Merawat Budaya Lewat Lukah, Upaya Membangun Kemandirian Ekonomi Suku Anak Dalam Jambi
January 21, 2026 06:04 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM -Upaya menjaga warisan budaya sekaligus membangun kemandirian ekonomi dilakukan warga Suku Anak Dalam (SAD) rombong Lintas melalui pembuatan lukah, perangkap ikan tradisional, dengan pendampingan Pundi Sumatra dan dukungan program IFAD (International Fund for Agricultural Development) di wilayah pemukiman SAD, Provinsi Jambi.

Kerajinan lukah merupakan seni kriya tradisional berupa alat perangkap ikan berbentuk silinder memanjang yang umumnya terbuat dari anyaman bilah bambu atau rotan yang diikat kuat menggunakan tali hutan.

Karya tangan ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan, di mana struktur lukah dirancang secara cerdas dengan prinsip pintu satu arah sehingga ikan yang sudah masuk ke dalam perangkap tidak dapat meloloskan diri kembali.

Selain berfungsi sebagai alat bantu ekonomi untuk mencari nafkah di sungai atau rawa, pembuatan lukah juga menjadi warisan budaya turun-temurun yang menunjukkan kemahiran teknis dalam teknik menganyam serta pemahaman mendalam terhadap perilaku fauna di ekosistem perairan.

Di teras rumah semi permanen bantuan Dinas Sosial dan Kementerian Sosial, Tumino, salah seorang warga SAD, duduk bersila merajut bilah-bilah bambu hutan yang telah diraut halus.

 Jemarinya yang kasar dan legam perlahan menyusun anyaman lukah, menghasilkan bunyi gesekan rotan yang pelan dan teratur.

Pemukiman tersebut kini menjadi tempat tinggal tetap bagi sekitar 65 warga SAD rombong Lintas.

Program hunian menetap ini dirancang untuk memberi stabilitas bagi komunitas yang sebelumnya hidup dengan budaya melangun atau berpindah-pindah, sekaligus menjadi pintu masuk menuju kemandirian ekonomi di tengah hutan yang kian menyempit.

Pundi Sumatra hadir mendampingi proses transisi tersebut dengan mendorong penguatan ekonomi alternatif berbasis keahlian tradisional.

Salah satunya adalah produksi lukah yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas Orang Rimba.

Proses pembuatan lukah dilakukan secara telaten, mulai dari pemilihan rotan dan bambu yang cukup umur, perautan hingga pembentukan mulut lukah yang mengerucut ke dalam.

Sebagai tahap akhir, lukah dilapisi cairan furnish agar lebih awet dan tahan terhadap rayap serta jamur.

Dalam proses pemasaran, Tumino sempat mengalami kesulitan menetapkan harga karena terbiasa dengan sistem berbagi dan barter.

Melalui pendampingan fasilitator, dilakukan perhitungan biaya produksi hingga akhirnya disepakati harga Rp150 ribu per unit lukah.

Geliat ekonomi serupa juga tumbuh di komunitas SAD lain, seperti Pematang Kejumat yang mengolah biji sawit menjadi cincin, serta Pulau Lintang yang memproduksi cawan dari bambu hutan.

CEO Pundi Sumatra, Sutono, mengatakan setiap karya warga SAD merupakan pesan tentang perjuangan komunitas adat mempertahankan penghidupan yang layak di tengah tekanan terhadap hutan.

Ia menegaskan pendampingan dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari pemetaan potensi pasar, peningkatan kualitas produk, hingga menjaga keberlanjutan bahan baku.

Baca juga: Kejati Jambi Hentikan Proses Hukum Guru Tri Wulansari di Muaro Jambi


 
 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.