Sosok Hans Cristoffel, Tentara Bayaran Belanda dalam Perang Aceh
SERAMBINEWS.COM- Sejarah peperangan dunia tidak pernah sepenuhnya lepas dari kehadiran tentara bayaran.
Dari pasir Mesir Kuno hingga hutan Aceh, dari imperium kolonial hingga konflik Rusia-Ukraina, figur prajurit yang bertempur demi kontrak bukan tanah air terus muncul dalam berbagai wajah.
Salah satu sosok yang merepresentasikan fenomena itu adalah Hans Christoffel, perwira bayaran Belanda dalam Perang Aceh.
Baca juga: Aceh, Rusia, dan Tentara Bayaran: Muhammad Rio vs Hans Christoffel
Hans Christoffel lahir di Rothenbrunnen, Swiss, pada 13 September 1865.
Ia merupakan putra Johann Christoffel dan Kathrina Battaglia, berasal dari wilayah pegunungan yang pada akhir abad ke-19 mengalami kemunduran ekonomi serius.
Tekanan ekonomi inilah yang mendorong gelombang migrasi keluar, termasuk Christoffel, yang kemudian memilih jalur militer sebagai jalan hidup.
Pada Februari 1885, Christoffel mendatangi Kedutaan Besar Belanda di Hamburg dan mendaftarkan diri sebagai prajurit berpangkat private di Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL).
Kesatuan ini secara formal disebut sebagai tentara kerajaan Hindia Belanda, tetapi pada praktiknya berfungsi sebagai legiun asing kolonial.
Baca juga: Status WNI Bripda Rio Anggota Brimob Polda Aceh di Ujung Tanduk Usai Gabung Tentara Bayaran Rusia
Mayoritas prajuritnya bukan orang Belanda, melainkan rekrutan dari berbagai koloni yang ditempatkan lintas wilayah untuk menundukkan perlawanan lokal.
Ia bergabung dengan tentara kolonial Belanda (KNIL) pada 1886 dan dikenal sebagai perwira kontra-gerilya yang efektif di Aceh.
Christoffel memimpin operasi militer di wilayah hutan dan pegunungan, memburu tokoh-tokoh perlawanan rakyat Aceh dengan strategi represif yang keras.
Dalam arsip kolonial, Christoffel dipuji sebagai prajurit profesional dan disiplin.
Namun dari perspektif Aceh, ia adalah simbol tentara bayaran kolonial.
Ia bukan orang Belanda, apalagi bagian dari masyarakat Aceh.
Sebulan setelah diterima, Christoffel berlayar dari Rotterdam menuju Batavia, sebelum akhirnya ditugaskan di Surabaya.
Baca juga: 3 WNI Ramai Dikabarkan Jadi Tentara Asing, Ada yang Gabung Militer AS hingga Tentara Bayaran Rusia
Pada saat itulah Perang Aceh memasuki fase krusial.
Upaya militer Belanda selama bertahun-tahun mengalami kebuntuan akibat taktik gerilya Aceh yang memanfaatkan medan hutan dan pegunungan.
Sesuatu yang sulit dihadapi pasukan kolonial dengan doktrin perang Eropa yang kaku.
Kondisi ini mendorong Christoffel secara sukarela mengajukan diri ke garis depan.
Karier militernya menanjak cepat.
Ia terlibat dalam apa yang disebut Belanda sebagai “perang pasifikasi” keempat.
Dari kopral, sersan mayor, perwira surat (warrant officer), hingga akhirnya menjadi Second Lieutenant di bawah komando Jenderal Van Heutsz.
Christoffel dipercaya menangani misi-misi paling sulit yang selama lebih dari satu dekade mengganggu pemerintahan kolonial.
Titik balik reputasinya terjadi pada 1902, ketika ia bergabung dengan unit elit Maréchaussée pasukan khusus berseragam khas, dilengkapi senjata modern Eropa sekaligus senjata lokal.
Di bawah komandonya, unit ini dikenal sangat efektif sekaligus brutal.
Operasi-operasi di wilayah Alas dan Gayo dilakukan secara sistematis, menyasar kampung-kampung pertahanan rakyat yang hanya bersenjatakan busur, tombak, pedang pendek, dan senapan lontak.
Kesaksian para perwira Belanda sendiri mencatat kekerasan ekstrem.
Komandannya, Van Daalen, bahkan menyebut Christoffel “terus menembak meski perintah berhenti telah diberikan”.
Reputasinya menjelma menjadi legenda sekaligus teror.
Ia dijuluki The Flying Swiss, Tiger dari Barito, dan Captain Ketjhil pahlawan bagi kolonialisme, tetapi mimpi buruk bagi wilayah yang ditaklukkannya.
Pada 1903, Christoffel dipromosikan menjadi Lieutenant, menjadikannya orang non-Belanda pertama yang mencapai pangkat tersebut.
Namanya semakin melambung setelah keterlibatannya dalam operasi penangkapan Patuan Bosar Ompu Pulo Batu, Si Singamangaraja XII.
Pada 17 Juni 1907, dalam pengejaran panjang di pegunungan Batak, Si Singamangaraja XII tewas bersama dua putranya dan seorang putrinya.
Jenazahnya dipamerkan di pasar Balige sebuah tindakan simbolik yang mengguncang masyarakat Toba.
Bagi Belanda, Christoffel adalah pahlawan kolonial.
Ia menerima medali tertinggi dan Sabre of Honour pada 1908, menjadikannya perwira paling berprestasi di masanya.
Namun bagi Aceh dan wilayah-wilayah lain yang ditaklukkan, Christoffel adalah personifikasi tentara bayaran kolonial: seorang asing yang loyalitasnya dibeli, yang menjalankan kekerasan atas nama imperium, bukan tanah air.
Ironisnya, setelah pensiun dini pada 1910, Christoffel justru menarik tirai atas masa lalunya.
Ia membakar catatan, foto, dan laporan militernya, terinspirasi oleh filsafat non-kekerasan Mahatma Gandhi.
Ia menyebut karier militernya sekadar “tugas yang harus dilakukan”.
Namun jejak kekerasan itu tetap hidup.
Tersimpan dalam 1.153 artefak perang Aceh yang kini berada di Museum Aan de Stroom, Antwerp, termasuk lima bendera perang yang diyakininya “berdarah”.
Christoffel mungkin mengakhiri hidupnya sebagai filsuf dan petani.
Tetapi sejarah mengingatnya sebagai wajah tentara bayaran kolonial yang paling kejam dalam Perang Aceh.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana kolonialisme memanfaatkan profesionalisme militer tanpa keterikatan moral terhadap wilayah yang ditaklukkan.
Baca juga: Sosok Bripda Muhammad Rio, Dipecat Usai Bergabung dengan Tentara Bayaran Rusia, Pernah Selingkuh
Praktik tentara bayaran bukan produk modern.
Sejak era Firaun Mesir Kuno, penguasa telah merekrut prajurit asing dari Nubia dan Libya untuk memperkuat pasukan kerajaan.
Mereka digunakan dalam ekspedisi militer jarak jauh, dengan loyalitas yang dijaga melalui upah, jarahan, dan status sosial.
Menurut Prof Humam, dalam sejarah peperangan, tentara bayaran selalu menjadi “pedang bermata dua”: efektif secara militer, tetapi rapuh secara politik.
Profesionalisme dapat dibeli, namun kesetiaan yang berbasis kontrak selalu berisiko berpindah ketika tawaran yang lebih besar datang.
Pola serupa terlihat dalam Kekaisaran Persia hingga Eropa abad pertengahan dan era kolonial.
Tentara bayaran memberi kekuatan instan, tetapi sekaligus membuka celah pengkhianatan dan instabilitas.
Sejarah mencatat bahwa negara yang menggantungkan pertahanannya pada loyalitas berbayar, kerap menanggung konsekuensi jangka panjang.
Loyalitasnya tidak lahir dari ikatan tanah air atau keyakinan ideologis, melainkan dijaga oleh gaji, pangkat, dan kepentingan imperium.
Christoffel mencerminkan pola klasik tentara bayaran: prajurit asing yang menjadi alat penaklukan.
Baca juga: Anggota Brimob Polda Aceh Jadi Tentara Bayaran Rusia
Lebih dari satu abad setelah Perang Aceh, fenomena tentara bayaran kembali mencuat melalui kasus Muhammad Rio, anggota Brimob Polda Aceh yang bergabung dengan Wagner Group dalam konflik Rusia-Ukraina.
Kasus ini memicu sorotan publik karena melibatkan aparat negara yang berpindah ke pasukan bersenjata asing.
Berbeda dengan Christoffel yang hidup di era kolonial, Rio berada dalam konteks negara-bangsa modern, di mana loyalitas, kewarganegaraan, dan hukum memiliki batas yang tegas.
Keputusannya berujung pada pemecatan dan pencabutan status kewarganegaraan Indonesia.
Kasus ini menunjukkan transformasi tentara bayaran di era globalisasi.
Jika dulu mercenary menjadi alat resmi imperium, kini ia bergerak di wilayah abu-abu antara negara, bisnis, dan perang.
Bagi Aceh, wilayah yang secara historis tidak pernah memiliki tradisi menjadi tentara bayaran, fenomena ini menjadi ironi.
Baca juga: Polda Aceh belum Tahu Motif Bripda Muhammad Rio Jadi Tentara Bayaran Rusia
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)