TRIBUNPEKANBARU.COM - Tangis Hamizan Asshauqi sering terdengar lirih dari sebuah rumah sederhana di kampung Bukit Agung, Kecamatan Kerinci Kanan, kabupaten Siak. Ia seorang anak berusia satu tahun, namun tampak kelelahan ketika bernapas.
Dadanya naik-turun lebih cepat dibandingkan anak seusianya, tubuhnya pun tak sekuat bayi lain. Sejak lahir, Hamizan memang membawa takdir yang lebih berat, kelainan jantung bawaan.
Hamizan adalah buah hati pasangan suami istri Rio Rohman dan Rizky Widya.
Di rumah berdinding papan yang tak seberapa luas itu, orang tuanya menghabiskan hari-hari dengan rasa cemas bercampur harap.
Setiap nafas Hamizan seperti doa dan senyumnya menjadi penguat bagi kedua orang tuanya untuk terus bertahan.
“Kami mulai curiga saat Hamizan usia delapan bulan. Berat badannya sulit naik, dia cepat lelah, dan sering sesak,” kenang Rio Rohman, ayah Hamizan, Rabu (21/1/2026).
Kecurigaan itu membawa mereka berpindah dari satu fasilitas kesehatan ke fasilitas lain, hingga akhirnya diagnosis berat itu datang. Hamizan menderita dextrocardia situs inversus, kelainan jantung bawaan langka di mana posisi jantung dan organ tertentu terbalik, dengan serambi dan bilik kiri berada di sebelah kanan.
Rizky Widya, sang ibu, mengaku ada masa-masa ia hanya bisa menangis di sudut rumah. Tidak tahu apa yang mesti diperbuat untuk mengurangi derita sang buah hati.
“Tak pernah terbayang sebelumnya. Anak kami terlihat sehat saat lahir. Tapi ternyata di dalam tubuhnya ada kelainan besar,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Baca juga: Pesta Narkoba di Penginapan Pekanbaru Digerebek, Ada Selebgram Hingga Pengusaha
Baca juga: Kehidupan Pengungsi Rohingya di Pekanbaru, Jika Nasib Baik, Dapat Pekerjaan di Luar
Perjuangan keluarga kecil ini sangat tidak mudah. Untuk membawa Hamizan menjalani operasi pertama di Jakarta pada 13 November 2025, mereka harus mengandalkan uluran tangan banyak pihak.
Pemerintah kampung, masyarakat sekitar, hingga Baznas ikut membantu meringankan biaya pengobatan. Operasi itu mulai menunjukkan perkembangan positif.
Dukungan kembali datang dari Yayasan Jantung Indonesia (YJI). Sekretaris Jenderal YJI Pusat, Rezka Oktoberia, mengatakan pihaknya memberikan bantuan dana pendampingan sebesar Rp4 juta untuk mendukung biaya konsultasi, obat-obatan, dan nutrisi Hamizan.
“Alhamdulillah, setelah operasi ada kemajuan. Kami akan terus memonitor kondisi Hamizan dan memastikan anak-anak dengan kelainan jantung bawaan mendapatkan perhatian berkelanjutan,” kata Rezka.
Bagi Rio dan Widya, bantuan itu membuatnya semakin semangat. Ia merasa tidak banyak pihak yang memberikan perhatian.
“Terima kasih kepada semua pihak. Bantuan ini sangat berarti untuk pengobatan anak kami,” katanya.
Perhatian juga datang dari Pemerintah Kabupaten Siak. Wakil Bupati Siak Syamsurizal, didampingi istrinya Siti Sarifah, hadir langsung menemui keluarga Hamizan sebagai bentuk empati dan dukungan moral. Ia mengapresiasi peran Yayasan Jantung Indonesia serta kepedulian pemerintah kampung dan masyarakat.
“Terima kasih atas bantuan yang diberikan Yayasan Jantung Indonesia. Semoga berkah dan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pengobatan Hamizan,” ujar Syamsurizal.
Ia menegaskan, Pemkab Siak memiliki komitmen kuat di bidang kesehatan. Program BPJS Universal Health Coverage (UHC) telah tersedia untuk membantu masyarakat.
“Kami berharap fasilitas ini bisa dimanfaatkan untuk meringankan beban keluarga,” tambahnya.
Berdasarkan rekomendasi medis, Hamizan masih harus menjalani operasi lanjutan saat usianya sekitar empat tahun. Jalan pengobatan masih panjang.
Namun dalam kecemasan dan keterbatasan itu ada keyakinan kedua orangtua bahwa dengan dukungan bersama, keluarga, masyarakat, yayasan, dan pemerintah, Hamizan punya peluang untuk tumbuh dan menjalani masa depan yang lebih sehat.