TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Bupati Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Dillah Hikmah Sari alias Dillah Hich memberi pernyataan terkait insiden seorang guru dikeroyok sejumlah siswa di SMKN 3 Berbak.
Dillah sangat menyesalkan terjadinya peristiwa tersebut, termasuk upaya penyelesaian masalah lewat jalur hukum yang diambil kedua belah pihak, baik guru maupun murid, yang saling melapor ke kepolisian.
Bagi Dillah, persoalan tersebut seharusnya bisa diselesaikan secara baik-baik, yakni dengan musyawarah.
"Saya sangat menyesalkan peristiwa itu. Bahkan saya menyesalkan penyelesaian yang menempuh jalur hukum. Memang hak siapapun untuk menempuh jalur hukum. Tetapi menurut saya, persoalan ini seharusnya bisa diselesaikan baik-baik," kata Bupati Dillah dalam pernyataan yang diterima Tribunjambi.com, Rabu (21/1/2026).
Dillah menilai bahwa semua murid sejatinya anak yang baik jika dapat diarahkan dan dibina menjadi pribadi yang baik.
"Saya yakin anak-anak kami di SMKN 3 di Berbak dan di semua sekolah di Tanjabtim ini sejatinya adalah anak-anak baik yang bisa diarahkan dan dibina menjadi pribadi yang baik," tuturnya.
Bupati Dillah menyatakan telah mengonfirmasi camat hingga orangtua siswa terkait kejadian tersebut.
Menurut camat, jelas Dillah, orangtua siswa yang terlibat dalam peristiwa itu sangat terbuka dengan opsi penyelesaian melalui musyawarah, di tengah saat ini kedua belah pihak sudah saling melapor ke kepolisian.
Baca juga: Pengeroyokan Guru Agus di SMKN 3 Tanjabtim: Berawal Pintu Kelas Tertutup, Teriakan Berujung Tamparan
Baca juga: Update Tragedi Tebing PETI di Sarolangun Jambi Longsor: 8 Tewas, 4 Terluka
Baca juga: Identitas Pemilik Tambang Emas Ilegal di Sarolangun Jambi yang Longsor, 8 Pekerja Tewas Tertimbun
"Harapan saya akan ada jalan tengah. Tak elok masalah begini ditangani dengan saling menyalahkan. Kami sudah minta aparatur pemerintah setempat untuk berkomunikasi dengan para guru dan orangtua agar persoalan begini tidak lagi terulang," ucap Bupati Dillah.
Dillah juga menyampikan imbauan kepada seluruh siswa, dari tingkat dasar hingga menengah atas, agar meningkatkan penghargaan terhadap para guru.
"Tolong tingkatkan lagi penghargaan kalian kepada guru, karena guru adalah orangtua kita," pesan Dillah.
Bupati Tanjabtim juga menilai bahwa semua tindakan fisik tidak bisa dibenarkan, apapun alasannya.
"Tetapi juga kepada para guru, para pendidik, tolong juga tingkatkan lagi pola komunikasi yang baik dan mengayomi, terutama kepada siswa. Perilaku siswa adalah gambaran keberhasilan kita dalam mendidik mereka," tutur Dillah.
"Dengan kejadian ini, saya minta ini bisa menjadi pelajaran penting untuk semua. Termasuk orangtua. Jangan pernah bosan menasihati anak-anak di rumah agar bersikap baik dan hormat kepada siapapun, terkhusus kepada guru," tutupnya.
Berawal Pintu Kelas Tertutup
Pengeroyokan terhadap guru Agus Saputra (38) oleh sejumlah siswa di SMKN 3, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, pada Selasa (13/1/2025) merupakan peristiwa puncak setelah kejadian sehari sebelumnya, Senin (12/1/2025).
Tribun Jambi mendapati fakta ini dari wawancara dengan empat narasumber, yakni tiga guru dan satu staf sekolah, yang ditemui di sekolah tersebut pada Senin (19/1/2025) siang.
Semua bermula dari peristiwa di dua ruang kelas berbeda, Senin (12/1/2025). Seorang guru mengungkapkan, di sebuah ruang kelas, guru Agus awalnya melintas di depan kelas tersebut. Agus mendapati pintu kelas tertutup. Hal tersebut membuat Agus menegur murid di dalam kelas terkait alasan pintu kelas ditutup.
Baca juga: Longsor di Lokasi Diduga PETI Sarolangun, Delapan Pekerja Tewas dan Empat Luka-luka
“Kami tidak tahu persis kronologi di dalam kelas, karena tidak berada di sana. Yang kami tahu, setelah kejadian itu, ada siswi yang menangis,” ujar seorang guru.
Siswi yang menangis diketahui berinisial Ag. Dia cukup berprestasi di kelasnya. Selain Ag, seorang siswi lain berinisial Ma ikut menangis.
“Kalau Ma, kami tidak tahu pasti alasannya (menangis). Bisa jadi ikut menangis karena temannya (Ag) menangis, karena mereka dekat,” kata guru tersebut.
Di ruang kelas lainnya, jelas guru tersebut, guru Agus juga mendapati pintu kelas tertutup. Agus kemudian melakukan hal serupa, yakni menegur murid di dalam kelas soal pintu yang ditutup.
Masih dari keterangan guru tersebut, dari cerita yang berkembang di antara murid, teguran itu berujung pada pemberian tugas yang dinilai berat. Tugas itu adalah sejumlah murid diminta membuat video permintaan maaf bersama orangtua serta menulis surat pernyataan permintaan maaf bermaterai.
Jika tidak membuat video dan surat pernyataan permintaan maaf, sambung guru tersebut, maka sejumlah murid itu akan diskors tidak boleh mengikuti mata Pelajaran Bahasa Inggris selama satu semester. Adapun murid yang diwajibkan membuat video dan surat pernyataan permintaan maaf berjumlah 5-7 orang.
Menurut guru tersebut, murid sempat mengupayakan untuk meminta maaf. Untuk upaya itu, beberapa murid mendatangi guru lain dan meminta saran.
Seorang guru menyarankan agar murid mengutus perwakilan kelas untuk menyampaikan secara langsung permintaan maaf. Mengapa hanya perwakilan kelas? Hal itu agar tidak menambah beban psikologis murid.
“Saya bilang, kalau ramai-ramai terlalu berat, cukup perwakilan. Anak-anak mengikuti saran itu,” katanya.
Namun, seorang guru lain yang melihat perwakilan kelas meminta maaf kepada guru Agus mengungkapkan, permintaan maaf tersebut tidak diterima. Guru Agus tetap pada tuntutan awal.
“Intinya, permintaan maaf itu tidak diterima. Komunikasi di situ gagal,” ujar guru ini.
Meskipun demikian, pada Senin itu, belum terjadi keributan terbuka. Para guru menganggap situasi masih bisa dikendalikan. Tangisan siswi dianggap sebagai peristiwa yang masih bisa diselesaikan secara internal.
Orangtua Siswi Datang
Esok harinya, Selasa (13/1/2025) tepatnya pagi hari, orangtua salah satu siswi yang menangis datang ke sekolah. Orangtua siswi ini bekerja sebagai petugas kebersihan di SMKN 3 Tanjabtim.
Seorang guru senior yang menemui orangtua tersebut mengaku sengaja menghindarkan pertemuan langsung antara orangtua siswi itu dan guru Agus.
"Saya khawatir kalau dipertemukan dalam kondisi emosi, justru terjadi hal yang tidak diinginkan,” katanya.
Guru senior ini memilih pendekatan persuasif. Ia mengajak orangtua siswi pekerja kebun di sekolah untuk menenangkan diri dan menghindari potensi konflik lebih besar.
“Langkah itu saya ambil supaya tidak terjadi benturan antara orang dewasa di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Baca juga: Daftar Nama dan Asal 6 Korban Lubang PETI Longsor di Sarolangun Jambi
Mediasi dan Pengeroyokan
Siang harinya, seorang guru menuturkan, tiga murid datang ke kantor sekolah. Di kantor tersebut, ada guru Agus dan sejumlah guru lainnya.
Tiga murid ini memohon keringanan atas permintaan guru Agus mengenai pembuatan video dan surat permohonan maaf. Namun, menurut guru ini, di situ terlontar kata-kata tidak pantas dari guru Agus.
Melihat situasi berpotensi memanas, seorang guru lainnya berinisiatif mengumpulkan murid dan mencoba untuk memediasi dengan guru Agus di luar kantor.
“Tujuannya hanya satu, supaya situasi ini reda. Supaya tidak terjadi keributan,” kata seorang staf sekolah.
Dalam mediasi, murid meminta Agus memohon maaf secara terbuka kepada murid, khususnya terkait ucapan yang dianggap menyinggung orangtua. Namun, menurut keterangan guru, jawaban yang diberikan Agus tidak secara langsung menjawab permintaan murid.
“Yang disampaikan justru melebar ke soal pembelajaran dan tugas. Permintaan maaf yang diminta anak-anak belum terjawab,” ujar seorang guru yang turut berada di lokasi saat murid dikumpulkan.
Situasi pun memanas. Sejumlah siswa mulai mendekat hingga suasana menjadi tidak terkendali dan terjadilah pengeroyokan terhadap guru Agus. Video yang kemudian beredar luas memperlihatkan suasana kacau di lingkungan sekolah.
Bantah Membiarkan
Dalam video tersebut, tidak tampak jelas ada upaya peleraian dari guru-guru lain, sehingga muncul anggapan adanya pembiaran atas pengeroyokan terhadap guru Agus.
Namun, sejumlah guru dan staf sekolah yang ditemui Tribun Jambi membantah hal tersebut. Mereka menyatakan upaya melerai dilakukan, tetapi tidak terekam kamera ponsel.
“Kejadiannya sangat cepat, tidak sampai satu menit. Ada yang memisahkan, ada yang menarik, ada yang mengamankan siswa. Tapi tidak semuanya masuk ke dalam frame video,” ujar seorang guru.
Guru lain menambahkan, beberapa guru berlari dari dalam gedung setelah mengetahui situasi memburuk.
“Ada guru yang memisahkan, ada yang membawa siswa masuk ke kelas, ada yang mencoba menutup pintu teralis. Cuma memang tidak terekam kamera,” katanya.
Menurut mereka, rekaman video hanya menangkap satu sudut kejadian, yaitu pengeroyokan terhadap Agus. Sementara pergerakan guru dan staf lain berada di luar jangkauan kamera.
Guru Agus kemudian diamankan ke dalam ruangan. Pihak Komite Sekolah disebut ikut turun tangan menenangkan suasana.
“Komite spontan muncul. Tujuannya mengamankan beliau (Agus) dan mendinginkan situasi,” kata staf sekolah.
Para guru menegaskan tidak ada niat sedikit pun untuk membiarkan kericuhan terjadi. Semua tindakan dilakukan secara spontan dalam situasi yang serba cepat.
“Kalau kami membiarkan, tentu tidak ada upaya apa pun. Faktanya, ada upaya meski tidak semuanya terlihat di video,” ujarnya.
Pada sore harinya, guru Agus dijemput pihak keluarga, lalu meninggalkan sekolah. Agus disebut berpamitan kepada rekan-rekannya dan menyampaikan izin untuk kembali ke Jambi dan beristirahat.
“Beliau izin istirahat dan pulang ke Jambi. Itu disampaikan secara langsung,” ujar seorang guru.
Serahkan ke Pimpinan
Para guru dan staf sekolah sepakat penanganan lanjutan diserahkan kepada pimpinan sekolah dan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Mereka menyatakan sejak awal pihak sekolah telah berupaya melakukan pendekatan persuasif untuk meredam konflik.
“Tujuan kami hanya satu, jangan sampai konflik melebar. Bukan membela siapa pun,” kata seorang guru senior.
Mereka juga berharap kronologi kejadian dapat dipahami secara utuh dan tidak dipotong hanya dari potongan video yang beredar.
“Kalau dilihat secara utuh, ada proses panjang dari Senin sampai Selasa. Ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri,” ujarnya.
Versi Siswa
Dari versi seorang siswa, keterangan mengenai awal mula pengeroyokan guru Agus hampir sama dengan versi sejumlah guru dan staf sekolah yang ditemui Tribun Jambi.
Kepada Tribun Jambi, seorang siswa berinisial Jm menceritakan bahwa peristiwa bermula pada jam pelajaran terakhir pada Senin. Saat itu, guru sebelumnya telah keluar kelas, sementara pelajaran Bahasa Inggris yang diampu guru Agus akan dimulai.
Karena Bahasa Inggris dianggap sebagai mata pelajaran yang cukup sulit, Jm berinisiatif meminta temannya, seorang siswi berinisial Ag, menutup pintu kelas agar murid lain tidak keluar-masuk.
"Pintunya tidak dikunci, hanya ditutup sebelah dan bisa langsung dibuka," jelas Jm.
Tak lama kemudian, beber Jm, guru Agus datang ke kelas dan meminta pintu yang ditutup sebelah agar dibuka. Setelah masuk ke dalam kelas, Agus bertanya siapa yang menutup pintu.
"Saya yang menyuruh Ag menutup pintu," kata Jm.
Setelah duduk di meja guru, Agus kembali bertanya, termasuk menanyakan pekerjaan orangtua Jm, namun pertanyaan itu tidak dijawab oleh Jm.
Di tengah suasana tersebut, sebuah tumbler milik ketua kelas, yakni Ma, terjatuh saat Agus sedang berbicara. Hal ini, menurut Jm, dinilai oleh Agus sebagai hal yang tidak sopan.
Jm mengungkapkan, Agus juga menyinggung latar belakang orangtua Ag yang bekerja sebagai petugas kebersihan sekolah. Bahkan, menurut Jm, pembicaraan sempat mengarah soal gaji orangtua dan dana komite sekolah.
"Ag diam saja di kelas. Setelah kami keluar, dia menangis di kantin," ujar Jm.
Akibat kejadian tersebut, Jm menyebutkan ada lima siswa yang dikenai sanksi skors. Skors tersebut berlaku selama satu semester, dengan syarat siswa harus membuat video permintaan maaf bersama orangtua dan menandatangani buku guru agar bisa kembali mengikuti pelajaran yang diampu Agus.
"Kami diminta membuat video bersama orangtua. Saya masih berpikir, karena kenapa orangtua ikut dilibatkan," kata Jm.
Tamparan
Esok harinya, Selasa (13/1/2025), Jm menceritakan kejadian lain. Saat belajar-mengajar berlangsung, ada siswa yang berteriak di dalam kelas. Guru Agus kebetulan melintas dan merasa tersinggung. Dia lalu masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang berteriak.
"Salah satu siswa langsung mengaku, lalu ditampar," ungkap Jm.
Siswa yang berteriak lalu mengaku dan ditampar itu berinisial MLF. Berdasarkan keterangan MLF, saat kegiatan belajar mengajar hampir selesai, suasana di kelas ribut. Ia kemudian menegur teman-temannya agar diam.
"Saya bilang, woi, diam. Tidak tahu kalau beliau lewat depan kelas," kata MLF dalam video wawancara yang diperoleh Tribun Jambi, Sabtu (17/1/2025).
Setelah penamparan tersebut, Jm menuturkan, sejumlah guru dan siswa berusaha menengahi agar tidak pecah keributan. Namun, emosi sejumlah siswa disebut memuncak hingga terjadi kekerasan fisik terhadap guru Agus. Videonya viral di media sosial.
Saat kejadian kekerasan, Jm mengaku berada di lapangan dan tidak terlibat langsung.
Pasca kejadian, dilakukan mediasi. Para siswa membuat surat pernyataan dan permintaan maaf atas arahan pihak kepolisian.
"Kami minta maaf karena itu yang paling mudah, walaupun saya tidak ikut dalam pengeroyokan," ucap Jm.
Jm juga mengungkapkan, tahun-tahun sebelumnya juga ada masalah hampir serupa. Dia menuturkan, sanksi skors bukan hanya dialami satu kelas, melainkan hampir merata di kelas lain.
Jm pun berharap hubungan guru dan murid bisa diperbaiki setelah kejadian ini.
"Kalau ada kesalahan antara guru dan murid, ya saling minta maaf. Lebih baik suasananya enak dan damai saja," katanya. (*)
Simak informasi lainnya di media sosial Facebook, Instagram, Thread dan X Tribun Jambi