TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Masing-masing negara memiliki nilai tukar mata uang berbeda.
Ada negara memiliki nilai tukar mata uang tinggi.
Namun, ada pula negara dengan nilai tukar mata uang rendah.
Untuk diketahui, nilai tukar mata uang paling sering dibandingkan dengan Dollar Amerika Serika.
Baca juga: Update Harga Emas Batangan Antam Rabu 22 Januari 2026, Turun Tipis
USD merupakan mata uang cadangan dunia (global reserve currency)
Paling banyak digunakan dalam perdagangan internasional
Menjadi acuan transaksi komoditas dunia (minyak, emas, dll).
Dalam pasar valuta asing (forex), nilai tukar juga bisa berpatokan pada mata uang lain, tergantung pasangan mata uang (currency pair) yang digunakan.
Untuk kepentingan tertentu, nilai mata uang bisa dinilai berdasarkan sekumpulan mata uang (bukan satu mata uang saja).
Setiap negara tentu menginginkan mata uang yang kuat dan stabil.
Kenyataannya terdapat sejumlah negara yang justru memiliki nilai mata uang sangat rendah.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti inflasi tinggi, perlambatan ekonomi, krisis politik, hingga beban utang negara.
Kombes.com melansir dari Majalah Bisnis Forbes, tercatat 10 negara dengan nilai tukar mata uang tendah.
Dari 10 negara tersebut, termasuk Indonesia.
1. Rial Iran (IRR)
Iran menempati peringkat pertama sebagai negara dengan nilai mata uang terendah di dunia.
Nilai tukar 1 Rial Iran setara dengan 0,000024 dollar AS.
Pelemahan ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya sanksi ekonomi dari Amerika Serikat yang berdampak besar pada perekonomian Iran.
2. Dong Vietnam (VND)
Dong Vietnam berada di posisi kedua dengan nilai tukar 1 dong setara 0,000042 dollar AS.
Kondisi ini dipicu oleh melemahnya sektor properti, pembatasan investasi asing, serta penurunan ekspor yang terjadi bersamaan dengan kenaikan suku bunga di AS.
3. Kip Laos (LAK)
Di peringkat ketiga terdapat Kip Laos, dengan nilai tukar 1 Kip sebesar 0,000052 dollar AS.
Pelemahan mata uang ini disebabkan oleh lambatnya pertumbuhan ekonomi, inflasi tinggi, serta meningkatnya utang luar negeri.
4. Leone Sierra Leone (SLL)
Leone Sierra Leone menempati posisi keempat dengan nilai 1 Leone setara 0,000057 dollar AS.
Tingginya inflasi serta beban utang negara memberi tekanan besar pada perekonomian, meski negara ini memiliki sumber daya alam seperti kayu, emas, dan berlian.
5. Rupiah Indonesia (IDR)
Rupiah Indonesia berada di peringkat kelima.
Nilai tukar 1 Rupiah setara 0,000065 dollar AS, atau sekitar 1 dollar AS sama dengan 15.298 Rupiah.
Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh turunnya harga komoditas ekspor serta berkurangnya cadangan devisa.
6. Pound Lebanon (LBP)
Pound Lebanon menempati posisi keenam dengan nilai 1 Pound setara 0,000067 dollar AS.
Faktor penyebabnya antara lain tingginya tingkat pengangguran, instabilitas politik, inflasi ekstrem, serta krisis perbankan yang berkepanjangan.
7. Som Uzbekistan (UZS)
Som Uzbekistan berada di urutan ketujuh dengan nilai tukar 1 Som setara 0,000087 dollar AS.
Lambatnya pertumbuhan ekonomi, meningkatnya pengangguran, korupsi, dan kemiskinan menjadi faktor utama pelemahan mata uang ini.
8. Franc Guinea (GNF)
Franc Guinea menempati posisi kedelapan dengan nilai 1 Franc setara 0,000116 dollar AS.
Meski kaya akan sumber daya alam, tingginya inflasi terus menekan nilai mata uang Guinea.
9. Guarani Paraguay (PYG)
Di posisi kesembilan terdapat Guarani Paraguay dengan nilai tukar 1 Guarani sebesar 0,000138 dollar AS.
Inflasi tinggi serta maraknya kasus penyelundupan narkoba dan pencucian uang menjadi faktor pelemahan mata uang ini.
10. Shilling Uganda (UGX)
Shilling Uganda menutup daftar sepuluh besar mata uang terendah di dunia dengan nilai 1 Shilling setara 0,000273 dollar AS.
Meski memiliki kekayaan alam seperti emas, minyak, dan kopi, ketidakstabilan politik serta utang negara yang tinggi menghambat pertumbuhan ekonomi Uganda.(*)