SRIPOKU.COM - Korban kedua jatuhnya pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung pada Sabtu (17/1/2026) yang ditemukan Senin (19/1/2026) dipastikan bernama Florencia Lolita Wibisono.
Wanita 33 tahun ini merupakan pramugari pesawat tersebut bersama Esther Aprilita.
Kepastian akan identitas jenazah kedua ini didapat melalui sidik jari.
Kepala Kepala Pusat Identifikasi (Kapusindent) Bareskrim Polri, Brigjen Pol Mashudi, membenarkan.
Teknik sidik jari bisa diambil lantaran kondisi tubuh Florencia ketika ditemukan tim pencari masih dalam kondisi bagus.
Baca juga: Agam Rinjani Siap Bergeser ke Gunung Bulusaraung, Bantu Cari dan Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500
Petugas langsung mengambil sampel karena masih bisa terbaca.
Pembuktian dilanjutkan dengan mengambil sampel pembanding.
Sidik jari jempol tangan kiri korban dibandingkan dengan data miliki tim.
"Tetapi untuk buktikan secara sains kami melakukan pembandingan yaitu mengambil sidik jari jempol tangan kiri dan pembandingan dengan data pembanding. Sebagaimana disampaikan, misalnya sidik jari pada postmortem dan sidik jari pembanding," kata Brigjen Pol Mashud, Rabu (21/1/2026).
"Kami bisa meyakini secara keilmuan yang bersangkutan Florencia Lolita Wibisono. Kami yakin seyakin-yakinnya secara keilmuan yang bersangkutan," lanjutnya.
Salah satu anggota keluarga Florencia, Yanti, mengatakan sang pramugari sudah punya rencana menikah dengan seorang pilot.
Yanti yang tinggal di Kecamatan Tondano Timur, Kabupaten Minahasa mengatakan pihak keluarga sangat berharap ada mukjizat pasca insiden jatuhnya pesawat ATR 42-500.
"Kami yakin harapan itu masih ada," kata Yanti, mengutip Tribun Jambi.com Senin (19/1/2026).
Menurut Yanti Florencia diketahui telah memiliki rencana untuk menikah.
“Kami dengar sudah ada rencana menikah, tapi belum tahu kapan. Rencananya secepatnya,” ujar Yanti.
Calon pasangan Florencia atau Ollen, sapaan akrabnya, diketahui berprofesi sebagai seorang pilot di salah satu maskapai penerbangan.
Florencia Lolita Wibisono saat ini berusia 32 tahun.
Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara dalam keluarganya.
Florencia atau Ollen diketahui baru sekitar tiga bulan bertugas di pesawat ATR 42-500 milik Air Indonesia Transport.
Sebelum bergabung dengan Air Indonesia Transport, Florencia tercatat menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai pramugari di maskapai Lion Air.
“Kurang lebih 14 tahun dia di Lion Air,” ungkap Ramos.
Baca juga: Pupus, Ternyata Misteri Langkah Kaki Farhan Co Pilot Pesawat ATR 42-500 Rekaman Lama di Smartwatch
Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro mengatakan sedang menyiapkan proses penyerahan jenazah kepada keluarga korban.
Pihaknya masih menghubungi keluarga Florencia Lolita Wibisono.
Jenazah korban akan diserahkan Basarnas kepada Keluarga.
"Penyerahan korban leading sector dari Basarnas. Sudah disimpulkan korban teridentifikasi Florencia Lolita Wibisono," kata Kapolda Sulsel Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro dalam konferensi pers di Biddokes Polda Sulsel pada Rabu (21/1/2026) pukul 11.30 wita.
Jenazah wanita yang akrab disapa Ollend ini itemukan Tim SAR bernama Saipul Malik.
Jenazah ditemukan sekitar 100 meter dari titik jatuhnya pesawat di lereng curam pegunungan Bulusaraung, Senin (19/1/2026) sekitar pukul 14.00 Wita.
"Begitu Abang dan teman-teman Basarnas dan yang lainnya datang, kita dekati, fix perempuan dan masih ada ini name tag. Name tag perempuan," kata Saipul kepada wartawan, di posko Tompo Bulu, Senin (19/1/2026).
Saat ditemukan, kata Saipul, name tag korban masih tertempel di baju dan diduga bertuliskan nama Florencia.
"Ada, nametag-nya masih ada namanya. Saya tidak berani memastikan. Yang dari manifest yang di Manado, awak Manado itu kayaknya. Ester atau Florencia. Florencia kayaknya," ungkapnya.
Ia mengungkapkan bahwa korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.