TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Sebaran virus Lumpy Skin Disease (LSD) di Jembrana meluas.
Sebanyak 22 ekor ternak sapi suspek (dicurigai) terjangkit tersebar di Kecamatan Jembrana dan Mendoyo.
Hal tersebut disampaikan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Jembrana.
Sebelumnya sebaran virus hanya ditemukan di wilayah Kecamatan Melaya dan Negara.“Untuk laporannya ada penambahan 22 ekor suspek LSD. Ini baru suspek, belum positif,” ungkap Kabid Peternakan, Keswan-Kesmavet Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta saat dikonfirmasi, Kamis (22/1).
Baca juga: PASCA Temuan 2 Sapi Diduga Terjangkit LSD, 25 Sapi di Gerokgak Buleleng Diambil Sampelnya!
Dia melanjutkan, dengan adanya tambahan ternak dengan status suspek atau dicurigai di Kecamatan Jembrana dan Mendoyo, kemungkinan kasusnya bakal meluas.
Sebab, sebelumnya sudah dinyatakan ada 28 ekor ternak warga yang terjangkit karena tiga sampel yang hasilnya positif LSD sesuai hasil uji laboratorium di Balai Besar Veteriner (BBVet) di Denpasar.
“Nah untuk ternak warga yang menunjukkan gejala (suspek) baru, tim Medikvet kami di kecamatan rencananya mengambil sampel hari ini (kemarin) untuk memastikan apakah yang suspek tersebut terjangkit atau tidak,” jelasnya.
Baca juga: 160 Ekor Sapi di Jembrana Divaksin LSD, Sasaran Utama Wilayah Zona Tertular
Sugiarta menegaskan, belakangan ini edukasi terhadap peternak harus sangat gencar dilakukan. Sebab informasi yang gampang diakses terutama di media sosial juga memberikan efek samping bagi peternak.
Terutama ketika ternaknya menunjukkan gejala benjolan padahal belum tentu LSD, peternak justru khawatir dan jadi beban pikiran.
“Sehingga saat ini kami meminta seluruh peternak untuk tetap tenang. Ketika misalnya ternak sapi atau kerbaunya menunjukkan gejala, tolong segera hubungi petugas kami untuk ditindaklanjuti guna memastikan itu mengarah ke LSD atau tidak,” tegasnya.
“Karena kemarin kami juga sempat menerima laporan sapi ada benjolan, ternyata setelah dicek tidak mengarah ke LSD. Artinya tidak ada gejala klinis yang mengarah ke penyakit tersebut. Sehingga kami pastikan ke pemiliknya bahwa ternaknya aman,” jelasnya lagi.
Ditegaskan kembali, gejala klinis dari penyakit LSD ini adalah kulit ternak berbenjol yang kemudian sekitar 7-10 hari benjolan tersebut meletus atau pecah dan kemudian keropeng.
Sehingga, seluruh peternak diharapkan untuk tetap tenang namun waspada.
Jika ditemukan ternak dengan gejala benjolan pada kulit, segera lapor untuk dipastikan.
Hal ini sangat penting dilakukan agar suspek tidak berkembang jadi wabah yang luas dan bakal berdampak pada ekonomi peternak.
Sementara itu, pengawasan sapi yang masuk ke Kota Denpasar kini diperketat. Hal ini berkaitan dengan temuan LSD di Jembrana.
Apalagi, kebanyakan sapi yang dipotong di Rumah Potong Hewan (RPH) berasal dari luar Denpasar.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Distan Kota Denpasar, Drh. Ni Made Suparmi mengatakan, sapi tersebut berasal dari Pasar Beringkit, Tabanan, Karangasem dan Bangli.
“Pengawasan kita lakukan di RPH, karena sapinya banyak dari luar luar Denpasar,” katanya.
Suparmi menambahkan, sampai saat ini tak ditemukan kasus LSD di Denpasar. Meski begitu, pengawasan dan upaya pencegahan telah dilakukan Denpasar. Salah satunya dengan melakukan biosekuriti pada kandang dan vektor atau pembawa virus.
“Kami juga tetap mengimbau peternak menjaga imunitas ternak dengan pemberian pakan dan minum yang cukup,” paparnya.
Dinas Pertanian melakukan pelayanan kesehatan dan pemberian desinfektan sekaligus KIE terkait antisipasi penyebaran Penyakit LSD pada kelompok ternak.
“Kami memberikan injeksi vitamin dan pemberian bantuan desinfektan dan obat ektoparasit,” paparnya.
Kasus LSD pada sapi ditandai dengan adanya banyak benjolan pada kulit sapi dan apabila sudah masuk stadium tinggi bisa menyebabkan kematian.
Diharapkan masyarakat yang mau membeli bibit sapi agar teliti mengecek asal usul sapi yang akan dibeli dan sebisa mungkin tidak membeli sapi dari luar Denpasar.
Sedangkan untuk populasi ternak sapi di Kota Denpasar saat ini sebanyak 1700 ekor.
Populasi tersebut tersebar di enam kelompok ternak sapi yakni Kelompok Ternak Sedana Sari di Denpasar Barat, kelompok ternak Sartwa Wiguna dan Gotong Royong di Denpasar Utara, kelompok ternak Lunas Lanus dan Sedana Bhakti Pertiwi di Denpasar Timur.
Juga ada kelompok ternak sapi Bali Lestari di Denpasar Selatan.
Apa itu Penyakit LSD?
Lumpy Skin Disease (LSD) adalah penyakit virus yang menyerang sapi dan kerbau, disebabkan oleh Lumpy Skin Disease Virus (LSDV) dari kelompok Capripoxvirus. Penyakit ini bukan penyakit baru, tetapi penyebarannya meningkat dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia dan Asia.
Gejala Penyakit LSD pada Hewan (Sapi/Kerbau)
1. Gejala Awal
• Demam tinggi (bisa mencapai 40–41°C)
• Lesu, nafsu makan menurun
• Penurunan produksi susu secara drastis
• Pembengkakan kelenjar getah bening
2. Gejala Khas
• Benjolan keras (nodul) di kulit
Ukuran bervariasi, bisa sebesar kelereng hingga telur
• Benjolan muncul di:
• Kepala
• Leher
• Kaki
• Ambing
• Ekor dan punggung
• Nodul bisa:
• Pecah
• Terinfeksi bakteri sekunder
• Menyebabkan luka terbuka
3. Gejala Lanjutan / Berat
• Pincang karena luka di kaki
• Infeksi sekunder
• Penurunan berat badan ekstrem
• Kemandulan sementara
• Kematian (terutama pada pedet atau sapi lemah)
Cara Penularan LSD
• Melalui serangga penghisap darah:
• Lalat
• Nyamuk
• Caplak
• Kontak langsung antar hewan (lebih jarang)
• Peralatan kandang yang terkontaminasi (*)