Laporan Wartawan Serambi Indonesia Firdha| Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Rentetan bencana hidrometeorologi yang melanda 18 kabupaten/kota di Provinsi Aceh sepanjang tahun 2025 telah memberikan tekanan berat pada stabilitas ekonomi daerah.
Menanggapi hal tersebut, Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh tengah menyiapkan langkah strategis untuk mempercepat pemulihan ekonomi pada tahun 2026.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini dalam Bincang-Bincang Media di Banda Aceh, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, bencana alam yang merusak lahan pertanian dan memutus jalur distribusi menjadi faktor utama melambatnya pertumbuhan ekonomi Aceh.
Dalam sesi wawancaran, Kepala Perwakilan BI Aceh memaparkan kondisi tersebut secara mendalam.
"Akibat bencana hidrometeorologi pada 18 kabupaten/kota yang berdampak langsung pada masyarakat, lahan pertanian, jalur distribusi, dan fasilitas umum, kami memprakirakan ekonomi Aceh pada 2025 secara keseluruhan tumbuh pada kisaran 3,50–4,40 persen (yoy)," ungkapnya.
Baca juga: Warga Aceh Tak Lagi Khawatir: BI Aceh & Perbankan Pastikan Tarik Tunai & ATM Normal di Daerah Banjir
Angka ini tercatat berada di bawah pertumbuhan ekonomi Nasional yang mencapai 5,04 persen serta wilayah Sumatera sebesar 4,90 persen pada triwulan III 2025.
Dampak fisik yang sangat besar menjadi alasan utama, di mana tercatat 148.339 rumah rusak, 56.652 hektare sawah terdampak, serta 468 jembatan terputus yang memengaruhi kehidupan lebih dari 2,5 juta orang.
Sektor keuangan juga tidak luput dari dampak bencana.
Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) atau simpanan masyarakat mengalami kontraksi sebesar -1,51 % (yoy) pada triwulan IV 2025.
BI Aceh pun merespons hal ini dengan mendorong kebijakan afirmatif dari perbankan.
"Kami terus berkoordinasi dengan perbankan untuk memastikan ketersediaan uang Rupiah di lokasi bencana. Selain itu, kami juga mendorong perbankan untuk memberikan keringanan atau relaksasi pembayaran kepada seluruh masyarakat yang terdampak bencana," jelasnya menekankan perlindungan bagi nasabah.
Baca juga: Harga Cabai Naik, BI Aceh Punya Solusi: Bikin Cabai Kering Sendiri Lewat Rumah Produksi Capli!
Terputusnya akses logistik sempat memicu lonjakan harga komoditas hingga inflasi Aceh menyentuh angka 6,71 % (yoy) pada Desember 2025.
Untuk meredam lonjakan ini, BI melakukan intervensi distribusi pangan (FDP) secara masif.
"Saat ini harga telur sudah lebih stabil akibat penyaluran FDP, meskipun sebelumnya sempat ditekan oleh kekurangan pasokan akibat jalur logistik yang terputus," tambahnya.
Tercatat, BI telah menyalurkan total 36 ton telur dan 40 ton minyak goreng melalui FDP selama Desember 2025 untuk menjaga keterjangkauan harga.
Memasuki tahun 2026, BI Aceh optimis ekonomi akan berangsur pulih ke level 3,60 % –4,50 % (yoy).
Strategi utama yang akan dijalankan adalah memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah.
"Untuk tahun 2026, fokus kami adalah mengakselerasi proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Kami juga akan memberikan capacity building bagi para petani agar produktivitas di daerah terdampak bisa kembali meningkat," pungkasnya.
(Serambinews.com/Firdha)