TRIBUNBENGKULU.COM - Kakak dari Florencia, Tasya, menyampaikan ucapan terima kasih atas doa, dukungan, dan perhatian yang terus mengalir di tengah proses pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500.
Melalui pernyataannya, Tasya juga memberikan pembaruan terkait kondisi di lokasi evakuasi yang hingga kini masih terkendala cuaca buruk.
Ia menyebutkan bahwa hujan lebat menyebabkan proses evakuasi berjalan lambat, meski sejumlah jenazah telah ditemukan oleh tim di lapangan.
Berikut pernyataan lengkap Tasya yang disampaikan kepada publik:
“Halo semua saya Tasya saya kakak dari Florencia mengucapkan terima kasih buat doa buat support buat perhatian dari kerabat teman-teman juga keluarga semua yang sampai saat ini doa dan perhatian kalian jadi kekuatan yang tersendiri buat kami.
Dan hari ini aku mau update tentang keadaan di sini, di sini cuacanya masih enggak baik hujan lebat sehingga membuat proses evakuasi terlambat.
Ada dua jenazah yang sudah ditemukan dan saat ini masih berada di pos, tolong doakan terus supaya cuaca membaik dan jenazah yang telah ditemukan bisa segera diidentifikasi.
Dan kami berharap keluarga berharap mewakili semua keluarga yang ada mengucapkan sekali lagi terimakasih buat teman-teman semua buat setiap doa buat setiap perhatian buat setiap supportnya.
Buat kami mengucap syukur buat kalian semua dan apapun hasilnya nanti semua sudah menerima dan percaya bahwa semua ada rancangan Tuhan yang terbaik.
Sekali lagi terimakasih buat temen-temen buat kerabat dan keluarga yang sampai saat ini mendoakan kami. Tuhan Yesus berkati kalian semua sekali lagi terimakasih.” pungkas kakak Florencia dikutip TribunBengkulu dari Instagram @nastasyawibosono, Rabu (21/1/2026).
Pihak keluarga berharap doa dari masyarakat terus mengalir agar cuaca membaik dan proses evakuasi serta identifikasi korban dapat segera dilakukan.
Penemuan Jasad Florencia
Saipul Malik dari Tim Arai Sulses adalah sosok pertama yang menemukan jasad Florencia.
Saipul Malik menemukan tubuh korban ketika menyisir lereng gunung di bawah cuaca kabut tebal dan hujan.
Ia bertaruh nyawa lantaran jalur licin akibat hujan.
Sekitar pukul 14.00 WITA, Saipul Malik menemukan tanda-tanda tak biasa di posisinya.
Sekitar 100 meter dari titik kepala pesawat, Saipul melihat pohon-pohon yang patah dan batu-batu pecah, seperti habis kejatuhan sesuatu.
Punya feeling yang kuat, Saipul bergerak perlahan mendekat ke titik tersebut.
Ia memperlebar penyisirannya ke sisi kanan.
Firasatnya pun terjawab di jurang pegunungan Bulusarang.
"Saya identifikasi kemungkinan ada (mayat), saya agak nyisir ke lereng sebelah, ada di situ saya dapat (korban)," jelasnya.
Korban ditemukan dalam kondisi terbujur, tersangkat di sela pohon.
Saipul awalnya belum berani langsung mendekat.
Ia menanti terlebih dahulu personil SAR yang lain.
Saat didekati bersama yang lain, ia melihat dengan jelas nametag masih terpasang di pakaian korban.
"Begitu abang dan teman-teman Basarnas dan yang lainnya datang, kita dekati, fix perempuan dan masih ada nametag," jelas dia.
Saipul mengatakan kalau nametag itu masih jelas terlihat dan tidak tergores sehingga membuat namanya kabur.
"Ada, nametag-nya masih ada namanya," ucapnya.
Namun Saipul belum dapat memastikan identitas korban. Tulisan di nametag itu pun hanya ia baca sekilas.
"Seingat saya tertulis Florencia," kata Saipul lagi.
Ketika ditemukan, korban mengenakan seragam ATR 42-500 berwarna hitam, dipadu dengan celana jins dan sepatu kets hitam.
"Bajunya masih uniform ATR," tambahnya.
Berikut adalah daftar 10 korban kecelakaan pesawat Indonesia Air Transport:
Awak Pesawat:
1. Kapten Andy Dahananto (Pilot in Command)
2. Kopilot Farhan Gunawan (Second in Command)
3. Hariadi (Flight Operation Officer)
4. Restu Adi P (Engineer)
5. Dwi Murdiono (Engineer)
6. Florencia Lolita (Awak Kabin/Flight Attendant)
7. Esther Aprilita Sianipar (Awak Kabin/Flight Attendant)
Penumpang (3 orang):
1. Ferry Irawan (Pegawai KKP, Analis Kapal Pengawas)
2. Deden Mulyana (Pegawai KKP, Pengelola Barang Milik Negara)
3. Yoga Noval (Pegawai KKP, Operator Foto Udara).
Black Box Pesawat ATR 42-500 Ditemukan
Akhirnya black box pesawat ATR 42-500 berhasil ditemukan oleh Tim SAR.
Meski sudah ditemukan keberadaan balck box tersebut belum bisa diamankan, mengingat kondisi yang belum memungkinkan.
Black box terletak di bagian ekor pesawat ATR 42-500 PK-THT.
Sebagai informasi, black box (kotak hitam) menjadi benda yang paling dicari setelah terjadinya kecelakaan pesawat terbang.
Itu karena kotak hitam merupakan perangkat penyimpan data penerbangan yang nantinya bisa dijadikan petunjuk untuk mengungkap penyebab kecelakaan pesawat terbang.
Meski namanya black box tapi warnanya itu orange.
Diketahui bahwa black box berada di bagian ekor, namun akses menuju titik tersebut sangat terbatas dan berisiko tinggi.
Untuk menjangkau area tersebut, Tim SAR Gabungan harus menyiapkan strategi khusus.
Personel memerlukan tali sepanjang sekitar 100 meter dari Pos 8 untuk melakukan teknik grappling atau repling menuruni lereng curam menuju badan pesawat.
“Kita harus memerlukan dari Pos 8 tali sekitar 100 meter untuk bisa grappling ke area pesawat,” ujar Tim SAR, Rabu (21/1/2026).
Kondisi geografis menjadi tantangan utama. Selain kemiringan tebing yang ekstrem, permukaan lokasi didominasi bebatuan dan minim pijakan, sehingga setiap pergerakan harus dilakukan dengan perhitungan matang.
“Lokasi ekornya ada di bagian selatan,” ungkapnya.
Basarnas Makassar juga telah berkoordinasi dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk memastikan titik pasti keberadaan black box sebelum proses evakuasi dilakukan.
“Letak black box-nya sendiri kami sudah berkoordinasi dengan KNKT, letak dari black box itu dari bagian ekor,” jelasnya.
Sementara itu, Danrem 141/Toddopuli Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan memastikan tim khusus telah disiapkan untuk fokus menuju bagian ekor pesawat, meskipun perangkat perekam tersebut belum berhasil diangkat.
“Ada tim yang khusus untuk ke ekor,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pencarian di area tersebut membutuhkan teknik khusus karena posisi ekor berada di lereng yang sangat terjal.
“Dan itu posisinya juga harus menggunakan teknik repling. Ini di lereng juga,” jelasnya.
Pesawat ATR 42-500 PK-THT sendiri diketahui hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026).
Serpihan pesawat ditemukan beberapa jam kemudian di kawasan Gunung Bulusaraung, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, pada koordinat 04°55’48” Lintang Selatan – 119°44’52” Bujur Timur.
Pada hari keempat pencarian, lokasi black box akhirnya teridentifikasi.
Namun hingga kini, tim masih mempersiapkan peralatan tambahan dan skema penjangkauan paling aman agar proses evakuasi dapat dilakukan tanpa mengorbankan keselamatan personel.
Sebagai perangkat vital, black box berisi Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) yang merekam parameter penerbangan seperti kecepatan, ketinggian, hingga percakapan pilot.
Meski dikenal sebagai kotak hitam, perangkat ini justru berwarna oranye terang agar mudah ditemukan dan dirancang tahan benturan serta suhu ekstrem.
Temuan black box nantinya akan menjadi kunci utama untuk mengungkap rangkaian peristiwa sebelum pesawat mengalami kecelakaan, sekaligus menjadi bahan evaluasi penting bagi peningkatan keselamatan penerbangan ke depan.