TRIBUN-MEDAN.com - Setelah setelah dilantik menjadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (TA DPN) pada hari Kamis, (15/1/2026), di Jakarta, Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang lebih dikenal sebagai Noe Letto buka suara.
Dilakukan oleh Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Harian Dewan Pertahanan Nasional, Sjafrie Sjamsoeddin, pelantikan Noe sebagai Tenaga Ahli DPN.
Ada 11 orang lain yang turut dilantik selain Noe.
“Para tenaga ahli ini akan mengisi posisi krusial sebagai Tenaga Ahli Utama, Madya, dan Muda pada kedeputian bidang geoekonomi, geopolitik, serta geostrategi,” ujar Karo Infohan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, Jumat, (16/1/2026).
Putra budayawan Emha Ainun Nadjib itu kemudian mengomentari kritik-kritik yang diarahkan kepadanya setelah dia dilantik.
Noe mengaku ada banyak yang marah dan kecewa setelah di dilantik menjadi TA DPN. Ada yang menuding Noe sudah jatuh dalam kekuasaan. Meski demikian, ada pula yang mendukung Noe.
Dia mengaku sudah mengetahui sumber-sumber keresahan orang dan sudah memperkirakan bakal ada polemik. Lalu, dia menjelaskan tugasnya sebagai TA DPN.
“Tenaga ahli itu memberi masukan kepada pemerintah, mungkin bisa diteruskan ke presiden, terhadap situasi, risiko, dan rekomendasi," kata dia di kanal YouTube miliknya, Rabu, (21/1/2026).
“Posisi saya sebagai TA tidak mengubah apa pun sama sekali, Maiyahan. Saya tetap Maiyahan posisinya karena itu primer. Itu nomor satu,” katanya.
Adapun Maiyahan berasal dari kata Maiyah, yaitu semacam pengajian atau forum yang diinisiasi oleh ayah Noe, Cak Nun.
“Masalah utamanya adalah bagaimana koneksi antara apa yang kita obrolkan ke Maiyah untuk sampai ke yang bisa mendengarkan dengan jernih,” ujarnya.
Dia membantah bahwa nantinya dia akan berada di bawah perintah para pejabat tinggi.
“Kalau ada yang khawatir apa saya di bawah [Menteri ESDM] Bahlil, di bawah [Wakil Presiden] Gibran, ya enggak mungkin. Enggak ada urusan.”
“Kalau berada di bawah Bahlil, di bawah siapa segala macam. No, no, no. Kita enggak di bawah siapa-siapa” katanya menegaskan.
Ketika ada yang menudingnya sudah masuk ke sistem kekuasaan, Noe mengklaim dia sebenarnya masih di luar sistem pemerintahan.
Dia membagi sistem menjadi tiga, yakni bangsa, negara, dan pemerintah. Menurut dia, bangsa Indonesia umurnya sudah ratusan tahun menghasilkan banyak entitas seperti negara. Kemudian, di dalam negara terdapat pemerintah.
“Kalau kita ngomong pemerintahnya, di situlah terjadi bargain politics,” katanya.
“Negara itu concern-nya beda. Negara inginnya Indonesia berjalan terus sehingga dia harus punya sistem feedback agar pemerintah bisa memperbaiki.”
Noe mengaku sudah lama memberikan berbagai feedback atau masukan melalui forum Maiyah. Masukan itu berasal dari sudut pandang negara dan rakyat.
“Jadi, posisinya Maiyah itu, yang kita lakukan selama ini, adalah mencoba di luar sistem pemerintahan, tapi masih di dalam negara karena kita masih ngomong cinta Indonesia," ucapnya.
“Jadi kalau ada yang khawatir bahwa saya bisa ditekan oleh politik, saya bisa ditekan oleh jabatan, yang kita lakukan sama kok, bedanya cuma ini ada sebuah kebutuhan tertentu," kata dia.
Seperti diketahui, DPN adalah lembaga nonstruktural yang dipimpin langsung Presiden RI dan dibentuk melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 202 Tahun 2024. DPN memberikan pertimbangan dan merumuskan kebijakan strategis pertahanan negara.
Tugas utama lembaga ini meliputi penyusunan kebijakan terpadu pertahanan, pengerahan komponen pertahanan dalam mobilisasi dan demobilisasi, penilaian risiko kebijakan, serta integrasi pemeliharaan alutsista agar berkelanjutan.
Profil Noe Letto
Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto lahir di Yogyakarta pada tanggal 10 Juni 1979 sebagai putra Cak Nun dan Neneng Suryaningsih.
Dia juga menjadi anak sambung aktris sekaligus penyanyi senior Novia Kolopaking yang merawatnya sejak kecil dan menjalin hubungan dekat hingga dewasa.
Masa kecil Noe sempat dihabiskan di Lampung sebelum kembali ke Yogyakarta. Sejak duduk di bangku SMP, dia mulai bersentuhan dengan musik melalui kaset Queen yang diberikan pamannya.
Setelah menamatkan SMA di Yogyakarta, Noe melanjutkan studi ke Universitas Alberta di Kanada, sebuah perguruan tinggi bergengsi yang masuk jajaran elite top 5 nasional dan peringkat 100–150 global.
Reputasi kampus tersebut sangat kuat, terutama di bidang riset dan inovasi, sehingga menjadi tempat yang menantang sekaligus prestisius bagi Noe untuk menempuh dua jurusan sekaligus: matematika dan fisika.
Krisis moneter membuatnya harus bekerja paruh waktu untuk bertahan hidup, tetapi ia berhasil menyelesaikan studi dengan gemilang.
Pada tahun 2003 Noe resmi meraih gelar Bachelor of Science di kedua bidang tersebut.
Noe menikah dengan Fauzia Fajar Putri Khaeruddin (Uci) pada 19 Februari 2009 di Kendari, Sulawesi Tenggara. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua anak, dan hubungan keluarga mereka berjalan harmonis hingga kini.
Sepulang dari Kanada, Noe aktif di studio KiaiKanjeng, belajar mixing, mastering, dan menulis musik.
Pada tahun 2005, bersama Ari, Dedy, dan Patub, ia membentuk band Letto dan merilis album debut Truth, Cry, and Lie yang meraih double platinum—penghargaan industri musik atas penjualan album dalam jumlah besar.
Dua tahun kemudian, pada 2007, Letto kembali mengukuhkan posisinya lewat album Don’t Make Me Sad.
Pada medio 2000-an Noe dikenal luas sebagai vokalis Letto dengan lagu-lagu hits seperti “Ruang Rindu”, “Sebelum Cahaya”, dan “Sandaran Hati”. Lagu-lagu tersebut melekat dalam ingatan publik dan menjadikan Letto salah satu band berpengaruh pada masanya.
Memasuki 2008, Noe mendirikan Pic[k]Lock Productions bersama Dewi Umaya Rachman. Dari rumah produksi ini lahir sejumlah film, antara lain Minggu Pagi di Victoria Park (2010), RAYYA, Cahaya di Atas Cahaya (2011), dan Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015).
(*/ Tribun-medan.com)