Rupiah Lampaui Rp 17 Ribu Per Dolar AS, Pengusaha Kedelai dan Travel di Kalsel Waswas
January 22, 2026 06:52 AM

 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU- Pelaku usaha kacang kedelai, tahu dan tempe tengah khawatir seiring makin lemahnya nilai tukar rupiah. 

Berdasarkan kurs transaksi Bank Indonesia (BI) per Rabu (21/1), untuk mendapatkan 1 dolar Amerika Serikat, masyarakat perlu mengeluarkan uang Rp 17.065,9.

Kekhawatiran itu muncul karena kacang kedelai di negeri ini didapat dari impor hingga sangat dipengaruhi nilai tukar rupiah.

Pedagang kacang kedelai di Pasar Landasanulin, Banjarbaru, H Ahmad Busiri, sangat berharap tidak terjadi kenaikan harga kedelai. Terlebih hal tersebut mempengaruhi usaha kecil seperti dirinya.

Baca juga: Tren Pelemahan Rupiah di Tengah Penguatan Harga Saham

Sementara ini, menurut Busiri, harga kedelai impor masih Rp 16 ribu per kilogram.

"Kalau di tempat saya, orang beli hanya di kisaran 2-3 kilogram. Mungkin untuk jualan pedagang kecil saja," ujarnya.

Pedagang sayur, tempe dan tahu di Pasar Ulin Toko TA3, yang biasa disapa Bu Pete, juga berharap harga kedelai tidak naik.

 "Kasihan orang kecil kalau harga kebutuhan terus naik. Apalagi tempe tahu banyak disukai," ujarnya.

Pemerintah diharapkan bisa menekan harga walaupun barang impor seperti kedelai.

"Kalau produksi kacang kedelai lokal sama bagus dengan luar negeri, bisa saja harga stabil," tandasnya.

Dina, penjual tahu di Landasanulin, Banjarbaru, mengatakan harga dagangannya tersebut masih stabil. Untuk tahu pong yang diproduksinya tidak sampai Rp 500 per biji.

“Tahu pong Rp 15 ribu dapat 40 biji,” tambahnya.

Direktur Utama Ramasindo Tour, Boy Rahmadi Nafarin, pun waswas. Dia menyatakan melemahnya rupiah pasti berpengaruh terhadap usaha perjalanan.

"Ya, jelas ada pengaruh harga khususnya kita yang menggunakan rupiah," tukasnya.

Menyiasati kondisi ini, kata Boy, pelaku usaha travel harus mencari solusi agar terus eksis dalam menjual paket wisata.

"Wait and see. Juga menawarkan paket-paket unik dan menarik," ujarnya.

Boy pun meminta pemerintah sigap dalam menahan pelemahan rupiah karena pasti akan berimbas kepada seluruh industri.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Kalimantan Selatan Hj Shinta Laksmi Dewi SE mengatakan pelemahan rupiah dalam minggu ini akan berpengaruh terhadap ekspor dan impor.

Daya saing produk dan jasa dalam negeri akan meningkat karena ditawarkan dengan nilai rupiah.

"Tapi yang mendapat tantangan adalah seluruh kegiatan yg memakai produk impor. Sebagai contoh komponen suku cadang, mobil, sepeda motor, mesin peralatan, serta kebutuhan pangan domestik yang bersumber  dari luar negeri," papar Shinta.

Produk pangan dari impor seperti kedelai dan daging sapi kemungkinan terganggu stabilitas harganya.  Di sisi lain masyarakat akan mencari bahan substitusi untuk memenuhi kebutuhannya yang tidak mengganggu cashflow.

"Kadin berharap pelemahan ini hanya efek sementara dari berkurangnya investasi luar yang masuk ke Indonesia, dan masih wait and see-nya ketetapan issue gubernur Bank Indonesia," ujarnya.

Baca juga: Kisah Penjual Pakaian Bekas di Banjarmasin, Berusaha Sejak 1995 Sering Dapat Dolar di Kantong Jaket

Pemerintah diharapkan bisa mengeluarkan kebijaksan yang mengacu pada penggunaan produk-produk lokal di berbagai sektor, mengurangi ketergantungan impor, mendorong pertumbuhan industri dalam negeri, membuat terobosan industri berbasis nasionalisme dengan meningkatkan TKDN dalam proyek-proyek nasional atau produk-produk industri dalam negeri.

"Penting juga promosi cinta produk dalam negeri, promosi wisata dalam negeri,  sehingga akan meningkatkan geliat ekonomi domestik," pungkasnya. (dea/riz)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.