasi pada Selasa (20/1/2026).
Hal itu bisa terjadi setelah tim SAR gabungan berhari-hari menembus medan terjal dan cuaca ekstrem.
Lokasi penemuan jenazah berada di lereng Gunung Bulusaraung, dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak.
Posisi ini membuat proses evakuasi tidak dapat dilakukan secara normal, mengingat jalur yang curam, licin, serta minim pijakan.
Baca juga: 7 Pria Mantan Pacar Aurelie Moeremans: Roby Tremonti, Marcello Tahitoe hingga Giorgino Abraham
“Saat ini posisi jenazah korban kedua sudah berada di ketinggian sekitar 100 meter dari puncak,” kata Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan dikutip dari Tribun Timur.
Menurut Andre, medan ekstrem memaksa tim SAR menggunakan teknik khusus berupa grappling.
Teknik tersebut yakni metode pengangkatan kantong jenazah menggunakan tali dari tebing curam.
Teknik ini membutuhkan ketelitian tinggi karena kesalahan kecil dapat berakibat fatal, baik bagi korban maupun personel penyelamat.
Tak hanya medan yang menjadi tantangan, kondisi cuaca di puncak Bulusaraung juga sangat tidak bersahabat.
Angin kencang dan kabut tebal kerap datang tiba-tiba, memaksa tim menghentikan sementara proses evakuasi demi keselamatan.
Baca juga: 7 Mantan Pacar Aurelie Moeremans Sebelum Dinikahi Tyler Bigenho, Termasuk Marcello Tahitoe
“Kondisi angin di atas saat ini berkisar antara 20 hingga 25 knot. Jadi semua benar-benar tergantung cuaca,” jelas Andre.
Ia menambahkan, setiap pergerakan tim selalu menunggu jeda angin agar evakuasi dapat dilakukan dengan aman.
Jenazah perempuan ini menjadi korban kedua yang berhasil ditemukan dari tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan pegunungan tersebut.
Sehari sebelumnya, tim SAR lebih dulu menemukan satu korban berjenis kelamin laki-laki.
Berdasarkan data manifes terakhir, pesawat tersebut membawa total 10 orang yang hingga kini masih dinyatakan belum ditemukan sepenuhnya.
Untuk mempercepat proses pencarian, sekitar 500 personel SAR gabungan dikerahkan.
Mereka berasal dari Basarnas, TNI, Polri, relawan pecinta alam, hingga warga lokal yang mengenal medan Gunung Bulusaraung dengan baik.
Operasi pencarian dilakukan melalui jalur darat dan udara.
Namun, keterbatasan cuaca membuat helikopter tidak selalu bisa digunakan, sehingga sebagian besar proses bergantung pada kemampuan tim darat.
Sejumlah personel bahkan harus menginap di area pencarian selama berhari-hari, dengan perlengkapan logistik terbatas, demi memastikan operasi SAR tetap berjalan.
Tim SAR kini masih terus melakukan penyisiran di beberapa titik yang diduga menjadi lokasi jatuhnya badan pesawat dan korban lainnya.
Harapan besar terus disematkan agar seluruh korban dapat segera ditemukan, meski tantangan alam di Gunung Bulusaraung masih menjadi hambatan utama.
Operasi SAR akan terus dilanjutkan dengan mengutamakan keselamatan personel, sambil menunggu kondisi cuaca yang lebih bersahabat.
(Tribunnewsmaker.com/Candra)