Istanbul (ANTARA) - Penyeberangan perbatasan Rafah antara Jalur Gaza dan Mesir akan kembali dibuka pekan depan untuk perjalanan dua arah, kata Ketua Komite Transisi baru Gaza, Kamis (22/1).
“Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa penyeberangan Rafah akan dibuka pekan depan untuk dua arah bagi warga Palestina di Gaza,” ujar Ali Shaath dalam acara penandatanganan piagam Dewan Perdamaian.
Shaath, yang secara resmi memimpin Komite Nasional untuk Administrasi Gaza, menyebut Rafah sebagai jalur kehidupan dan simbol harapan.
Ia menambahkan bahwa pembukaan kembali penyeberangan tersebut menandai bahwa Jalur Gaza tidak lagi tertutup dari masa depan.
Sementara itu, Gedung Putih, Jumat pekan lalu, mengumumkan susunan anggota komite teknokratik baru yang akan mengawasi proses transisi kekuasaan di Jalur Gaza.
Pembentukan komite ini merupakan bagian dari rencana 20 poin Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang genosida Israel di wilayah tersebut.
Ali Shaath diketahui merupakan mantan wakil menteri Palestina pada Otoritas Palestina.
Shaath adalah teknokrat Palestina dengan pengalaman luas di bidang infrastruktur, perencanaan, dan administrasi publik yang ditunjuk untuk memimpin komite beranggotakan 15 orang yang akan menjalankan pemerintahan Jalur Gaza pascaperang brutal Israel yang menghancurkan wilayah tersebut.
Ali Shaath ditetapkan pekan lalu sebagai ketua Komite Nasional untuk Administrasi Gaza, salah satu dari empat badan yang dibentuk untuk mengelola fase transisi di wilayah itu.
Pembentukan komite tersebut merupakan bagian dari rencana gencatan senjata 20 poin Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menghentikan perang Israel, yang sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 71.000 orang dan melukai lebih dari 171.000 lainnya.
Shaath, yang pernah menjabat sebagai sekretaris jenderal pada Otoritas Palestina, dikenal luas sebagai figur nonpartisan. Kariernya lebih banyak dibentuk oleh keahlian teknis dibandingkan afiliasi politik.
Penunjukan Shaath mencerminkan upaya menempatkan administrasi Gaza pascaperang di bawah kepemimpinan profesional dan teknokratik, seiring rusaknya infrastruktur dan sistem perkotaan secara luas akibat konflik.
Ali Shaath lahir pada 1958 di Khan Younis, Gaza selatan. Ia menempuh pendidikan tinggi di luar negeri dengan meraih gelar sarjana teknik sipil dari Universitas Ain Shams di Kairo, Mesir, pada 1982, sebelum melanjutkan dan memperoleh gelar magister di bidang yang sama pada 1986.
Pada 1989, Shaath menyelesaikan pendidikan doktoral di bidang teknik sipil di Queen’s University, Inggris, dengan spesialisasi perencanaan infrastruktur dan pengembangan perkotaan.
Sumber: Anadolu







